Sampling


Sampling adalah cara atau teknik yang dipergunakan untuk mengambil sampel.
Pada dasarnya ada dua cara pengambilan sampel yakni:
a. Random Sampling.
b. Nonrandom Sampling.

Kesalahan Dalam Penelitian


Tidak dapat disangkal bahwa pada setiap penelitian hendaknya terhindar dari segala macam kesalahan/kekeliruan. Apabila bahannya terdapat kesalahan berarti kesimpulan yang ditarik dari
bahan-bahan tersebut juga salah.
Macam-macam kesalahan yang biasa dikenal pada waktu mengadakan penelitian dapat dibedakan menjadi dua yakni kesalahan non-samping dan kesalahan sampling.

1. Kesalahan Nonsampling
Kesalahan nonsampling dapat timbul pada hampir setiap penelitian, apakah penelitian itu dilakukan berdasarkan sensus  ataukah sampel survei.
Sebab-sebab timbulnya kesalahan ini antara lain misalnya:

a. Populasi yang tidak jelas
Sebelum penelitian dilakukan definisikan populasi nya secara hati-hati. Usahakan jangan sampai melakukan penelitian terhadap populasi yang tidak semestinya.

Sebagai contoh misalnya seorang pengusaha bermaksud mempelajari soal selera penduduk di sebuah kota. Apabila dalam hal ini si pengusaha telah menggunakan orang-orang yang terdapat dalam "buku petunjuk telepon" sebagai dasar penelitian, maka kesalahan nonsampling telah terjadi. Kesalahan tersebut timbul karena si pengusaha telah mengabaikan orang-orang lain yang tidak terdapat dalam buku petunjuk itu, padahal sebenarnya mereka pun harus dimasukkan sebagai sasaran penelitian.

b. Pertanyaan-pertanyaan tidak tepat
Untuk memperoleh keterangan-keterangan yang lengkap, hendaknya pertanyaan yang diajukan kepada responden (yang dimintai keterangan) dirumuskan sejelas mungkin dan mudah dimengerti. Hindarkanlah hal-hal yang akan mengakibatkan responden tidak memberikan keterangan-keterangan.

Kesalahan ini bisa juga terjadi, apabila orang atau obyek yang akan diselidiki itu tidak berhasil ditemui atau diperoleh.
c. Adanya ketidak tepatan atau ketidakjelasan dalam definisi-definisi variabel, kriteria. Kriteria, atau dalam pemakaian satuan-satuan ukuran.

d. Kesalahan lainnya
Misalnya kesalahan dalam pengolahan dan penerbitan seperti salah menghitung, salah ketik, salah cetak dan sebagainya.

Kesalahan Sampling
Pada umumnya kesalahan ini sering terjadi pada waktu menelaah sampel yang akan dipakai sebagai dasar untuk membuat kesimpulan mengenai populasi dari mana sampel itu diambil.

Penelitian yang dilakukan terhadap sampel yang diambil dari suatu populasi dan penelitian terhadap populasi itu jelas akan berbeda hasilnya. Perbedaan hasil penelitian inilah yang dinamakan kesalahan sampling.

Penyimpangan-penyimpangan karena penggunaan sampel (kesalahan sampling) bersama-sama dengan penyimpangan bukan karena penggunaan sampel (kesalahan nonsampling). merupakan penyimpangan total yang mungkin terdapat dalam suatu penelitian. Penyimpangan-penyimpangan tersebut harus diperkecil. Kesalahan sampling dapat diperkecil dengan pemakaian metode pengambilan sampel yang tepat, sedangkan kesalahan nonsampling dapat diperkecil dengan perencanaan dam pelaksanaan penelitian yang hati-hati dan teliti.


