Perolehan Aset Tetap Dengan Pertukaran dan Kredit

Perolehan Aset Tetap


Perolehan Aktiva Tetap - Setelah sebelumnya saya memposting tentang Perolehan Aset Tetap yang diperoleh dari pembelian secara tunai, kali ini saya akan memposting mengenai perolehan aset tetap yang diperoleh dengan cara lain. kita tahu, dalam memperoleh aset tetap, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan, seperti Dibeli secara Tunai, dicicil (kontrak jangka panjang), pertukaran, dibangun sendiri maupun dengan saham. untuk contoh dan penjelasan secara pembelian tunai, silahkan bisa di baca di: Perolehan Aset Tetap Secara Pembelian Tunai

perolehan aset tetap
Perolehan Aktiva Tetap

Aset Tetap Diperoleh dari Pembelian Kredit


Dalam perolehan aktiva tetap dengan membelinya secara kredit (pembayarannya secara cicilan), maka tidak perlu adanya pengeluaran kas sekaligus, tetapi kas dikeluarkan secara bertahap sesuai deal kesepakatan bersama kredito. selain itu dengan transaksi pembelian aset secara kredit ini akan menimbulkan bunga yang harus dibayar.

Aktiva tetap yang diperoleh dengan pembelian angsuran, dalam menentukan harga perolehannya tidak termasuk bunga didalamnya. Bunga yang timbul dibebankan pada saldo yang belum dibayar atas kontrak dicatat sebagai biaya.

Contoh :
Pada tanggal 2 januari 2014 PT. Foraz membeli sebuah gedung dengan cara mencicil seharga Rp. 100.000.000 dengan uang muka Rp. 25.000.000 sisanya diangsur setiap akhir tahun selama tiga tahun dengan bunga 5% per tahun.

Jurnal 2 Januari 2014

Debit | Building Rp100.000.000
Kredit | Cash Rp25.000.000
Kredit | Contract Payable Rp75.000.000


Jurnal 31 Desember 2014

Debit | Contract Payable * Rp25.000.000
Debit | Interest Expense ** Rp3.750.000
Kredit | Cash Rp28.750.000

Notes :
*     Contract Payable (utang) Rp 75.000.000 dibagi 3 tahun = Rp 25.000.000
 **  Bunga 5% dari Saldo utang kontrak: 5% x Rp 75.000.000 = Rp 3.750.000


Jurnal 31 Desember 2015

Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
Debit | Interest Expense  Rp2.500.000
Kredit | Cash Rp27.500.000


Jurnal 31 Desember 2016

Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
Debit | Interest Expense  Rp1.250.000
Kredit | Cash Rp26.250.000


#Pertanyaan

Mengapa bunga tidak dimasukkan harga perolehan aset tetap berwujud?
Bukankah Aset tetap di akui sebesar harga perolehan yang merupakan harga dari barang ditambah semua biaya biaya yang diakibatkan dari transaksi aset tetap hingga aset tersebut siap digunakan/beroperasi? hal ini lebih baik dibahas pada lain kesempatan saja. :)

Aset Tetap Diperoleh dengan Pertukaran


Pertukaran aset tetap dengan pertukaran maksudnya ialah aset tetap yang telah dimiliki ditukar dengan aset yang dimiliki oleh entitas/orang lain. ada beberapa masalah yang bisa  muncul dalam penentuan nilai-nya. ini disebabkan berbagai kondisi atas pertukaran aset yang terjadi, dan ini dia beberapa hal/kondisi yang patut diperhatikan:
  1. Apakah pertukaran aset sejenis atau tidak sejenis
  2. Apakah diketahui harga pasar asetnya atau tidak diketahui
  3. Apakah disertai dengan arus kas atau tidak disertai arus kas
Ada beberapa kemungkinan kombinasi yang terjadi atas pertukaran aset tetap diatas, juga bagaimana perlakuan dalam akuntansinya:
  • Harga pasar aktiva tetap diketahui dan tidak disertai dengan arus kas
Aset tetap yang diperoleh dicatat sebesar harga pasar aset tetap dan mempunyai bukti transaksi yang memadai. Apabila kedua aset keabsahan buktinya sama sama kuat, maka yang dicatat dan diakui adalah harga pasar aset yang diserahkan, akan tetapi apabila aset yang diterima mempunyai bukti transaksi yang lebih lengkap dan lebih handal keabsahannya maka aset tetap perolehannya diakui sebesar aset yang diterima.
  • Harga pasar aset tidak diketahui baik sejenis ataupun beda jenis
Perolehan aset diakui sebesar nilai buku aset tetap yang dikeluarkan. akumulasi penyusutan aset tetap yang dikeluarkan/diserahkan perlu dihapus dalam kasus ini.
  • Aset Tetap tidak sejenis, harga pasarn aset diketahui, ada/disertai arus kas
Apabila disertai arus kas, ada dua kemungkinan:
  • Arus kas masuk, artinya ada laba dari pertukaran aset tetap, diakui laba pertukaran
  • Arus kas keluar, artinya ada rugi dari pertukaran aset, diakui rugi pertukaran 
  • Aset yang ditukar sejenis, Harga pasar aset diketahui,disertai arus kas
- Inddikasi rugi, maka rugi pertukaran diakui
- indikasi laba, maka jangan diakui sebagai laba

