Market Timing Theory of Capital Structure

Pengujian Empiris Market Timing Theory of Capital Structure di BEJ dengan Kasus IPO Emiten  (Non Keuangan) 2000-2001

Abstract
           
Capital structure theory has developed tremendously. Corporations now consider not only the internal factors but also the external factors. Asymmetric information with the pecking order hypothesis and static trade-off theory have not been able to explain some market phenomena. Some corporations have taken into account the current stock price as the main determinant in choosing debt or equity securities. This market timing theory was inititated by Baker and Wurgler (2002). The essence of this theory is corporations will prefer debt securities when the stock price is low and equity securities when the stock price is high.
The objective of this study is to confirm the research by Kusumawati and Danny (2002) on the market timing hypothesis using GLS, which is consistent with the findings of Baker and Wurgler (2002) using OLS model. The findings of our research is that marketing theory with the market leverage as the main proxy of capital structure, have been negatively related to market book ratio.

Key Words: Capital Structure; Market Timing Theory; Market To Book Ratio, Market Leverage

Capital Asset Pricing Model (CAPM)

Capital Asset Pricing Model (CAPM)

BAB I
PENDAHULUAN

CAPM pertama kali diperkenalkan oleh Sharpe, Lintner, dan Mossin pada pertengahan tahun 1960-an. Menurut Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, MBA, CWM, CAPM adalah Model yang menghubungkan tingkat return harapan dari suatu aset berisiko dengan risiko dari suatu aset tersebut pada kondisi pasar yang seimbang.
Capital Asset Pricing Model (CAPM) bukanlah satu-satunya teori yang mencoba menjelaskan bagaimana suatu aktiva ditentukan harganya oleh pasar, atau bagaiman menentukan tingkat keuntungan yang dipandang layak untuk suatu investasi. Ross (1976) merumuskan suatu teori yang disebut sebagai Arbitrage Pricing Theory (APT). Kalau pada CAPM analisis dimulai dari bagaimana pemodal membentuk portofolio yang efisien ( karena market portfolio yang mempunyai kedudukan sentral dalam CAPM merupakan portofolio yang efisien), maka APT mendasarkan diri konsep satu harga (the law of one price ).
APT pada dasarnya menggunakan pemikiran yang menyatakan bahwa dua kesempatan investasi yang mempunyai karakteristik yang identik sama tidaklah bisa dijual dengan harga yang berbeda ( hukum satu harga). Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut dijual dengan harga yang berbeda maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage, yaitu dengan membeli aktiva yang berharga murah dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi pada saat yang sama sehingga dapat diperoleh laba tanpa resiko.
Perbedaan antara kedua model tersebut terletak pada perlakuan APT terhadap hubungan antar tingkat keuntungan sekuritas. APT mengasumsikan bahwa tingkat keuntungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam perekonomian dan industri. Korelasi antara tingkat keuntungan dua sekuritas terjadi karena sekuritas- sekuritas tersebut dipengaruhi oleh faktor atau faktor-faktor yang sama. Sebaliknya meskipun CAPM mengakui adanya korelasi antar tingkat keuntungan, model tersebut tidak menjelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi korlelasi tersebut. Baik CAPM maupun APT sama- sama berpendapat bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat keuntungan yang diharapkan dengan resiko.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana mengaplikasikan model-model keseimbangan (CAPM (Capital Asset Pricing Model) dan APT (Arbitrage Pricing Theory)).

Pengumuman Laba Terhadap Reaksi Pasar Modal

Event Study: Pengumuman Laba Terhadap Reaksi Pasar Modal
 (Study Empiris, Bursa Efek Indonesia 2004-2006)

Binsar I. K. Telaumbanua,* dan Sumiyana
Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

This paper examines the investor reaction to earnings announcement around event period of earnings announcements date. This paper divide into two categories, First, the positive-earning announcement include increasing of earning per share (EPS) and second, the negative-earning announcements consist of decreasing of Earning Per Share (EPS). The examination of content and efficient market hypothesis used Event Study. We propose one hypotheses as positif-earnings announcement and negative-earnings announcement correlate to reaction of stock Price in IDX. Dependent variable is stock return and independent variable is market return. The sample are the 29 companies from LQ 45 that release the annual earnings of year 2004-2006. The earnings announcements date is taken from Indonesian Securities Supervisory Agency (Bapepam). Statistical test with standard error of estimate (SEE) was used to test the significance of abnormal return during event periods of earnings announcements.
The results show that investor responds significantly to the positive and negative earnings announcement at the announcement dates. And also, earning announcement seen give information contents to capital market. Finally, the empirical result is contrary the finding of Ball and Brown (1968), Foster (1977), and Hayn (1995). However, this evidence supports the Lako’s studies (2002a, 2002c).

Keywords: event study, reaction of stock price, market efficient, positive-earning announcement,  negative earnings announcements, good news and bad news
_____________
*) adalah lulusan Fakultas Ekonomika & Bisnis, Universitas Gadjah Mada