Risiko Audit (Audit Risk) dan Contoh Terapannya

Hasil gambar untuk risiko audit
Salah satu pertanyaan yang sering muncul di seputaran auditing adalah: apa sih itu risiko audit atau audit risk (AR)? Bagaimana caranya menghitung dan bagaimana contoh terapannya?
Pertanyaan yang sangat bagus. Saya katakan bagus sebab, bagaimanapun juga, risiko audit sifatnya fundamental di wilayah auditing. Dalam artian, auditor yang tidak menghitung risiko sebelum menjalankan proses audit namanya “bunuh diri.”
Reputasi KAP, tempat kerja auditor, bisa rusak bila b
elakangan ternyata ada skandal hebat yang sedang berlangsung di dalam perusahaan klien yang baru saja diberikan opini “wajar tanpa pengecualian” (WTP). Bahkan, salah-salah, bisa ikut terseret kasus pidana jika kasusnya bergulir ke ranah hukum.
Kerja audit itu berisiko, apalagi audit terhadap klien kakap, thus harus benar-benar diperhitungkan sebelum merancang prosedur audit, sehingga nantinya benar-benar aman. Dalam artian, opini yang disampaikan bisa dipertanggungjawabkan secara profesi maupun legal.
Masalah yang paling mendasar dari audit:
Adalah tidak mungkin bagi auditor untuk memeriksa transaksi per transaksi, klas transaksi per klas transaksi, akun per akun, satu per satu. Tidak cukup waktu.
Oleh sebab itu maka auditor wajib mengukur dan memetakan risiko audit terlebih dahulu sebelum mulai menjalankan proses pemeriksaan.
So, apa itu risiko audit atau audit risk?

Apa itu Risiko Audit (Audit Risk)?

Risiko Audit atau Audit Risk (AR) adalah kemungkinan risiko salahsaji bersifat material dan/atau penggelapan (fraud) yang bisa lolos dari proses audit jika auditor tidak melakukan tugasnya secara cermat.
Mengingat risiko itu maka, auditor harus melakuka pemeriksaan risiko (risk assessment) sebelum menjalankan proses audit, tepatnya pada fase perencanaan audit (audit planning).
Tujuannya: Untuk mengukur dan memetakan risiko audit yang mungkin timbul thus bisa menentukan dimana proses pemeriksaan dilaksanakan secara ketat dan dimana agak longgar, dimana audit penuh (full audit) dan dimana secara acak (random audit).