Contoh Pertukaran Aset Tetap :

            PT. Foraz menukarkan kendaraannya dengan sebuah mesin. Harga Perolehan Kendaraan Rp. 100.000.000, Akumulasi penyusutan pada saat penukaran adalah Rp. 20.000.000, Harga Mesin Rp. 45.000.000, dalam pertukaran tersebut perusahaan menambah uang sebesar Rp. 5.000.000


Perhitungan :

- Harga Perolehan Mobil Rp100.000.000
- Akumulasi Penyusutan (Rp20.000.000)
- Nilai Buku Rp80.000.000
- Harga Perolehan Mesin Rp90.000.000
- Pembayaran (Rp5.000.000)
- Harga Pasar Mobil Rp85.000.000
- Laba Pertukaran Rp5.000.000


Jurnal :

Debit | Machine Rp90.000.000
Debit | Accumulation Depreciation Rp20.000.000
Kredit | Automobile Rp100.000.000
Kredit | Cash Rp5.000.000
Kredit | Gain on Exchange of Plants Assets Rp5.000.000


#Pertanyaan

Ada laba dan rugi dalam pertukaran, dan langsung di akui dalam laporan keuangan. Masih ingat tentang perolehan aset tetap secara gabungan/lumpsum? silahkan baca [disini] lebih jelasnya. disana jika ada selisih, maka selisih itu di distribusikan kepada aset tetap yang diperoleh, tidak dimasukkan atau dikapitalisasi ke dalam aset tetap. sedangkan di sini, kita lihat langsung di akui laba atau rugi jika ada selisih, padahal judulnya sama, "Perolehan Aset Tetap"! perkara itu karena caranya yang berbeda, katakanlah, yang satu dibeli secara tunai, yang satu dengan ditukar, tapi benang merahnya sama, ada aset yang dikeluarkan untuk memperoleh aset yang baru. dan kenapa jika ada selisih, perlakuannya berbeda?

Nah ini juga keanehan dalam metode ini, saya juga bertanya logikanya darimana. next posting jika ada waktu ingin sekali saya bahas. mungkin ada yang bisa bantu menjelaskan?

Baiklah, untuk saat ini sekian dulu mengenai perolehan aset tetap masih ada lagi cara perolehan dengan metode lain, Silahkan anda baca Perolehan Aktiva Dibangun Sendiri dan Perolehan Aktiva melalui Surat Berharga (saham atau obligasi)


Teknik Analisis Data untuk Fraud Detection

Definisi

Teknik analisis data untuk mendeteksi penipuan mengacu pada teknik yang menggunakan  statistik dan kecerdasan buatan untuk mendeteksi penipuan dalam perusahaan. Penipuan didefinisikan sebagai tindakan yang disengaja oleh seorang individu atau lebih mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, dan merugikan orang lain dan organisasi. Setiap tahun, jumlah kasus penipuan meningkat dan ini mungkin disebabkan perkembangan teknologi.

Ikhtisar

Untuk mendeteksi kecurangan, tehnik analisis data tradisional  telah digunakan untuk waktu yang lama. Teknik ini membutuhkan waktu dan investigasi kompleks dan berurusan dengan berbagai bidang pengetahuan seperti ekonomi, hukum, keuangan dan bisnis.

Perolehan Aset Tetap

Perolehan Aktiva Tetap


Banyak macam cara dalam proses perolehan aset tetap, nanti saya akan posting satu satu contoh kasusnya, diantaranya
  • Dibeli secara tunai 
  • Dibeli dengan cara mencicil
  • Pertukaran
  • Dibangun sendiri
  • Dibeli dengan saham
Pada konsep dasarnya, perolehan aset tetap diakui sebesar HARGA PEROLEHAN, apa itu harga perolehan? harga perolehan adalah semua biaya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap tersebut mulai dari biaya pembelian hingga semua biaya biaya yang timbul hingga aset tetap tersebut siap beroperasi.
jadi rumusnya:

