Pengumuman Laba Terhadap Reaksi Pasar Modal

Event Study: Pengumuman Laba Terhadap Reaksi Pasar Modal
 (Study Empiris, Bursa Efek Indonesia 2004-2006)

Binsar I. K. Telaumbanua,* dan Sumiyana
Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

This paper examines the investor reaction to earnings announcement around event period of earnings announcements date. This paper divide into two categories, First, the positive-earning announcement include increasing of earning per share (EPS) and second, the negative-earning announcements consist of decreasing of Earning Per Share (EPS). The examination of content and efficient market hypothesis used Event Study. We propose one hypotheses as positif-earnings announcement and negative-earnings announcement correlate to reaction of stock Price in IDX. Dependent variable is stock return and independent variable is market return. The sample are the 29 companies from LQ 45 that release the annual earnings of year 2004-2006. The earnings announcements date is taken from Indonesian Securities Supervisory Agency (Bapepam). Statistical test with standard error of estimate (SEE) was used to test the significance of abnormal return during event periods of earnings announcements.
The results show that investor responds significantly to the positive and negative earnings announcement at the announcement dates. And also, earning announcement seen give information contents to capital market. Finally, the empirical result is contrary the finding of Ball and Brown (1968), Foster (1977), and Hayn (1995). However, this evidence supports the Lako’s studies (2002a, 2002c).

Keywords: event study, reaction of stock price, market efficient, positive-earning announcement,  negative earnings announcements, good news and bad news
_____________
*) adalah lulusan Fakultas Ekonomika & Bisnis, Universitas Gadjah Mada


1. PENDAHULUAN
Pasar modal merupakan salah satu bagian dari pasar financial yang menjalankan fungsi ekonomi dan fungsi keuangan (Husnan, 1994). Pasar modal dalam menjalankan fungsi ekonomi yaitu dengan mengalokasikan dana secara efisien dari pihak yang memiliki dana kepada pihak yang membutuhkan dana, sedangkan fungsi keuangannya dapat ditunjukkan oleh adanya perolehan imbalan bagi pihak yang memberi dana sesuai dengan karakteristik investasi yang mereka pilih. Pasar modal menjadi salah satu pilihan bagi investor dalam menyalurkan dana yang mereka miliki. Dalam hal ini informasi merupakan sesuatu hal yang sangat penting, karena seorang investor sebelum menginvestasikan dananya di pasar modal dengan cara membeli saham yang diperdagangkan dia harus memahami dan mempercayai bahwa semua informasi tersedia dan mekanisme perdagangan di pasar modal dapat dipercaya, tidak ada pihak tertentu yang memanipulasi informasi dan perdagangan tersebut.
Keberhasilan suatu perusahaan dilihat dari nilai perusahaan. Pada perusahaan yang go public, nilai perusahaan dilihat dari harga sahamnya. Harga saham mencerminkan nilai perusahaan bila pasar modal dalam keadaan efisien. Pasar yang efisien dapat menunjukkan harga saham yang mencerminkan secara penuh (fully reflect) informasi yang tersedia, informasi tersebut dapat berupa laporan tahunan perusahaan, pembagian deviden, pemecahan saham, laporan para analis pasar modal, dan sebagainya. Pasar modal yang efisien menjadikan harga saham cenderung wajar dan benar-benar mencerminkan nilai saham (perusahaan) yang bersangkutan hingga tidak ada harga saham yang overvalue atau undervalue. Bila benar harga-harga saham di pasar modal di Indonesia overvalue atau undervalue berarti pasar modal di Indonesia belumlah efisien, selain itu pasar modal yang efisien dimana seluruh informasi yang relevan diterima oleh investor dan informasinya telah diprediksikan ke dalam saham.
Untuk menginvestigasi apakah pasar modal Indonesia efisien dalam bentuk semi kuat maka pengujian dilakukan dengan menggunakan metodologi studi peristiwa (event study). Studi peristiwa merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman, maka penelitian ini menguji apakah pengumuman laporan laba perusahaan mempunyai kandungan informasi yang cukup untuk membuat pasar bereaksi terhadap pengumuman tersebut. Pasar yang efisien apabila harga sekuritas yang diperdagangkan di bursa selalu mencerminkan secara penuh informasi yang tersedia.
Tujuan Penelitian ini menguji secara empiris valid tidaknya Hipotesis Pasar Efisien di Indonesia. Sedangkan, manfaat penelitian ini bagi pelaku pasar modal dalam pengambilan keputusan investasi yang hendak dilakukan. Manfaat lain penelitian ini adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi organisasi profesi dalam mengembangkan organisasinya di Indonesia.
Sistematika pembahasan mengorganisasi laporan penelitian dibagi dalam rincian sebagai berikut. Bagian 1 membahas tentang pendahuluan yang berisi latar belakang mesalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Bagian 2 membahas tentang telaah literatur dan perumusan hipotesis. Bagian 3 membahas tentang metoda penelitian. Bagian 4 membahas hasil penelitian dan temuan. Yang terakhir, bagian 5 membahas tentang kesimpulan, keterbatasan dan saran.
2. TELAAH LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
2.1 Pengertian Studi Peristiwa (event study)
Studi peristiwa (event study) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat (Jogiyanto, 2003).
Pengujian kandungan informasi dan pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat merupakan dua pengujian yang berbeda. Jogiyanto (2003) menyatakan bahwa pengujian kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu pengumuman. Jika pengumuman mengandung informasi (information content), maka diharapkan pasar bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan harga dari sekuritas bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau dengan menggunakan abnormal return.