Konsep Strategi : Definisi, Perumusan, Tingkatan dan Jenis Strategi


Pengertian Strategi

Definisi strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi bisnis bisa berupa perluasan geografis, diversifikasi, akusisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, rasionalisasi karyawan, divestasi, likuidasi dan joint venture (David, p.15, 2004).
Pengertian strategi adalah Rencana yang disatukan, luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Glueck dan Jauch, p.9, 1989).
Pengertian strategi secara umum dan khusus sebagai berikut:
1. Pengertian Umum
Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.
2. Pengertian khusus
Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies). Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang dilakukan.

Perumusan Strategi
Perumusan strategi merupakan proses penyusunan langkah-langkah ke depan yang dimaksudkan untuk membangun visi dan misi organisasi, menetapkan tujuan strategis dan keuangan perusahaan, serta merancang strategi untuk mencapai tujuan tersebut dalam rangka menyediakan customer value terbaik.
Beberapa langkah yang perlu dilakukan perusahaan dalam merumuskan strategi, yaitu:
1. Mengidentifikasi lingkungan yang akan dimasuki oleh perusahaan di masa depan dan menentukan misi perusahaan untuk mencapai visi yang dicita-citakan dalam lingkungan tersebut.
2. Melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal untuk mengukur kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang akan dihadapi oleh perusahaan dalam menjalankan misinya.
3. Merumuskan faktor-faktor ukuran keberhasilan (key success factors) dari strategi-strategi yang dirancang berdasarkan analisis sebelumnya.
4. Menentukan tujuan dan target terukur, mengevaluasi berbagai alternatif strategi dengan mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki dan kondisi eksternal yang dihadapi.
5. Memilih strategi yang paling sesuai untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. (Hariadi, 2005).

Tingkat-tingkat Strategi
Dengan merujuk pada pandangan Dan Schendel dan Charles Hofer, Higgins (1985) menjelaskan adanya empat tingkatan strategi.
Keseluruhannya disebut Master Strategy, yaitu: enterprise strategy, corporate strategy, business strategy dan functional strategy.
a) Enterprise Strategy
Strategi ini berkaitan dengan respons masyarakat. Setiap organisasi mempunyai hubungan dengan masyarakat. Masyarakat adalah kelompok yang berada di luar organisasi yang tidak dapat dikontrol. Di dalam masyarakat yang tidak terkendali itu, ada pemerintah dan berbagai kelompok lain seperti kelompok penekan, kelompok politik dan kelompok sosial lainnya. Jadi dalam strategi enterprise terlihat relasi antara organisasi dan masyarakat luar, sejauh interaksi itu akan dilakukan sehingga dapat menguntungkan organisasi. Strategi itu juga menampakkan bahwa organisasi sungguh-sungguh bekerja dan berusaha untuk memberi pelayanan yang baik terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
b) Corporate Strategy
Strategi ini berkaitan dengan misi organisasi, sehingga sering disebut Grand Strategy yang meliputi bidang yang digeluti oleh suatu organisasi. Pertanyaan apa yang menjadi bisnis atau urusan kita dan bagaimana kita mengendalikan bisnis itu, tidak semata-
mata untuk dijawab oleh organisasi bisnis, tetapi juga oleh setiap organisasi pemerintahan dan organisasi nonprofit. Apakah misi universitas yang utama? Apakah misi yayasan ini, yayasan itu, apakah misi lembaga ini, lembaga itu? Apakah misi utama
direktorat jenderal ini, direktorat jenderal itu? Apakah misi badan ini, badan itu? Begitu seterusnya.
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu sangat penting dan kalau keliru dijawab bisa fatal. Misalnya, kalau jawaban terhadap misi universitas ialah terjun kedalam dunia bisnis agar menjadi kaya maka akibatnya bisa menjadi buruk, baik terhadap anak didiknya, terhadap pemerintah, maupun terhadap bangsa dan negaranya. Bagaimana misi itu dijalankan juga penting. Ini memerlukan keputusan-keputusan stratejik dan perencanaan
stratejik yang selayaknya juga disiapkan oleh setiap organisasi.
c) Business Strategy
Strategi pada tingkat ini menjabarkan bagaimana merebut pasaran di tengah masyarakat. Bagaimana menempatkan organisasi di hati para penguasa, para pengusaha, para donor dan sebagainya. Semua itu dimaksudkan untuk dapat memperoleh keuntungan-keuntungan
stratejik yang sekaligus mampu menunjang berkembangnya organisasi ke tingkat yang lebih baik.
d) Functional Strategy
Strategi ini merupakan strategi pendukung dan untuk menunjang suksesnya strategi lain. Ada tiga jenis strategi functional yaitu:
• Strategi functional ekonomi yaitu mencakup fungsi-fungsi yang memungkinkan organisasi hidup sebagai satu kesatuan ekonomi yang sehat, antara lain yang berkaitan dengan keuangan, pemasaran, sumber daya, penelitian dan pengembangan.
• Strategi functional manajemen, mencakup fungsi-fungsi manajemen yaitu planning, organizing, implementating, controlling, staffing, leading, motivating, communicating,
decision making, representing, dan integrating.
• Strategi isu stratejik, fungsi utamanya ialah mengontrol lingkungan, baik situasi lingkungan yang sudah diketahui maupun situasi yang belum diketahui atau yang selalu berubah (J. Salusu, p 101, 1996).
Tingkat-tingkat strategi itu merupakan kesatuan yang bulat dan menjadi isyarat bagi setiap pengambil keputusan tertinggi bahwa mengelola organisasi tidak boleh dilihat dari sudut kerapian administratif semata, tetapi juga hendaknya memperhitungkan soal
“kesehatan” organisasi dari sudut ekonomi (J. Salusu, p 104, 1996).