harga beli + semua biaya yang timbul dari proses pembelian hingga siap operasi


perolehan aset tetap
Perolehan Aktiva Tetap

Aset Tetap Dibeli Tunai



Aset tetap yang diperoleh dengan dibeli secara tunai dicatat sebesar nominal yang dibayarkan, yang terdiri atas harga beli aset tetap termasuk juga didalamnya bea impor dan PPN  masukan ditambah semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap tersebut seperti beban angkut, biaya pasang, ongkos balik nama, beban bongkar muat, juga biaya seperti membayar profesional yang dibutuhkan. Dan jika dalam pembelian tunai aset tetap terdiri dari berbagai macam aset tetap, maka harga pokok masing masing aset tersebut ditetapkan berdasar harga pasar relatif, jika harga pasar relatif tidak diketahui, alokasi harga perolehan aset bisa dilakukan berdasar surat bukti dari suatu entitas/lembaga independen misalnya pajak.

Contoh Soal

PT Blimbing yang beroperasi di  Kota Malang membeli sebuah mesin dari perusahaan supplier di Surabaya seharga Rp 1000, Pph 22 sebesar 7.5% PT Blimbing, mesin dikirim via kurir yang ditunjuk, ongkos kirim dari Surabaya ke Malang sebesar Rp 100, dan instalasi pemasangan mesin memakan biaya Rp 50, dan asuransi pengiriman sebesar Rp 15

Bagaimanakan perlakuan akuntansi atas pembelian mesin tersebut?

* Penilaian Aset:

Jika di uraikan, semua pengeluaran untuk memperoleh mesin tersebut adalah sebagai berikut :

Pembelian 1000
Pph 22 75
Ongkos Kirim 100
Asuransi 15
Biaya Instalasi    50
1240

Total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 1.240 merupakan harga perolehan atas mesin tersebut

* Pengakuan Aset (pencatatan)

Pencatatan wajar:

Debit | Aktiva Tetap Mesin Rp1.240
Kredit | Kas Rp1.240

Pencatatan tidak wajar:

Debit | Aktiva Tetap Mesin 1000
Debit | Pph 22 75
Debit | Ongkos Kirim 100
Debit | Asuransi 15
Debit | Biaya Instalasi 50
Kredit | Kas 1240


Pertanyaannya: Apa alasan mengapa pada penjurnalan yang pertama dikatakan wajar sedangkan penjurnalan kedua  tidak wajar ? Ini dikarenakan, hendaknya pengeluaran/biaya yang dikeluarkan diakui saat periode dimana manfaat atas pengeluaran tersebut akan didapat/diperoleh.

Dalam contoh tadi, apabila dilakukan penjurnalan seperti yang kedua, maka ketika penutupan buku akan terlihat beban yang sangat tinggi, ataupun bahkan mungkin PT. Blimbing terlihat seperti mengalami Rugi yang sangat besar karena pembebanan biaya kirim dan biaya instalasi secara bersamaan. Sementara itu aset tetap mesin yang diperoleh masih belum menghasilkan produk (output), atau masih tidak memberikan manfaat dan pada periode berikutnya laba akan nampak tinggi karena biaya yang diakui saat pembelian mesin yang sudah dimanfaatkan tidak ada karena sudah diakui saat periode pembelian..

Pencatatan menjadi wajar jika semua biaya biaya yang dikeluarkan tadi dikapitalisi atau diakui sebagai harga perolehan mesin lalu kemudian pembebanannya dialokasikan secara bertahap pada periode berikutnya, periode dimana manfaat aset tetap mesin tersebut dirasakan.

Pembelian Aset Tetap secara Gabungan (Lumpsum)


Apabila aset tetap yang dibeli secara gabungan, atau lebih dari satu jenis aset tetap, harga perolehannya dialokasikan atau dibagi kepada masing masing aset tersebut. pengalokasian harga perolehan gabungan berdasar pada perbandingan nilai wajar pada tiap aset yang bersangkutan.

Contoh :
Suatu tanah, bangunan dan peralatan diperoleh dengan harga Rp.8000, menurut taksiran fiskus, harga masing-masing aktiva tersebut adalah : Tanah Rp. 3.100, bangunan Rp. 2.500 dan peralatan Rp. 1.500 maka untuk menentukan harga perolehan masing-masing aktiva tersebut adalah :

perolehan aset tetap
Perolehan Aset Tetap

Dan jurnalnya sebagai berikut:

Debit | Land 3.500
Debit | Building 2.800
Debit | Equipment 1.700
Credit | Cash 8.000

Aset yang di catat adalah harga perolehan bukan taksiran dari fiskus, tapi setelah ditambahi pembagian selisih harga beli secara keseluruhan yang sudah didistribusikan.