2.2. Pengertian Pasar Modal yang Efisien.
Pasar yang efisien merupakan suatu pasar bursa dimana efek yang diperdagangkan merefleksikan semua informasi yang terjadi dengan cepat dan akurat. Konsep dari pasar yang efisien ini menyatakan bahwa pemodal selalu memasukkan faktor informasi yang tersedia dalam keputusan mereka, sehingga terefleksi pada harga yang mereka transaksikan. Jadi, harga yang berlaku di pasar sudah mengandung faktor informasi tersebut.
Pengertian pasar modal efisien yang diterima secara luas adalah pasar modal yang apabila terdapat informasi baru, maka informasi tersebut tersebar luas, cepat dan mudah di dapat secara murah oleh investor. Informasi ini meliputi hal yang diketahui dan relevan untuk mempertimbangkan harga saham dan tercermin secara cepat dalam harga saham. Sementara Fama (1976) menyatakan “a securities market is efficient if security prices fully reflect the information available“.
2.3 Tingkat atau Bentuk Efisiensi Pasar Modal
Efisiensi pasar modal tergantung pada kondisi tertentu, terutama volume perdagangan. Pasar dengan volume perdagangan yang relatif kecil menyulitkan investor untuk bereaksi terhadap informasi baru dan memudahkan bagi pedagang besar untuk memanipulasi karena adanya channel informasi (Banner, 1985).
Sesuai dengan konsep dasar efisiensi dan kondisi ideal pasar efisien, maka pasar modal yang efisien secara informasional dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) bentuk atau tingkatan yaitu:
1)      Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)
Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah, jika harga-harga dari sekuritas tercermin secara penuh informasi masa lalu (Jogiyanto, 2003). Perubahan harga pada hari ini tidak ada hubungannya dengan perubahan harga yang terjadi kemarin.  Jika informasi datangnya secara acak banyak orang menyukai karena bisa mendapatkan keuntungan dari perubahan harga yang terjadi secara acak.  Mereka yakin jika harga suatu saham mulai bergerak naik, maka harga saham tersebut bergerak naik untuk suatu jangka waktu tertentu dan mengembangkan suatu momentum. Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan, momentum suatu harga saham itu memang ada dan jika para pemodal dapat dengan cepat melakukan transaksi pada awal pergerakan naik harga saham-saham tersebut, maka keuntungan besar dapat dicapai. Berarti technical analist tidak kebal terhadap efisien pasar bentuk lemah.
2)      Efisiensi pasar bentuk semi kuat (semi-strong form)
Efisiensi pasar bentuk semi-kuat menyatakan bahwa harga-harga surat berharga betul-betul menggambarkan informasi yang dipublikasikan. Informasi dalam bentuk ini meliputi semua informasi yang dimaksud pada weak form, yaitu data harga dan volume historis serta data-data atau informasi lainnya yang tersedia bagi publik seperti pendapatan perseroan, deviden, saham bonus, inflasi dan stock split. Teori ini memberikan tekanan pada kecepatan informasi yang diterima para pemodal, artinya informasi tersebar dan diterima oleh para pemodal pada waktu yang hampir bersamaan, sehingga harga secara langsung dan cepat melakukan penyesuaian.
Berbagai studi yang telah dilakukan untuk menguji tingkat efiensi semi-kuat ini. Salah satu studi yang dilakukan adalah mengenai stock split secara langsung tidak mempengaruhi nilai dari suatu perusahaan, sehingga secara logika harga saham yang mengalami stock split seharusnya juga tidak terpengaruh. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga yang tajam terjadi sebelum stock split berlangsung, perubahan harga setelah stock split bersifat acak. Para pemodal tidak bisa mendapatkan keuntungan dengan membeli saham pada waktu atau sesudah stock split.  Mereka harus membeli saham tersebut sebelum stock split diumumkan agar dapat menikmati keuntungan besar yang tidak normal.
Hal ini tentunya dapat dijelaskan bahwa pada waktu stock split diumumkan, informasi yang berhubungan dengan stock split tersebut telah terdaftar ke dalam pasar saham tersebut sehingga harga tidak terpengaruh lagi.
3)      Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)