Jenis-Jenis Risiko Audit

Ada 3 jenis risiko audit yang wajib diuji dan dipertimbangkan oleh seorang auditor sebelum menjalankan proses audit, yaitu: (1) risiko inherent (inherent risk), (2) risiko pengendalian (control risk) dan (c) risiko deteksi (detection risk).
Untuk lebih jelasnya kita lihat satu per satu:
1. Risiko Inherent – Atau ‘Inherent Risk’ (IR) adalah risiko yang mungkin timbul akibat karakter bawaan dari suatu transaksi, entah karena: (a) kompleksitas transaksi dan klas transaksi; atau (b) kompleksitas perhitungan; atau (c) aset yg mudah tercuri/digelapkan; atau (d) ketiadaan informasi yang sifatnya obyektif. Sudah menjadi pemahaman publik bahwa inherent risk adalah diluar jangkauan auditor dalam melakukan pencegahan. Bahkan, juga diluar kendali pihak auditee sendiri. Dengan kata lain, auditor hanya bisa menemukan tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Beberapa ciri IR yg tinggi, antara lain:
  • Terjadi profitabilitas (dan indikator kinerja kunci lainnya) yang terus menurun;
  • Terjadi kekurangan modal kerja; dan
  • Tingginya asset menganggur (tidak menghasilkan)
Contoh Pemeriksaan IR: Saat memeriksa “Pendapatan,” sebagai seorang auditor anda melihat 4 faktor penting berikut ini dalam mengukur Risiko Inherent (Inherent Risk):
  • Usaha Sejenis – Pertimbangkan persaingan di lingkungan usaha sejenis yang mungkin mempengaruhi pendapatan dan aliran kas auditee. Misalnya: faktor persaingan (mungkinkah auditee kalah dalam persaingan sehingga revenue nya menurun?)
  • Kompleksitas Pengakuan Pendapatan – Periksa metode pengakuan pendapatannya, apakah mengandung kompleksitas yang berpotensi menjadi risiko? Contoh pengakuan pendapatan dengan perhitungan kompleks dan berpotensi mengandung risiko bawaan adalah “metode persentase penyelesaian” yang biasa digunakan oleh jenis usaha real estate atau developer ATAU metode pengakuan pendapatan atas kontrak lainnya yang lamanya melewati satu tahun buku.
  • Kesulitan dalam Menakar Akurasi Perhitungan Revenue – Periksa besarnya nilai revenue dipengaruhi oleh perhitungan yang akurasinya sulit diukur? Misal: menggunakan “Cadangan Bad Debt” dan yang angka persentasenya menggunakan estimasi (termasuk write off nya).
  • Salah Saji Pada Audit Sebelumnya – Anda juga dapat menggunakan laporan hasil audit priode sebelumnya sebagai tambahan bahan pertimbangan; akun-akun yang kerap mengandung salah saji pada periode-periode sebelumnya besar kemungkinannya mengandung risiko inherent.
Catatan Penting: 2 (dua) faktor berikut ikut menentukan tingginya tingkat IR
  • Penugasan audit pertama kalinya untuk klien yang sama oleh auditor dihitung sebagai faktor IR yang penting. Misalnya PT JAK baru IPO tanggal 1 Juni 2015, maka audit yang diselenggarakan pertama kali (untuk Laporan Keuang Per 31 Desember 2015) diasumsikan mengandung IR yang tinggi, sebab auditor tidak memiliki informasi valid mengenai kondisi keuangan PT JAK yang bisa dipercaya.
  • Perusahaan yang memiliki anak/cabang dalam jumlah banyak dan melibatkan banyak mata uang asing, diasumsikan mengandung IR yang tinggi. Sebab model perusahaan seperti ini cenderung menghasilkan laporan keuangan yang kompleks dan besar kemungkinan terjadi banyak kesalahan dalam proses konsolidasi laporan yang disebabkan oleh kompleksitas data transaksi yang terlibat di dalamnya.
2. Risiko Pengendalian – Atau ‘Control Risk’ (CR) adalah risiko yang bisa timbul akibat kelemahan sistim pengendalian intern (SPI) auditee, entah karena desainnya yang lemah atau pelaksanaanya yang tidak sesuai desain—thus tidak mampu mencegah potensi salahsaji bersifat material dan/atau penggelapan (fraud). CR tidak bisa dikendalikan oleh auditor akan tetapi bisa dikendalikan oleh auditee jika mereka mau. Karakter perusahaan ber CR tinggi, antara lain:
  • Struktur Organisasi (SO), tidak jelas dengan pembagian tugas yang juga tidak jelas. Jika ini terjadi maka bisa dipastikan CR nya tinggi;
  • Lemahnya pengawasan manajemen (para manager) terhadap operasional perusahaan (ciri ini bisa dilihat dari beberapa hal, misal: tidak ada level otorisasi transaksi yang jelas, semua orang bisa mengakses semua data/informasi, tidak ada aktivitas supervisi, tidak pernah ada audit fisik, tidak ada performance review, tidak ada budgeted financial statement). Kalau ini yang terjadi maka angka persentase CR sudah pasti tinggi.
  • Tidak memiliki auditor internal dan komite audit. Jika ini yang tejadi maka bisa dipastikan angka CR juga tinggi.