Sementara begini dulu posting tentang Perolehan Aset Tetap, untuk perolehan aset tetap 

Baca juga perolehan aset tetap:


Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap (aktiva tetap)


Penjelasan umum mengenai aktiva tetap atau yang juga dikenal dengan sebutan Aset Tetap berwujud silahkan baca di postingan pengertian Aset Tetap

Secara umum, Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap dibagi kedalam beberapa fase
  1. Fase Perolehan Aset Tetap
  2. Fase Penggunaan Aset Tetap
  3. Fase Penarikan Aset Tetap
akuntansi aset tetap
Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Perolehan Aktiva Tetap 


Fase perolehan aktiva tetap adalah fase dimana aset tetap diperoleh hingga aset tetap tersebut dapat digunakan atau berfungsi. Permasalahan yang timbul pada fase ini meliputi:
Perolehan Aktiva Tetap (Acquisition)
Pemasangan Aktiva Tetap (Installation)
Juga meliputi: Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas perolehan aset tetap.

Penggunaan Aset Tetap 


Fase dimana saat aset tetap sudah dan sedang dioperasikan, biasanya permasalahan yang timbul pada fase ini antara lain :
  • Pengeluaran (Expenditure)
  • Penyusutan & Amortisasi
  • Penilaian Kembali (Revaluation)

Penarikan Aktiva Tetap | Retirement of Plant Assets


Pada penarikan aktiva tetap ini, pembahasan bisa dibagi menjadi :
  • Penjualan Aset Tetap 
  • Penukaran Aset Tetap
  • Laba-Rugi Penarikan Aset Tetap
Beserta : Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas penarikan aset tetap.

Perlakuan Aset tetap juga menyenggol hal hal dibawah ini, kalau sempat nanti juga diposting
  • Audit dan Rasio Aktiva Tetap
  • Penilaian Investasi atas Aktiva Tetap
  • Sekilas mengenai Aktiva Tetap Sumber Daya Alam
Kejadian kejadian khusus juga menarik untuk dibahas nantinya seperti aset yang tercuri atau aset terbakar, perlakuannya bagaimana?

Sejauh ini, saya rasa cukup begini dulu gambaran perlakuan akuntansi aset tetap masing masing pos nanti akan diposting pelan pelan ya.. semoga bermanfaat


Amortisasi Goodwill, Perlukah?

Perlukah Amortisasi Goodwill?


Sebenarnya postingan kali ini adalah saya ingin bertanya saja, mencoba mengeluarkan unek - unek tentang Amortisasi Goodwill, atau penyusutan aset tak berwujud.

Dulu, (tidak tau sekarang aturannya seperti apa) amortisasi goodwill ini ramai diperdebatkan, apakah perlu diterapkan atau tidak, di luar, IFRS maupun IAS memutuskan untuk tidak membolehkan penerapan amortisasi goodwill dan menggantinya dengan  impairment (revaluasi goodwill) dan indonesia masih memakai perlakuan AMORTISASI untuk goodwill dengan menggunakan metode garis lurus.
amortisasi goodwill
Amortisasi Goodwill
Goodwill merupakan aset tak berwujud yang paling lain, paling tidak memiliki wujud, goodwill hanya akan terjadi apabila ada transaksi strategis semisal akuisisi atau merger dengan perusahaan lain. goodwill merupkan aset tak berwujud yang sulit untuk diukur secara handal. manfaatnya ada di masa mendatang, seperti "nama besar", tingkat ke-strategis-an produk atau perusahaan, kedekatan dengan konsumen, dan yang lainnya. kita tak bisa membandingkan sepatu hasil produksi pengrajin di Tanggulangin - Sidoarjo dengan sepatu merk nike maupun adidas, mereka sudah punya nama, mereka dengan bahan, kualitas dan tipe yang sama bisa jauh lebih mahal, dan lebih mendatangkan keuntungan dikarenakan "brand" atau nama besar mereka. brand atau  nama besar tersebut sudah barang tentu menjadi aset yang bernilai bagi nike ataupun adidas, yang sulit untuk di ukur, ataupun dinilai dalam akuntansi. karena tak berwujud dan tak ada patokan harga "brand" hari ini, karena manfaatnya di masa mendatang.

Amortisasi goodwill, perlukah?

Perlakuan goodwill yang di amortisasi sekian tahun, katakanlah 10 tahun. menunjukkan bahwa goodwill merupakan beban suatu perusahaan yang disusutkan atau diakui tiap tahun hingga 10 tahun. artinya, goodwill = beban. lebih tepatnya beban yang di kapitalisasi dan beban tersebut dialokasikan setiap periode selama "prediksi" manajemen sampaikapan manfaatnya berakhir

Benarkah goodwill adalah beban?