Efisiensi bentuk lemah menyatakan bahwa tidak satupun informasi yang tersedia baik publik maupun privat yang mengijinkan para pemodal untuk meraih keuntungan yang tidak normal secara konsisten. Bentuk ini menyatakan bahwa harga saham melakukan penyesuaian secara cepat terhadap informasi apapun, bahkan informasi yang tidak tersedia bagi semua pemodal (informasi privat). Salah satu jenis informasi privat adalah jenis informasi yang berasal dari orang dalam. Mereka mempunyai akses atas informasi berharga mengenai keputusan penting bersifat taktis dan strategis yang telah direncanakan oleh perusahaan. Sehingga dengan modal informasi privat yang demikian mampu memberikan keuntungan abnormal yang konsisten bagi para pemodal yang memiliki informasi tersebut.
Hubungan ketiga pasar efisien ini berupa tingkatan yang kumulatif yaitu bentuk lemah merupakan bagian dari bentuk setengah kuat dan bentuk setengah kuat merupakan bagian dari bentuk kuat. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa bila ada sangkalan dari efisiensi pasar bentuk lemah maka sangkalan tersebut berlaku juga baik pada efisiensi pasar bentuk semi-kuat maupun pasar efisien bentuk kuat. Jika pasar tidak efisien dalam bentuk lemah, dengan sendirinya pasar tidak efisien dalam bentuk semi-kuat ataupun bentuk kuat maupun dalam bentuk lemah.
Ball dan Brawn (1968) merupakan orang yang pertama mempelajari reaksi pasar akibat informasi akuntansi. Penelitian tersebut menggunakan laporan keuangan tahunan 261 perusahaan pada tahun 1945-1965. Penelitian tersebut mengklasifikasikan pendapatannya meningkat secara relatif dan perusahaan yang pendapatannya turun secara relatif. Kesimpulan yang diperoleh Ball dan Brawn adalah bahwa pasar bercorak semi-kuat. Pada saat laporan keuangan dipublikasi, semua kenaikan harga yang menyesuaikan dengan berita buruk telah berlangsung.   
Penelitian yang dilakukan oleh Nursiam dan Puteranto (1998-2000) menyatakan bahwa informasi yang disajikan tersebut tidak akurat atau informasi tersebut tidak menggambarkan kondisi perusahaan yang sesungguhnya dan masih terlalu lambat diterima oleh publik sehingga informasi tersebut tidak dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan yang tepat oleh investor, serta berdasarkan adanya deregulasi dan kebijaksanaan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah terkait dengan pasar modal, sehingga penulis membuat hipotesis sebagai berikut:
H1:   Pengumuman laba positif dan negatif berasosiasi terhadap reaksi harga saham di BEI.
2.4. Laporan Keuangan dan Arti Penting Informasi Laba
Menurut SFAC No. 1 (FASB, 1978), laporan keuangan merupakan gambaran utama dari pelaporan keuangan yang berfungsi sebagai alat komunikasi informasi akuntansi keuangan kepada pihak-pihak eksternal. Berkenaan dengan laba-rugi, SFAC No. 2 (FASB, 1980) menyatakan bahwa laporan laba-rugi sangat penting bagi para pemakainya (user) karena memiliki nilai prediktif. SFAC No. 1 (FASB, 1978) menjelaskan bahwa para investor, kreditor, dan pihak-pihak lainnya sering menggunakan informasi laba dan informasi tentang komponen-komponen laba untuk menilai prospek arus kas dari investasi atau pinjaman yang mereka berikan.
Foster (1986) menyatakan ada tiga faktor yang mempengaruhi kandungan informasi dari suatu pengumuman informasi perusahaan. Pertama, ekspektasi pasar terhadap kandungan dan timing dari pengumuman informasi perusahaan. Semakin besar tingkat ketidakpastian, maka semakin besar pula potensi terjadinya revisi terhadap harga-harga sekuritas. Kedua, implikasi dari pengumuman laba terhadap distribusi return sekuritas di masa depan. Semakin besar revisi yang berhubungan dengan aliran kas yang diharapkan, semakin besar pula implikasi revaluasi harga sekuritas terhadap pengumuman tersebut. Ketiga, kredibilitas sumber informasi. Semakin kredibel suatu sumber pengumuman informasi, semakin besar pula implikasi revaluasi terhadap pengumuman informasi itu. Menurut Scott (2000), informasi laba dapat berguna jika dapat mengakibatkan investor mengubah keyakinan dan tindakan mereka sebelumnya dan tingkat kegunaan tersebut dapat diukur dari sejauh mana perubahan harga mengikuti publikasi informasi laba.