Jenis-jenis Strategi
Banyak organisasi menjalankan dua strategi atau lebih secara bersamaan, namun strategi kombinasi dapat sangat beresiko jika dijalankan terlalu jauh. Di perusahaan yang besar dan terdiversifikasi, strategi kombinasi biasanya digunakan ketika divisi-divisi yang
berlainan menjalankan strategi yang berbeda. Juga, organisasi yang berjuang untuk tetap hidup mungkin menggunakan gabungan dari sejumlah strategi defensif, seperti divestasi, likuidasi, dan rasionalisasi biaya secara bersamaan.

Jenis-jenis strategi adalah sebagai berikut:
1. Strategi Integrasi
Integrasi ke depan, integrasi ke belakang, integrasi horizontal kadang semuanya disebut sebagai integrasi vertikal. Strategi integrasi vertikal memungkinkan perusahaan dapat mengendalikan para distributor, pemasok, dan / atau pesaing.
2. Strategi Intensif
Penetrasi pasar, dan pengembangan produk kadang disebut sebagai strategi intensif
karena semuanya memerlukan usaha-usaha intensif jika posisi persaingan perusahaan dengan produk yang ada hendak ditingkatkan.
3. Strategi Diversifikasi
Terdapat tiga jenis strategi diversifikasi, yaitu diversifikasi konsentrik, horizontal, dan konglomerat. Menambah produk atau jasa baru, namun masih terkait biasanya disebut diversifikasi konsentrik. Menambah produk atau jasa baru yang tidak terkait untuk pelanggan yang sudah ada disebut diversifikasi horizontal. Menambah produk atau jasa baru yang tidak disebut diversifikasi konglomerat.
4. Strategi Defensif
Disamping strategi integrative, intensif, dan diversifikasi, organisasi juga dapat menjalankan strategi rasionalisasi biaya, divestasi, atau likuidasi.
Rasionalisasi Biaya, terjadi ketika suatu organisasi melakukan restrukturisasi melalui penghematan biaya dan aset untuk meningkatkan kembali penjualan dan laba yang sedang
menurun. Kadang disebut sebagai strategi berbalik (turnaround) atau reorganisasi, rasionalisasi biaya dirancang untuk memperkuat kompetensi pembeda dasar organisasi. Selama proses rasionalisasi biaya, perencana strategi bekerja dengan sumber daya terbatas dan menghadapi tekanan dari para pemegang saham, karyawan dan media.
Divestasi adalah menjual suatu divisi atau bagian dari organisasi. Divestasi sering digunakan untuk meningkatkan modal yang selanjutnya akan digunakan untuk akusisi atau investasi strategis lebih lanjut. Divestasi dapat menjadi bagian dari strategi rasionalisasi biaya menyeluruh untuk melepaskan organisasi dari bisnis yang tidak menguntungkan, yang memerlukan modal terlalu besar, atau tidak cocok dengan aktivitas lainnya dalam perusahaan. Likuidasi adalah menjual semua aset sebuah perusahaan secara bertahap sesuai nilai nyata aset tersebut. Likuidasi merupakan pengakuan kekalahan dan akibatnya bisa merupakan strategi yang secara emosional sulit dilakukan. Namun, barangkali lebih baik berhenti beroperasi daripada terus menderita kerugian dalam jumlah besar.
5. Strategi Umum Michael Porter