Ditentukan dengan apa sehingga di dapat jangka waktu 10 tahun?
Dan mengapa harus disusutkan? kenapa tidak diakui sebagai beban sekaligus saat tahun diperolehnya goodwill? mengapa harus diamortisasi secara "cicilan" sekian tahun?

Itu menjadi pertanyaan saya, saya cari jawabannya ternyata bikin pusing dan masih belum "ngeh" juga.

Selama ini,goodwill diperlakukan sebagai beban perusahaan. beban yang dikapitalisasi dan disusutkan sekian tahun, dialokasikan diperiode periode mendatang agar "tak mengganggu" laporan laba rugi saat goodwill diperoleh, karena nilainya yang cukup material dan diprediksi memiliki manfaat di masa datang, namun sayangnya dalam goodwill tak ada satupun yang tahu sampai kapan manfaat itu akan terus diterima oleh perusahaan. ini berbeda dengan perusahaan membeli gedung, secara teknis dan handal bisa diperkirakan (prediksi) umur ekonomisnya oleh beberapa ahli.

Konsep goodwill yang di amortisasi sekian tahun, estimasi manfaat goodwill yang habis sekian tahun menjadi tidak relevan. goodwill tidak bisa ditentukan berdasarkan "feeling" seorang manajemen kapan goodwill akan habis manfaatnya. kita tak bisa pernah tahu kapan brand nike ataupun adidas akan hancur. kapan kedua merek tersebut akan menjadi bukan merek apa-apa layaknya produk sepatu tanggulangin.

Apabila mengacu amortisasi goodwill selama 10 tahun, maka seolah olah setelah 10 tahun, goodwill sudah tak ada manfaatnya lagi, brand sepatu nike dan adidas sudah tak berarti lagi, sama seperti sepatu produk tanggulangin sidoarjo. tentu ini sulit untuk diterima dan tak bisa diandalkan sebagai informasi.

Goodwill sangat susah diukur nilainya, sampai kapan berakhir manfaatnya, seperti apa bentuknya.

Semisal saya jika ingin membuka usaha, dan saya membeli perusahaan teman saya yang asetnya berupa ruko seharga Rp 50 dan mobil seharga Rp 20, dan saya deal dan membeli perusahaannya perusahaannya dengan harga Rp 100, maka ada selisih 30, apakah saya cukup bodoh karena membeli lebih mahal Rp 30?

Apakah saya rugi? mungkin saya rugi secara angka angka, karena saya keluar duit Rp 100 tapi dapat aset cuma Rp 80. Namun saya punya alasan tersendiri, saya yakin, untuk kedepannya, melihat strategisnya ruko, dan brand usaha temen saya sebelumnya itu mapan dan sudah dikenal khalayak serta memiliki base konsumen yang sudah setia, akan menguntukan bagi saya, banyak manfaat yang akan saya peroleh nantinya yang tidak dapat saya rasakan saat ini.

Lalu perlakuan akuntansi untuk selisih uang Rp 30 itu bagaimana? 
saya tidak bisa meng-amortisasi, karena tidak ada batas waktu manfaat atas goodwill tersebut, saya tidak mungkin tahu sampai kapan manfaat goodwill itu akan habis. 

Saya juga tak bisa membebankan selisih tersebut ke laba rugi operasional karena memang bukan operasional perusahaan.

Impairment? sepertinya tidak, bagaimana revaluasinya dan apakah hasilnya akan sesuai kondisi riil lapangan? pembahasan ini akan panjang. lalu bagaimana? saya pribadi lebih prefer memasukkannya ke dalam neraca, dalam akun tersendiri misal katakanlah selisih pembelian PT. A atau Selisih Akuisisi dengan catatan khusus.

Jurnalnya kira kira begini :

Debit | Ruko 50
Debit | Mobil 20
Debit | Goodwill 30
Kredit | Kas 100


Lalu pada akhir tahun :

Debit | Selisih Akuisisi 30
Kredit | Goodwill 30


Atau mungkin bahkan Akun Goodwill ditiadakan :

Debit | Ruko 50
Debit | Mobil 20
Debit | Selisih Akuisis 30
Kredit | Kas 100


Amortisasi Goodwill, perlukah? saya pribadi berpendapat tidak perlu, atau bahkan keberadaan goodwill pun kalau bisa tidak perlu dicatat, mungkin banyak yang tidak setuju, itu sudah pasti, mungkin uneg uneg ini gila, tapi saya memiliki alasan tersendiri, cukup panjang. masih belum sempat ditulis.