  • Sistim Pengendalian Internal lemah atau tidak efektif (semua aspek SPI perlu diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan faktor ini, perhatikan contoh dibawah.
Contoh Pemeriksaan SPI: Yang paling klasik, anda memeriksa faktor “Pemisahan Tugas” pada departemen-departemen yang berpotensi terjadi “Asset Fraud.” Dua jenis asset dimana kerap terjadi fraud adalah wilayah “Persediaan” dan “Kas.” Katakanlah anda sedang memeriksa Persediaan. Di sini anda memeriksa apakah ada 2 pekerjaan terkait atau lebih dirangkap oleh satu orang petugas? Misal:
  • Pegawai Purchasing merangkap sebagai petugas yang penerima barang atau pekerjaan gudang persediaan lainnya (ini buruk); atau Pegawai Shipping merangkap sebagai petugas gudang yang mengurus persediaan barang jadi (ini juga buruk).
  • Foreman di bagian produksi (yang biasa request persediaan untuk keperluan produksi) diijinkan bebas keluar-masuk gudang persediaan bahan baku atau bahan penolong (ini buruk).
  • Pegawai admin yang input Receipt of Goods (ROG) memiliki kemampuan akses ke dalam data-data accounting terkait seperti Accounts Payable (Utang)
  • Pegawai admin yang input picking sheet di Shipping memiliki kemampuan akses ke dalam data-data accounting terkait seperti Accounts Receivable (Piutang).
Selain aspek pemisahan tugas anda juga memeriksa akurasi saldo Persediaan yang disajikan pada “Laporan Posisi Keuangan” (Neraca.) Ada 2 hal yang bisa anda lakukan di sini, yaitu:
  • Menelusuri dokumen penerimaan barang ‘masuk-dan-keluar’ gudang untuk tanggal-tanggal yang mendekati tanggal tutup buku (jika tutup buku dilakukan tanggal 31 Desember misalnya, maka periksa dokumen barang masuk-dan-keluar tanggal 30 hingga 31). Dari hasil pemeriksaan ini mungkin anda menemukan barang persediaan yang harusnya tidak diperhitungkan sebagai penambah saldo (atau pengurang saldo) akan tetapi diikutkan oleh aduitee, atau sebaliknya.
  • Melakukan perhitungan fisik secara acak (random physical counts). Hasil penghitungan ini kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan yang dilakukan oleh auditee, apakah sama? Jika beda, maka uji dengan physical count terus dilakukan.
  • Jika auditee menggunakan peralatan teknologi dalam mengelola persediaan misalnya “Self-alarming antitheft tags” atau “Electronic Cash Register” (ECR), maka anda perlu memeriksa apakah peralatan tersebut berfungsi dengan baik atau rusak atau tidak konsisten?
Catatan:
Baik IR dan CR bisa diuji secara bersamaan atau terpisah.
3. Risiko Deteksi – Atau ‘Detection Risk’ (DR), adalah risiko yang bisa timbul akibat kegagalan auditor dalam menedeteksi adanya salahsaji bersifat material dan/atau penggelapan (fraud). DR ada dalam kendali auditor. Karena DR sepenuhnya ada pada kendali auditor, maka sudah pasti mereka harus berupaya untuk menekan risiko ini hingga ke tingkatakan yang paling minimal (tidak mungkin menghilangkan risiko ini sepenuhnya). Ada 4 faktor yang berpotensi menghasilkan DR yang tinggi, yaitu:
  • Salah Mengaplikasikan Prosedur Audit – Contoh kesalahan fatal, misalnya: anda menggunakan rasio untuk mengukur tingkat akurasi angka saldo, dan ternyata anda menggunakan rasio yang salah.
  • Salah Menginterpretasikan Hasil Audit – Contoh (lanjutan yang tadi): mungkin sudah menggunakan rasio yang benar, namun anda salah dalam menginterpretasikan hasil perhitungan (misal: anda menyatakan inventory sudah disajikan dengan semestinya padahal sebenarnya mengandung salahsaji bersifat material).
  • Salah Memilih Metod Uji – Setiap saldo akun yang disajikan pada Laporan Keuangan seharusnya diuji dengan menggunakan metode yang paling sesuai dengan nature nya masing-masing. Anda ingin memastikan apakah suatu penjualan memang seharusnya diakui (atau tidak diakui), maka anda mengujinya dengan melihat tanggal transaksi yang kemudian disandingkan dengan periodisasi pelaporan (bukan dengan menguji hitungan matematisnya)
  • Pengujian CR Yang Kurang Intensive – DR juga meningkat bila pengujian terhadap DR kurang intensif (beberapa wilayah pengendalian lemah namun lolos dari pengujian karena anda tidak tahu wilayah tersebut ternyata lemah), sehingga ada salahsaji atau fraud yang tidak terdeteksi selama proses pengujian anda jalankan.
Agar hal itu tidak terjadi, maka auditor—pada fase perencanaan audit (audit planning)—memperkirakan besaran angka DR yang akan dihadapi untuk kemudian diantisipasi dengan prosedur, teknik dan mote audit yang akan diterapkan. Untuk lebih jelasnya, lanjut ke paragraf berikut ini…