3. METODA PENELITIAN
3.1. Sampel Dan Populasi.
Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metoda judgment sampling artinya bahwa populasi yang dijadikan sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria sampel tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti. Penentuan kriteria sampel diperlukan untuk menghindari timbulnya misspesifikasi dalam penentuan sampel penelitian yang selanjutnya berpengaruh terhadap hasil analisis. 
Kriteria sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah saham-saham yang banyak ditransaksikan selama perioda penelitian serta telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebelum 31 Desember 2003. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan laporan keuangan perusahaan untuk perioda 2003 yang diterbitkan pada perioda 2004 dan laporan keuangan tersebut untuk mengelompokkan data perusahaan-perusahaan yang pendapatannya relatif naik dan perusahaan yang pendapatannya relatif turun dari perioda ke perioda selama perioda penelitian. Tujuan dipilihnya saham yang banyak ditransaksikan adalah untuk menghindari tidak adanya reaksi harga pada saat laporan pendapatan keuangan perusahaan diumumkan, yang disebabkan tidak terjadi transaksi pada tanggal pengumuman laporan keuangan.
3.2 Definisi Variabel Penelitian
Untuk menghindari ketidakjelasan makna variabel-variabel yang dibutuhkan, definisi variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.       Pasar modal Indonesia efisien dalam bentuk semi-kuat adalah apabila ada pengumuman kenaikan atau penurunan laba tahunan perusahaan yang  mempengaruhi harga sahamnya.
b.      Harga saham awal minggu adalah harga saham yang terjadi di pasar sekunder pada hari pertama transaksi (awal transaksi).
c.       Deviden adalah laba atau pendapatan yang dibagikan secara tunai oleh perusahaan kepada pemegang saham.
d.      Return saham adalah pendapatan yang diterima dari investasi dalam saham yang terdiri dari capital gain (lose) ditambah dengan deviden untuk perusahaan yang membagikannya (Jogiyanto: 1995, 87). Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
                 (iPtiPt - 1) + iDt
 Rit= ───────────
                         iPt - 1
Keterangan: Rit: return saham i pada minggu t; iPt: harga saham i pada minggu t; i, Pt – 1 : harga saham i pada minggu t-1; iDt: deviden tunai (untuk perusahaan yang membagikan devidennya)
e.       Return pasar adalah pendapatan portofolio pasar yang diperoleh jika semua saham di pasar dikuasai dalam proporsi sama (Fakhruddin dan Hadianto:2001,39)
                            IHSGt+1 – IHSGt
Rm,t= ───────────
                  IHSGt
Keterangan: Rm,t: return pasar minggu t; IHSGt: indek harga saham gabungan minggu t; IHSGt+1: indek harga saham gabungan minggu t+1
f.        Return tidak normal (abnormal return) adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi (Jogiyanto: 2003, 434).
Rumus:      RTNi,t= Ri,t – E[Ri,t]
Keterangan: RTNi,t: return tidak normal (abnormal return) sekuritas ke-i pada Perioda   peristiwa ke-t; Ri,t: return sesungguhnya yang terjadi untuk sekuritas ke-i pada Perioda peristiwa ke-t; E[Ri,t]: return ekspektasi sekuritas ke-i untuk Perioda peristiwa ke-t
g.      Pengujian adanya abnormal return tidak dilakukan untuk tiap-tiap sekuritas, tetapi dilakukan secara agregat dengan menguji rata-rata return tidak normal seluruh sekuritas secara cross-section untuk tiap-tiap hari di Perioda peristiwa. Rata-rata return tidak normal (average abnormal return) untuk hari ke-t dapat dihitung berdasarkan rata-rata aritmatika sebagai berikut: (Jogiyanto: 2003, 447).
Rumus:                     k
                                 ∑  RTN jt
                                 j=1
                    RRTNt= ────────
                                  k
Keterangan: RRTNt: rata-rata return tidak normal (average abnormal return) pada hari ke-t; RTN jt: return tidak normal (abnormal return) untuk sekuritas ke-i pada hari ke-t; K: jumlah sekuritas yang terpengaruh oleh pengumuman peristiwa