Sebenarnya masih ingin dijelaskan detailnya, yang berhubungan dengan amortisasi, impairment, goodwill, namun keterbatasan waktu sementara seperti ini dulu. Mungkin ada pandangan lain mengenai Amortisasi Goodwill ? silahkan berkomentar, saya sangat bersenang hati apabila ada uneg - uneg atau pandangan yang berbeda, karena sejujurnya saya juga ingin tahu lebih lanjut.


Definisi Goodwill Dalam Akuntansi

Pengertian Goodwill


Sudah pernah dengar nama goodwill? goodwill berasal dari bahasa batak, good yang berarti baik dan will yang berarti akan, jadi goodwill adalah berarti "akan baik". itu Definisi Goodwill yang paling dapat diterima ngawurnya.

Goodwill adalah bagian Aset dalam neraca keuangan perusahaan, diklasifikasikan kedalam aset tak berwujud yang muncul pada saat terjadi akuisisi suatu entitas bisnis terhadap entitas bisnis yang lain. timbulnya goodwill ketika pembayaran (pembelian) atas perusahaan lain dengan harga diatas harga pasar aset bersih (nilai buku). selisih yang timbul inilah yang dinamakan Goodwill. dengan kata lain
Goodwill merupakan representasi angka yang lebih besar dari nilai buku yang dibayarkan suatu entitas untuk bisa mendapatkan entitas lain.
definisi goodwill
Pengertian Goodwill
Misalnya Perusahaan A ingin membeli perusahaan B untuk ekspansi usahanya, perusahaan B memiliki total Aset sebesar Rp 1.000, total Liabilitas: Rp 350 dan total Equity Rp 650. perusahaan B jual mahal terhadap perusahaan A karena tau posisi mereka strategis buat perusahaan A, setelah negosiasi yang cukup melelahkan, akhirnya perusahaan B mau di beli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850, dan deal.

Lalu bagaimana? mari kita perhatikan

Harga Beli : 850
Total Aset : 1000
Net Aset : 650

*Net Aset: Total Aset-Total Kewajiban (Hutang)

Total Aset Bersih Perusahaan B adalah Rp 650 namun dibeli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850, ada selisih Rp 200. Nah, selisih inilah yang kita sebut sebagai "Goodwill". Apa ini kerugian? mungkin secara angka angka memang lebih mahal, tapi manfaat pembelian perusahaan B ini diprediksi akan mengalir hingga beberapa tahun kedepan.

Secara sederhana perusahaan A melakukan penjurnalan seperti ini :

Debit | Aset Rp1.000
Debit | Goodwill Rp200
Kredit | Kas Rp850
Kredit | Liabilitas Rp350


Note: itu hanya contoh sederhana saja, biasanya ditulis terdiri dari aset apa aja (current aset, fixed aset dll), libilitas apa saja, dan detail lain nya serta tetunya lebih kompleks.

Apa sudah ada gambaran apa itu goodwill? Goodwill diklasifikasikan kedalam Aset Tak Berwujud (Intangible Asset), Bisa dikata goodwill adalah aset tak berwujud yang mungkin paling tak berwujud karena goodwill paling susah untuk diukur secara handal. 

Perolehan Goodwill


Goodwill akan timbul jika ada aktifitas suatu entitas bisnis membeli entitas lain, dimana harga yang dibayarkan lebih besar dari harga/kekayaan bersih perusahaan yang dibeli. namun, apabila harga belinya dibawah dari kekayaan bersihnya. maka yang muncul adalah goodwill negatif, logikanya sama hanya dibolak balik saja.

Amortisasi Goodwill


Amortisasi merupakan istilah lain dari penyusutan, kalau pada aktiva tetap ada istilah penyusutan, dalam Aset Tak Berwujud, penyusutan itu disebut amortisasi. dalam PSAK disebutkan Amortisasi merupakan aalokasi jumlah tersusutkan secara sistematis atas aktiva tak berwujud selama masa manfaat ekonomisnya. Harga perolehan aktiva tak berwujud dibebankan ssecara periodik kedalam rugi laba perusahaan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwill atau aset tak berwujud lainnya

Metode amortisasi yang sering digunakan adalah Metode Garis Lurus (Straight Line Method).

Setiap tutup buku, 31 Dec, dilakukan pembebanan amortisasi goodwill kedalam Laporan Laba Rugi dan juga sekaligus nilai buku goodwil pada neraca dikurangi, dengan jurnal 

Dec 31:

Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx


Rp xxx adalah jumlah goodwill dibagi sebanyak berapa tahun manajemen meng-amortisasi-kan dengan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwillnya dan yang penting wajar. misal seperti contoh di atas, goodwill sebesar Rp 200,di amortisasi selama 5 tahun, jadi tiap tahunnya Rp 200/5 = Rp 40. dalam penentuan berapa banyak tahun yang dibutuhkan dalam mengamortisasi goodwill, hal ini sebenarnya menjadi banyak perdebatan.