Menurut Porter, ada tiga landasan strategi yang dapat membantu organisasi memperoleh keunggulan kompetitif, yaitu keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus. Porter menamakan ketiganya strategi umum.
Keunggulan biaya menekankan pada pembuatan produk standar dengan biaya per unit sangat rendah untuk konsumen yang peka terhadap perubahan harga. Diferensiasi adalah strategi dengan tujuan membuat produk dan menyediakan jasa yang dianggap unik di seluruh industri dan ditujukan kepada konsumen yang relatif tidak terlalu peduli terhadap perubahan harga. Fokus berarti membuat produk dan menyediakan jasa yang memenuhi keperluan sejumlah kelompok kecil konsumen.
(David, p.231, 2004)

Statistik Induktif


Statistik induktif (Inferensial) bertujuan untuk mengambil kesimpulan atau menguraikan populasi yang sedang dipelajari, didasarkan hasil penyelidikan sampel. Kesimpulan dibuat berdasarkan penelitian terhadap sebagian dari anggota populasi saja, tetapi akan digunakan untuk menyimpulkan keseluruhan anggota populasi.

Kebanyakan penelitian ilmiah (research) untuk mengambil kesimpulan tentang suatu obyek penyelidikan tidak usah menyelidiki seluruh anggota populasi dengan alasan-alasan sebagai berikut:
  1. Dalam hal jumlah individu yang akan diselidiki bersifat infinite atau tak terbatas jumlahnya atau juga dapat dianggap tak terbatas jumlah-nya, penyelidikan seluruh individu tidak mungkin dilaksanakan.Contoh yang sederhana misalnya dalam melakukan percobaan di bidang pertanian untuk menguji berbagai jenis pupuk, tidak mungkin dilakukan percobaan sebanyak tak terhingga.
  2. Di bidang industri, test yang dilakukan kebanyakan bersifat destruktif (merusak), sehingga tidak mungkin seluruh produk diselidiki. Misalnya penentuan lama hidup bola lampu, lamanya masa pakai ban mobil, dan sebagainya.
  3. Dalam sesuatu hal memang kadang-kadang tak perlu seluruh anggota populasi diteliti, yaitu jika obyek yang diselidiki bersifat homogen. Misalnya untuk menyelidiki keadaan air di suatu kolam renang mengandung bibit penyakit atau tidak, tidak perlu diambil air sebanyak-banyaknya untuk diselidiki, barangkali satu liter saja sudah cukup.
  4. Bila tidak diperlukan ketelitian yang mutlak, atau hasil penelitian segera dibutuhkan, maka penelitian berdasarkan sampel akan bisa menghemat biaya, waktu dan tenaga.
  5. Bila nonsampling error yang besar tak dapat dihindarkan, penelitian sebagian individu mungkin memberikan hasil yang lebih baik daripada penelitian seluruh individu, karena nonsampling error lebih mudah di kontrol dalam ruang yang lebih sempit.
Dengan adanya alasan-alasan tersebut, statistik menyediakan prinsip-prinsip dan cara-cara yang dapat dipergunakan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan, yaitu dengan mengambil sebagian saja dari individu, menyelidiki nya, kemudian menarik kesimpulan dari sebagian individu tersebut untuk seluruh individu. Baca juga statistik deskriptip