h.      Akumulasi rata-rata return tidak normal (ARRTN) atau cummulative average abnormal return (CAAR) dapat dihitung sebagai berikut: (Jogiyanto: 2003, 450).
Rumus:                       k
                                   ∑  ARTN it
                                   i=1
                    ARRTNt= ────────
                                    k
Keterangan: ARRTNt: akumulasi rata-rata return tidak normal (cummulative average abnormal return) pada hari ke-t: ARTN it: akumulasi return tidak normal (cummulative abnormal return) sekuritas ke-i pada hari ke-t; K: jumlah sekuritas yang terpengaruh oleh pengumuman peristiwa
i.        Tanggal pengumuman laporan keuangan itu adalah tanggal pada saat laporan keuangan dipublikasikan di harian nasional atau diperoleh dari laporan BAPEPAM.
3.3. Data
Data yang diperlukan adalah data sekunder yang meliputi harga pasar saham, pembayaran deviden tunai dan tanggal dikeluarkannya deviden dari perusahaan yang membagikan selama Perioda Januari 2004 sampai dengan 31 Desember 2006 dan tanggal pengumuman laporan keuangan yang diperoleh dari Pusat Database Pasar modal PPA UGM
3.4.Metode Analisis data
Dalam penelitian ini menggunakan metode Market model.  Market model pada dasarnya bertitik tolak dari pemikiran bahwa tingkat keuntungan yang diperoleh dari suatu saham dipengaruhi oleh tingkat keuntungan seluruh kesempatan investasi.
Langkah-langkah dalam metode market model sebagai berikut:
a)      Menghitung return saham perminggu dari perusahaan yang diteliti.
b)      Menghitung return pasar yang diperoleh.
c)      Membagi perusahaan dalam dua kelompok yaitu kelompok yang mengalami kenaikan laba dibanding perioda sebelumnya atau kelompok yang mengalami penurunan laba dibanding perioda sebelumnya.
d)      Mengurutkan dalam tabel, return saham (Rn) dan return pasar (Rmt) 5 perioda sebelum (t = -5) dan 5 perioda sesudah (t = +5) pengumuman laba, kemudian meregresikan kedua variabel tersebut dengan return saham sebagai variabel tergantung (dependent variable) dan return pasar sebagai variabel bebas (Independent variable). Perioda estimasi adalah 100 hari (t.-100,0).
e)      Dengan didapatkan hasil regresi pada butir d) selanjutnya dihitung normal return dan abnormal return. Abnormal return atau residual sama dengan tingkat keuntungan sesungguhnya dikurangi tingkat keuntungan yang diharapkan.
f)       Menghitung AAR1 pada masing-masing kelompok perusahaan, lalu menghitung nilai CAAR1 yang merupakan penjumlahan kumulatif dari AAR1 mulai dari t = -5 hingga t = +5.  Nilai CAAR menunjukkan total reaksi harga selama event window (Perioda peristiwa).
g)      Dari nilai CAAR masing-masing kelompok dibuat grafik dengan minggu sebagai sumbu X dan nilai CAAR sebagai sumbu Y.
h)      Dilakukan analisis pada tahap ketujuh di atas. Pada kelompok perusahaan yang labanya naik (turun) seharusnya didapatkan nilai CAAR meningkat (menurun) pada minggu sekitar tanggal pengumuman CAAR kembali mengikuti garis horisontal.
4. HASIL DAN TEMUAN PENELITIAN
4.1 Deskripsi Statistik
Kriteria sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah saham-saham yang banyak ditransaksikan selama perioda penelitian serta telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebelum 31 Desember 2003.  Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan laporan keuangan perusahaan untuk perioda 2003 yang diterbitkan pada perioda 2004 dan laporan keuangan tersebut untuk mengelompokkan data perusahaan-perusahaan yang labanya relatif naik dan perusahaan yang labanya relatif turun dari perioda ke perioda selama perioda penelitian. Tujuan dipilihnya saham yang banyak ditransaksikan adalah untuk menghindari tidak adanya reaksi harga pada saat laporan laba perusahaan diumumkan, yang disebabkan tidak terjadi transaksi pada tanggal pengumuman laporan keuangan.
Perusahaan yang diteliti berjumlah dua puluh sembilan (29) perusahaan LQ 45 dari perioda 2004 sampai dengan perioda 2006. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang konsisten antara perioda 2004 sampai dengan perioda 2006.
Tabel 1: Deskripsi Data