Tambahan: Account akmluasi amortisasi goodwill serta aset tak berwujud yang lain umumnya tidak disajikan dalam neraca tetapi hanya disajikan sebesar nilai buku.

Penghapusan Goodwill | Writte Off


Apa tujuan penghapusan Goodwill? kalau semisal goodwill yang didapat atas pembelian perusahaan terdahulu sudah diaku tidak memberikan manfaat lagi bagi perusahaan, lalu untuk apa goodwill dipertahankan? maka dari itu perlu adanya penghapusan goodwill.

Pencatatan jurnalnya :

Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx

* Rp xxx adalah Nilai Buku saat penghapusan

Penurunan Goodwill | Writte Down


Writte-down diperlukan dan dilakukan jika manfaat yang diberikan oleh Goodwill diakui telah menurun. Jurnal pencatatan writte-down Goodwill sama dengan jurna pencatatan writte-off, yang berbeda hanya nominalnya, nilai penurunan nilai goodwill hanya sebesar nilai yang turun saja, bukan nilai goodwill seluruhnya.

Notes:
Writte-off ataupun writte-down dapat dilakukan setelah adanya revaluasi oleh badan appraisal yang independen. Nanti, besaran nilai writte off maupun writte down dari goodwill didapat dari hasil rekomendasi badan appraisal tersebut.

Sebenarnya amortisasi goodwill menjadi polemik tersendiri, bahkan menjadi sebuah kontroversi, antara goodwill perlu dihapuskan atau tidak dihapuskan.  bahkan FASB pada tahun 2005 lalu memutuskan amortisasi goodwill tidak diperkenankan untuk dilakukan. Amortisasi Goodwill-pun tidak boleh diterapkan oleh IAS (International Accounting Standard). pendekatan yang boleh diperlakukan atas goodwill hanyalah pendekatan impairment. Apa itu impairment? sepertinya butuh ruang khusus untuk membahas impairment, tidak dipostingan kali ini.


Apabila ada pertanyaan, ataupun sanggahan koreksi, silahkan untuk tinggalkan pesan dikolom komentar. Untuk sementara cukup sekian bahasan tentang Definisi Goodwill dalam Akuntansi


Pengertian Aktiva Tidak Berwujud | Intangible Assets

Pengertian Aktiva Tak Berwujud


Setelah posting tentang Aktiva Lancar (current assets) dan Aset Tetap (fixed assets), kali ini saya akan posting mengenai jenis aset yang lainnya, aset tak berwujud atau menurut bahasa maduranya intangible assets. PSAK mendefinisikan:
Aktiva Tak Berwujud merupakan aktiva non moneter yang bisa diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik secara yata serta dimiliki guna menghasilkan maupun menyerahkan barang dan jasa, disewakan ataupun hanya bertujuan administrasi.
aset tak berwujud
aktiva tidak berwujud
Didalam akuntansi, diakuinya sebuah aktiva tak berwujud apabila:
  • Perusahaan berpotensi akan mendapatkan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dari aset tersebut
  • Biaya biaya dalam perolehannya bisa diukur dengan handal
Aktiva tak berwujud diakui sebesar harga perolehan. kemudian pada periode selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya. dalam menentukan besaran harga perolehan tergantung oleh bagaimana cara perolehan aktiva tak berwujudnya. apabila diperoleh dengan membeli atau transaksi yang menggunakan kas atau setara kas lainnya maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar uang yang dikeluarkan/akan dibayarkan. jika diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva yang lain, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar harga kekinian dari aktiva yang ditukar.