Populasi dan Sampling


Populasi (Population)
Population atau Universe adalah jumlah dari keseluruhan obyek (satuan-satuan /individu-individu) yang karakteristik nya hendak diduga. Satuan-satuan/individu-individu ini disebut unit analisa. Unit analisa mungkin merupakan orang, rumah tangga, tanah pertanian, perusahaan dan lain-lain dalam bentuk yang biasa dipakai dalam survei. Mungkin juga merupakan sejumlah kartu punch atau hasil produksi mesin untuk berbagai jenis bentuk analisa. Unit analisa juga sering disebut elemen dari populasi.

Dalam suatu penelitian mungkin sekali unit analisa-nya lebih dari satu, seperti rumah tangga dan orang, tanah pertanian dam luas panenan dalam hektar.

Keterangan-keterangan (karakteristik) yang dikumpulkan dari unit analisa membentuk suatu data statistik.

Sampel (Sample)
Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristik-nya hendak diselidiki, dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi (jumlahnya lebih sedikit daripada jumlah populasi-nya). 

Satuan-satuan yang akan diteliti di dalam sampel dinamakan unit sampel. Unit sampel ini akan dipilih dari kerangka sampel. Unit sampel mungkin sama dengan unit analisa, tetapi mungkin juga tidak. Sebagai contoh misalnya untuk mengumpulkan informasi tentang orang, dapat menggunakan daftar yang lengkap dari sensus dan mengambil sampel langsung dari daftar tersebut. Tetapi mungkin juga memilih rumah tangga sebagai unit sampel dan orang-orang yang berada dalam rumah tangga tersebut sebagai unit analisa. Atau kita dapat memilih bangunan sebagai unit sampel, dan orang-orang yang berdiam dalam bangunan tersebut sebagai unit analisa.

Kerangka Sampel (Sampling Frame)
Keseluruhan unit sampel memb_entuk kerangka sampel dan dari sinilah anggota sampel dipilih. Kerangka sampel mungkin merupakan daftar dari kumpulan orang atau satuan perumahan, catatan dalarn sebuah file, set dari kartu punch, atau mungkin sebuah peta di mana telah digambar unitnya secara jelas.
Di dalam kegiatan survei, populasi-nya terdiri dari semua orang atau semua perusahaan industri, semua usaha-usaha pertanian dan sebagainya dalam sebuah kota atau suatu tempat tertentu. Informasi didapatkan dari sebagian populasi (sampel) tetapi kesimpulan yang dibutuhkan adalah mengenai karakteristik-karakteristik dari seluruh populasi.

Karena kesimpulan dari sampel akhirnya dikenakan pada populasi-nya maka harus ada syarat-syarat tertentu di dalam pemilihan sampel. Syarat utamanya adalah sampel harus menjadi cermin dari populasi, sampel harus mewakili populasi, sampel harus merupakan populasi dalam bentuk kecil (miniature population). Kalau syarat tersebut tidak dipenuhi, kesimpulan mengenai populasi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesimpulannya akan menyimpang (biased conclusion).
Pemilihan metode pengambilan sampel hendaknya mempunyai sifat-sifat seperti (Teken, 1965: 43):
  1. Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti.
  2. Dapat menentukan presisi dari hasil penelitian dengan jalan menentukan penyimpangan standar dari taksiran-taksiran yang diperoleh.
  3. Sederhana sehingga mudah dilaksanakan
  4. Dapat memberikan keterangan yang sebanyak mungkin dengan biaya yang serendah-rendahnya
  5. Merupakan penghematan yang nyata dalam soal waktu, tenaga dan biaya, bila dibandingkan dengan pencacahan lengkap.