2004
2005
2006
Minimum
-0.79943
-0.78916
-0.10526
Maximum
 0.444444
4.333333
0.16
Mean
0.002426
0.003265
0.002129
Std. Deviation
0.028599
0.0298
0.0298
Valid N (listwise) 111

4.2 Return saham (Rit) dan Return Pasar (Rmt)
Dalam menghitung return saham dibutuhkan data harga saham dan nilai deviden bagi perusahaan yang membagikan devidennya. Sedangkan untuk menghitung return pasar dibutuhkan data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
4.3 Pengelompokan Perusahaan
Berdasarkan nilai Earning Per Share (EPS), masing-masing perusahaan dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan kumpulan perusahaan-perusahaan yang mengalami kenaikan laba (EPS naik) dari perioda sebelumnya dan kelompok kedua merupakan kumpulan perusahaan-perusahaan yang mengalami penurunan laba (EPS turun) dari perioda sebelumnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kategori perusahaan LQ 45 yang telah mengumumkan kenaikan laba dan penurunan laba adalah sebagai berikut:
Pertama, 29 perusahaan yang mengumumkan laba 2004, 18 perusahaan mengumumkan kenaikan laba (EPS meningkat) dan 11 perusahaan mengumumkan penurunan laba (EPS menurun). Kedua, 29 perusahaan yang mengumumkan laba 2005, 17 perusahaan mengumumkan kenaikan laba (EPS meningkat) dan 12 perusahaan mengumumkan penurunan laba (EPS menurun). Ketiga, 29 perusahaan yang mengumumkan laba 2006, 13 perusahaan mengumumkan kenaikan laba (EPS meningkat) dan 16 perusahaan mengumumkan penurunan laba (EPS menurun).
4.4 Perhitungan Abnormal Return
Di bagian ini menempatkan return saham (Rit) dan return pasar (Rmt) pada tiap perusahaan untuk perioda 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah pengumuman laporan keuangan tahunan perusahaan, kemudian meregresikan return saham (Rit) sebagai variabel tergantung (dependent variable) dan return pasar (Rmt) sebagai variabel bebas (Independent variable) untuk memperoleh αi dan βi.
4.5 Nilai Average Abnormal Return dan Cummulative Average Abnormal Return
Setelah dilakukan perhitungan abnormal return, nilai abnormal return masing-masing kelompok pada tiap-tiap kelompok pada tiap-tiap perioda penelitian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya sehingga menghasilkan nilai average abnormal return. Setelah itu dihitung nilai CAAR (Cummulative Average Abnormal Return) yaitu hasil dari penjumlahan nilai AAR selama perioda peristiwa untuk masing-masing kelompok perusahaan dan tiap-tiap perioda tahunnya. Tabel 2 menunjukkan nilai AAR dan CAAR pada perusahaan yang labanya naik dan labanya turun untuk perioda tahun 2004. Tabel 3 menunjukkan nilai AAR dan CAAR pada perusahaan yang labanya naik dan labanya turun untuk perioda tahun 2005. Tabel 4 menunjukkan nilai AAR dan CAAR pada perusahaan yang labanya naik dan labanya turun untuk Perioda tahun 2006.