Contoh Aktiva Tak Berwujud


[1] Hak Sewa (Lease Hold)
Hak sewa diperoleh dari tansaksi sewa aktiva tertentu, disahkan oleh notaris dan dalam tempo kurun waktu tertentu. misalnya sewa gedung, sewa kendaraan, sewa mesin. alasan hak sewa diakui sebagai aset tak berwujud karena:
  • Memberikan kontribusi bagi entitas bisnis dimasa mendatang
  • Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Contoh Hak Sewa 
  1. PT Tiban Jaya Rotan menyewa gedung untuk showroom-nya Rp 100.000.000 selama 10 tahun
  2. PT Tiban Jaya Rotan menyewa mobil Rp 250.000 per hari untuk kliennya yang berkunjung.
Pencatatan :
Sewa Gedung 100.000.000
kas 100.000.000
Biaya Sewa 200.000
Kas 200.000
Kedua transaksi "sewa" tersebut diperlakukan berbeda
  1. Sewa gedung dicatat sebagai harga perolehan aktiva tak berwujud, berupa hak sewa bangunan karena nilainya yang material dan manfaatnya lebih dari satu tahun buku, yaitu selama 10 tahun kedepan
  2. Dalam transaksi sewa mobil, biaya yang dikelaurkan dicatat sebagai biaya, karena nilai nominalnya tidak terlalu material dan manfaatnya hanya satu hari atau kurang dari satu tahun buku.
    [2] Hak Patent
    Hak Paten merupakan hak yang didapat dari penemuan tertentu, penemu tersebut akan mendapatkan manfaat dalam waktu tertentu dan dimasa mendatang (bisa diperpanjang) contohnya penemuan formula, sistem, penemuan produk, atau rekayasa.
    [3] Trade Mark (Merek Dagang) 
    Merupakan hak yang didapat dari suatu merk komersil terntentu. contoh logo, tulisan, symbol ataupun kombinasinya yang mewakili entitas tertentu.
    [4] Organization Cost
    Merupakan pengeluaran entitas yang timbul sebelum berusahaan beraktifitas operasi. misal biaya notaris, biaya seperti ini dicatat sebagai perolehan aset tak berwujud karena manfaatnya yang diperoleh entitas saat itu dan dimasa mendatang selama entitas masih beroperasi.
    [5] Copyright (Hak Pengadaan)
    Merupakan hak yang diberikan karena suatu penulisan, ntah itu puisi, novel, karya ilmiah, nada lagu maupun lirik, skenario film. Hak Pengadaan (copyright) bisa meliputi hak mengedarkan dan memperbanyak karya tersebut
    [6] Perijinan (Licences)
    Hak yang didapat dari pemerintahan utuk bisa melakukan aktifitas yang terkait dengan bidang usaha perusahaan. Licences ini ada masa waktunya, apabila telah habis, maka harus diperpanjang/diperbarui. biasanya ijin seperti ini mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun buku, bisa 3 hingga 30 tahun.
    [7] Franchise
    Franchise merupakan hak yang didapat guna melakukan jenis usaha tertentu, memasarkan produk juga mengikuti polanya, penggunaan logo maupun pengelolaannya. yang semuanya dimiliki oleh entitas yang memberikan franchise/waralaba
    [8] Goodwill
    Goodwil adalah keistimewaan atau kelebihan tertentu yang dimiliki suatu entitas, diakui apabila terjadi transaksi pada perushaan yang dinilai lebih oleh entitas lain. transaksi bisa berupa merger atau akuisisi maupun penjualan perusahaan. contohnya keistimewaan perusahaan karena mempunyai reputasi yang sangat bagus, mempuyai produk yang tak dimiliki oleh para pesain maupun letak perusahaan yang strategis.

    Perlakuan Akuntansi Aset Tak Berwujud


    Dalam Akuntansi intangible Asset, sebenarnya hampir sama permasalahannya dengan aktiva berwujud
    1. Perolehan Aset Tak Berwujud dicatat dan diakui sebesar nilai faktur serta ditambah semua biaya yang menyertai untuk mendapatkan aset/haknya (sama seperti tangibel asset)
    2. Apabila terjadi pengeluaran setelah perolehan aset tak berwujud (expenditure) biaya biaya tersebut dikapitalisasi ataupun dibebankan ke periode berjalan, sama seperti tangible asset
    3. Amortisasi Aset Tak Berwujud, seperti halnya penyusutan pada aktiva tetap, dialokasikan harga perolehannya menjadi biaya (beban usaha). pencatatan maupun penghitungan amortisasi sama caranya dengan penghitungan dan pencatatan penyusutan aktiva tetap.
    • Kecuali trade mark (merk dagang) yang dikelompokan kedalam HPP, mayoritas Amortisasi merupakan biaya usaha
    • Metode garis lurus mungkin lebih baik diaplikasikan dalam Amortisasi, karena aset tak berwujud pada dasarnya tak berhubungan dengan produk/output yang dihasilkan entitas bisnis.

    Pelaporan Aktiva Tak Berwujud (Disclosure)


    Yang dilaporkan Aktiva Tak Berwujud hanya net value-nya (nilai bersih) setelah dikurangi oleh akmmulasi amortisasi. akumulasi amortisasi ini tidak disajikan dalam neraca

    Khusus mengenai Perlakuan Goodwill, lebih jauh dan lebih detail lagi, saya akan posting di lain waktu. Semoga artikel mengenai Pengertian Aset Tak Berwujud ini memberikan manfaat.