Sering timbul pertanyaan, berapa besarnya sampel yang harus diambil. Dalam menentukan besarnya sampel ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu (Teken, 1965: 44 - 45):
  1. Derajat keseragaman dari populasi. Makin seragam populasi itu akan makin kecil sampel yang dapat diambil. Sebaliknya, makin tidak seragam populasi itu makin besar sampel yang harus diambil
  2. Presisi yang dikehendaki dari penelitian. Makin tinggi presisi yang dikehendaki, sampel yang diambil harus makin besar. Sebaliknya kalau penelitian itu dapat mentoleransi-kan tingkat presisi yang lebih rendah, sampel pun kemudian dapat diperkecil.
  3. Biaya, tenaga, dan waktu yang tersedia. Makin besar biaya,tenaga, dan waktu yang tersedia, akan makin besar juga sampel yang diambil. Tingkat presisi yang diperolehnya akan menjadi makin tinggi. Sebaliknya kalau ketiga unsur di atas sangat terbatas jumlahnya, sampel yang diambil pun terpaksa akan sangat terbatas dengan akibat tingkat presisi yang akan diperoleh menjadi rendah

Materialitas dan Konsepnya

MATERIALITAS
Materialitas merupakan dasar penerapan dasar auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan

Konsep MATERIALITAS

Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas suatu pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.

Mengapa Konsep MATERIALITAS Penting dalam Audit atas Laporan keuangan?
Dalam laporan audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan (guarantee) bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat.

Pertimbangan Awal tentang MATERIALITAS

Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan auditnya. Penentuan materialitas ini, yang seringkali disebut dengan materialitas perencanaan, mungkin dapat berbeda dengan tingkat materialitas yang digunakan pada saat pengambilan kesimpulan audit dan dalam mengevaluasi temuan audit karena (1) keadaan yang melingkupi berubah (2) informasi tambahan tentang klien dapat diperoleh selama berlangsungnya audit.

MATERIALITAS pada tingkat Laporan Keuangan

Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. (1) auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan (2) pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit.

MATERIALITAS pada Tingkat Saldo akun

Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada tingkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material.

Alokasi MATERIALITAS laporan Keuangan ke Akun

Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.

Hubungan antara MATERIALITAS dengan bukti audit

Materialitas merupakan satu diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor tentang kecukupan ( kuantitas ) bukti audit. Dalam membuat generalisasi hubungan antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan (hubungan terbalik).

RISIKO AUDIT

Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko audit. Menurut SA Seksi 312 risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit, risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material.

RISIKO Audit Keseluruhan (Overall Audit Risk)

Risiko audit dapat ditaksir secara kuantitatif atau kualitatif. Dalam penentuan risiko audit keseluruhan, auditor juga menyatakan tingkat kepercayaan (level of confidence).

RISIKO Audit Individual

Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara indivual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepada akun-akun yang berkaitan.

Unsur RISIKO Audit

Terdapat tiga unsur risiko audit : (1) Risiko Bawaan, (2 ) Risiko Pengendalian, (3) Risiko Deteksi

Penggunaan Informasi RISIKO Audit

Taksiran risiko audit pada tahap perencanaan audit dapat digunakan oleh auditor untuk menetapkan jumlah bukti audit yang akan diperiksa untuk membuktikan kewajaran penyajian saldo akun tertentu.
Risiko audit individual = risiko bawaan x risiko pengendalian x risiko deteksi

Dari formula tersebut, risiko deteksi dapat dihitung dengan formula berikut ini :

Risiko deteksi = Risiko audit individual

Risiko bawaan x Risiko pengendalian


Hubungan antar Unsur RESIKO

Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Kedua risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri. Risiko deteksi mempunyai hubungan yang terbalik dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian.