Dari tabel 2 sampai dengan tabel 4 dibuat grafik dengan perioda (Time) sebagai sumbu X dan nilai CAAR (Cummulative Average Abnormal Return) sebagai sumbu Y hasilnya nampak pada gambar 1 sampai dengan gambar 6. Pada gambar 1 menunjukkan pergerakan CAAR pada perusahaan yang labanya naik untuk perioda tahun 2004. Pada gambar tersebut seharusnya menunjukkan peningkatan di sekitar tanggal pengumuman (di sekitar hari 0), tetapi ternyata pada gambar nampak pergerakan CAAR mengalami penurunan pada saat tanggal pengumuman laporan keuangan perusahaan. Gambar 2 menunjukkan pergerakan CAAR pada perusahaan yang labanya turun untuk perioda tahun 2004. Pada gambar 2 tersebut pergerakan CAAR mengalami penurunan pada saat tanggal pengumuman laporan keuangan perusahaan. Meskipun mengalami penurunan nilai CAAR tetapi pergerakan reaksinya cepat pada hari 1 sampai hari 5. Gambar 3 menunjukkan pergerakan CAAR pada perusahaan yang labanya naik untuk perioda tahun 2005. Pada gambar tersebut pergerakan CAAR mengalami penurunan hingga hari 2 setelah tanggal pengumuman laporan keuangan perusahaan. Gambar 4 menunjukkan pergerakan CAAR pada perusahaan yang labanya turun untuk perioda tahun 2005. Pada gambar tersebut untuk pasar efisien seharusnya mengalami penurunan di sekitar tanggal pengumuman tetapi di sekitar tanggal pengumuman pada hari 0 pergerakan CAAR mengalami peningkatan dan baru mengalami penurunan setelah pengumuman. Gambar 5 menunjukkan pergerakan CAAR pada perusahaan yang labanya naik untuk perioda tahun 2006. Pada gambar 5 seharusnya mengalami peningkatan CAAR di sekitar tanggal pengumuman tetapi pada gambar tersebut mengalami penurunan pada hari 0 saat pengumuman dan mengalami peningkatan pada hari 1 setelah tanggal pengumuman. Gambar 6 menunjukkan pergerakan CAAR pada perusahaan yang labanya turun untuk perioda tahun 2006. Pada gambar tersebut nampak pergerakan CAAR mengalami penurunan pada hari 2 dan 1 sebelum tanggal pengumuman dan mengalami peningkatan pada saat pengumuman (hari 0) dan pergerakan CAAR dapat dikatakan reaksinya lambat karena pada hari 3 sampai hari 5 pergerakan CAAR mengalami penurunan.