Model Perhitungan Risiko Audit

Model Risiko Audit (audit risk) yang paling lumrah digunakan (dan diajarkan) adalah:
AR = IR x CR x DR
Dimana:
AR = Audit Risk
IR = Inherent Risk
CR = Control Risk
DR = Detection Risk
Model Risiko Audit ini bisa diterapkan dengan 3 langkah berikut ini:
Pertama, Kantor Akuntan Publik (KAP) biasanya sudah mematok besaran angka persentase Audit Risk (AR) yang bisa diterima (biasanya tak boleh lebih dari 10%).
Kedua, menentukan IR dan CR. Inherent risk (IR) diukur dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Sedangkan CR diukur dengan menilai desain dan implementasi sistim pengendalian internal yang dimiliki oleh auditee seperti yang sudah saya jelaskan di atas.
Ketiga, menentukan DR dengan menggunakan persamaan di atas, sehingga menjadi:
DR = AR/(IR x CR)
Nah, besaran DR inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang prosedur audit, substantive test dan rencana audit secara keseluruhan.
Contoh kasus terapan (sederhana):
Kantor Akuntan Publik “JAK dan Rekan” menerima penugasan untuk mengaudit PT. ABC Tbk, untuk pertama kalinya sejak IPO. Engagement Manager, pada fase persiapan audit, menyampaikan informasi berikut terkait PT ABC Tbk:
  • Ini adalah sesi audit eksternal pertama kalinya untuk PT ABC Tbk
  • PT. ABC adalah perusahaan kontraktor yang memiliki banyak cabang di Singapura, Malaysia, India, Dubai, Jepang dan Australia.
  • Tim internal Audit PT ABC baru dibentuk 2 bulan lalu;
  • Komite Audit PT ABC terdiri dari Board of Director member yang tidak satupun memiliki latar belakang bidang akuntansi dan keuangan.
Sementara itu KAP JAK dan Rekan mematok angka 10% sebagai “accepted audit risk level.”
Dari informasi tersebut, tim audit KAP “JAK & Rekan” menghitung besaran angka DR yang harus diantisipasi dengan prosedur dan metode audit yang paling efektif:
Inherent Risk (IR) diperkirakan mencapai 60%, mengingat: (a) klien adalah usaha kontraktor yang besar kemungkinannya menerapkan metode pengakuan pendapatan bertahap melalui beberapa periode akuntansi (kompleksitas pengakuan transaksi); (b) ini adalah audit eksternal pertamakalinya (minim informasi obyektif); dan (c) klien memiliki tingkat kompleksitas pelporan yang tergolong tinggi dengan adanya banyak perusahaan cabang di luar negeri dengan mata uang asing yang berbeda-beda pula.
Control Risk (CR) juga diperkirakan mencapai 60%, mengingat: (a) tim internal auditnya PT ABC Tbk tergolong baru; (b) anggota audit komite nya terdiri dari orang-orang yang tidak berlatarbelakang akuntansi dan keuangan—thus besar kemungkinanya tidak melakukan tugas pengawasan yang prudent terhadap proses pencatatan dan pelaporan transkasi keuangan PT ABC Tbk.
Dari simpulan itu, maka sudah bisa ditentukan berapa besarnya angka DR yang harus diantisipasi oleh auditor, dengan menggunakan persamaan di atas:
AR = IR x CR x DR
10% = 60% x 60% x DR
0.10 = 0.60 x 0.60 x DR
0.10 = 0.36 x DR
DR = 0.10/0.36
DR = 0.278 (dibulatkan)
DR = 0.28 (pembulatan ke atas)
DR = 28%
DR = 28% inilah yang harus diantisipasi dengan prosedur pemeriksaan yang dirancang sedemikian rupa oleh auditor, sehingga bisa ditekan ke tingkatan yang paling minimal.
Sampai di sini pengenalan tentang risiko audit (audit risk) saya rasa sudah cukup. Di topik audit berikutnya mungkin kita akan bahas mengenai substantif testing. Sampai ketemu.
Search Term :

Tidak ada komentar :