Hubungan antara MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, dan BUKTI AUDIT

Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, risiko audit, dan bukti audit digambarkan sebagai berikut :

  1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang di kumpulkan.
  2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
  3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :a. Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan.b. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.c. Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama

STRATEGI AUDIT AWAL
Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam : (1) Pendekatan Terutama Substantif, (2) Pendekatan Risiko Pengendalian Rendah.


Unsur STRATEGI AUDIT AWAL

Dalam mengembangkan strategi audit awal untuk suatu asersi, auditor menetapkan empat unsur berikut ini :
  1. Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.
  2. Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.
  3. Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.
  4. Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah




Statistik Parametrik dan Nonparametrik

Pengambilan kesimpulan mengenai keseluruhan populasi didasarkan data yang ada dari sampel membutuhkan persyaratan-persyaratan atau kondisi-kondisi tertentu.

Dalam statistik induktif/inferensial, kondisi atau persyaratan ini adalah bahwa parameter dari populasinya mengikuti suatu distribusi tertentu (misalnya distribusi normal) dan mempunyai variance  yang homogen. Statistik induktif/inferensial yang memenuhi persyaratan demikian termasuk dalam Statistik Parametrik. Apabila kondisi atau persyaratan itu tidak terpenuhi (biasanya karena jumlah observasinya sedikit atau tipe datanya nominal atau ordinal) dipakailah Statistik  Nonparametrik.

Jadi statistik nonparametrik adalah bagian dari ilmu statistik yang berusaha untuk mengambil suatu kesimpulan mengenai keseluruhan populasi apabila kondisi parameter populasinya tidak memenuhi syarat yakni tidak mengikuti suatu distribusi tertentu (disebut free distribution). Dengan perkataan lain uji statistik non-parametrik adalah uji yang modelnya tidak menetapkan syarat- syarat mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya.

Lebih jelasnya adalah  statistika parametrik adalah ilmu statistika yang mempertimbangkan jenis sebaran/distribusi data, yaitu apakah data menyebar normal atau tidak. Bila memungkinkan dilakukan transformasi agar data mengikuti sebaran normal terlebih dahulu, sehingga bisa dikerjakan dengan statistika parametrik. Contoh metode statistika parametrik: uji-z (1 atau 2 sampel), uji-t (1 atau 2 sampel), korelasi pearson, Perancangan Percobaan (1 or 2-way ANOVA parametrik), dll.

Sedangkan statistika nonparametrik adalah statistika bebas sebaran (tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi, baik normal atau tidak). Statistika nonparametrik biasanya digunakan untuk melakukan analisis pada data berjenis Nominal atau Ordinal. Data berjenis Nominal dan Ordinal tidak menyebar normal. Contoh metode Statistika non-parametrik:Binomial test, Chi-square test, Median test, Friedman Test, dll.




Statistik Deskriptif dan Induktif

Pada umumnya ada dua macam bidang statistik yakni Statistik Deskriptif (Descriptive Statistics) dan Statistik Induktif/Inferensial (Inductive Statistics).

Statistik deskriptif adalah bidang ilmu pengetahuan statistik yang mempelajari tata cara penyusunan dan penyajian data yang dikumpulkan dalam suatu penelitian, misalnya dalam bentuk tabel frekuensi atau grafik, dan selanjutnya dilakukan pengukuran nilai-nilai statistiknya seperti arithmetic mean dan standard deviation. Sedang statistik induktif/inferensial adalah bidang ilmu pengetahuan statistik yang mempelajari tata cara penarikan kesimpulan mengenai keseluruhan populasi berdasarkan data yang ada dalam suatu bagian dari populasi tersebut (disebut sampel). Di dalamnya adalah ‘berisi estimasi, uji hipotesis, prediksi, dan perhitungan derajat asosiasi antara variabel—variabel.

Jadi pada hakikatnya statistik adalah suatu kerangka teori-teori dan metode-metode yang telah dikembangkan untuk melakukan pengumpulan, penganalisaan, dan pelukisan data sampel guna memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang bermanfaat. Fungsi utamanya adalah membantu peneliti untuk membuat keputusan-keputusan relatif tentang parameter populasi dari mana data sampel diambil (Chao, 1974: 5).

Pengertian dua macam statistik tersebut menunjukkan bahwa ruang lingkup statistik induktif/ inferensial lebih luas daripada statistik deskriptif. Penarikan kesimpulan yang dilakukan pada statistik induktif/inferensial merupakan generalisasi dari suatu populasi berdasarkan data sampel. Sedangkan penarikan kesimpulan-(kalaupun ada) pada statistik deskriptif hanya ditujukan pada kumpulan data yang ada, bukan untuk tujuan generalisasi. Sesuai dengan ruang lingkup yang dimilikinya, analisis statistik deskriptif akan meliputi.
  1. Distribusi frekuensi serta pengukuran nilai-nilai statistiknya (seperti pengukuran nilai sentral, dispersi,  skewness, dan kurto-sis) dan grafiknya (seperti histogram, frequency polygon, dan ogive).
  2. Angka indeks.
  3. Time series atau deret waktu.
  4. Koefisien regresi dan koefisien korelasi sederhana.

Sedang statistik induktif/inferensial akan mencakup:
  1.        Probabilitas.
  2.        Distribusi teoritis.
  3.       Sampling dan distribusi sampling.
  4.       Estimasi harga parameter.
  5.        Uji hipotesis, termasuk uji chi-square dan analisis variance.
  6.       Analisis regresi untuk prediksi.
  7.       Korelasi dan uji signifikansi.
S    Selanjutnya statistik induktif terbagi lagi menjadi dua yaitu statistik parametrik dan non parametrik. Seperti namanya parametrik mengikuti parameter parameter tertentu sedang non parametrik tidak.



Paradigma Transaksi Syariah


Hal yang membedakan kerangka akuntansi syariah dengan kerangka dasar yang lain adalah bahwa kerangka dasar syariah ini sangat eksplisit mendudukkan paradigma syariah sebagai pondasi utama dalam mengembangkan kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan syariah. Kerangka dasar lain yang disusun oleh IAI tidak secara eksplisit mencantumkan paradigma nya, demikian juga Conceptual Framework yang disusun oleh FASB, disana tidak ditemukan adanya paradigma yang eksplisit. Jadi, dengan paradigma ini maka kebenaran hakiki yang datangnya dari yang Maha Benar, Allah SWT, telah ditempatkan pada posisi yang tepat dalam mengembangkan kerangka dasar maupun PSAK syariah yang terkait.

IAI (2007) menetapkan, transaksi syariah berlandaskan paradigma bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan sebagai amanah (kepercayaan ilahi) dan sarana kebahagiaan hidup, bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kesejahteraan hakiki secara material dan spiritual (al-falah). Paradigma dasar ini menekankan setiap aktivitas umat manusia memiliki akuntabilitas dan nilai ilahiah yang menempatkan perangkat syariah dan akhlak sebagai parameter haik dan buruk, benar dan salahnya aktivitas usaha. Paradigma ini diyakini akan membentuk integritas yang membantu terbentuknya karakter tata kelola yang baik (good governance) dan disiplin pasar (market discipline) yang baik.

Lebih lanjut dijelaskan (IAI, 2007), Syariah merupakan ketentuan hukum Islam yang mengatur aktivitas hidup manusia yang berisi perintah dan larangan, baik yang menyangkut hubungan interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horizontal dengan sesama manusia. Prinsip syariah yang berlaku umum dalam kegiatan muamalah (transaksi syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan stakeholder entitas yang melakukan transaksi syariah. Akhlak merupakan norma dan etika yang berisi nilai-nilai moral dalam interaksi sesama manusia agar hubungan tersebut menjadi saling menguntungkan, sinergis dan harmonis.