Tabel 2.    Nilai AAR dan CAAR Perioda Tahun 2004.
Hari
Labanya Naik
Labanya Turun
AAR
CAAR
AAR
CAAR
-5
0,007933166
0,007933166
0,000507815
0,000507815
-4
-0,000649304
0,007283862
-0,00383248
-0,003324666
-3
0,000656254
0,007940116
0,00943579
0,006111124
-2
-0,011832708
-0,003892591
-0,019789887
-0,013678763
-1
0,005644343
0,001751751
0,003617297
-0,010061466
0
-0,03157576
-0,029824008
-0,014322189
-0,024383655
1
0,027269588
-0,00255442
0,016386548
-0,007997107
2
-0,000299973
-0,002854394
-0,000181521
-0,008178629
3
0,001607973
-0,001246421
0,00743942
-0,000739208
4
-4,64142E-05
-0,001292835
-0,005269431
-0,006008639
5
-0,006346388
-0,007639224
0,020566189
0,01455755
Keterangan: AAR: Average abnormal returns; CAAR: Cummulative average abnormal returns

Gambar 1: Pergerakan Nilai CAAR Perusahaan yang Labanya Naik Perioda tahun 2004

Gambar 2: Pergerakan Nilai CAAR Perusahaan yang Labanya Turun Perioda tahun 2004



Tabel 3.    Nilai AAR dan CAAR Perioda Tahun 2005.
Hari
Labanya Naik
Labanya Turun
AAR
CAAR
AAR
CAAR
-5
-0,001381626
-0,001381626
0,005526637
0,005526637
-4
0,014869116
0,01348749
0,007787623
0,01331426
-3
-0,009661149
0,003826341
-0,001551196
0,011763063
-2
-0,013063331
-0,00923699
-0,000779902
0,010983161
-1
-0,004037187
-0,013274177
-0,008897507
0,002085654
0
-0,013600027
-0,026874204
0,001608059
0,003693713
1
-0,017407362
-0,044281567
-0,003257987
0,000435726
2
-0,010709421
-0,054990988
-0,018214305
-0,017778579
3
0,012258792
-0,042732196
-0,005235253
-0,023013832
4
0,005372849
-0,037359347
-0,011674471
-0,034688303
5
-0,012337033
-0,04969638
0,020069742
-0,014618561
Keterangan: AAR: Average abnormal returns; CAAR: Cummulative average abnormal returns

Gambar 3: Pergerakan Nilai CAAR Perusahaan yang Labanya Naik Perioda tahun 2005

Gambar 4: Pergerakan Nilai CAAR Perusahaan yang Labanya Turun Perioda tahun 2005


Tabel 4.    Nilai AAR dan CAAR Perioda Tahun 2006.
Hari
Labanya Naik
Labanya Turun
AAR
CAAR
AAR
CAAR
-5
-0,005156036
-0,005156036
-0,002410033
-0,002410033
-4
0,004871898
-0,000284138
-5,70886E-05
-0,002467122
-3
-0,004312399
-0,004596537
0,000976711
-0,001490411
-2
0,000693416
-0,003903121
-0,000556484
-0,002046896
-1
-0,005036477
-0,008939598
-0,002510573
-0,004557469
0
-0,000408712
-0,00934831
0,009186592
0,004629123
1
0,003287211
-0,006061099
-0,004010335
0,000618788
2
-0,006873705
-0,012934804
0,000404876
0,001023664
3
0,00246637
-0,010468434
0,004588277
0,005611941
4
-0,002705128
-0,013173562
-0,004161787
0,001450155
5
0,000785864
-0,012387698
-0,004873226
-0,003423071
Keterangan: AAR: Average abnormal returns; CAAR: Cummulative average abnormal returns

Gambar 5: Pergerakan Nilai CAAR Perusahaan yang Labanya Naik Perioda tahun 2006

Gambar 6: Pergerakan Nilai CAAR Perusahaan yang Labanya Turun Perioda tahun 2006
4.6 Pengujian Hipotesis.
1 Pengumuman 2004
Hasil di tabel 5 menunjukkan nilai rata-rata tidak normal (AAR) untuk 18 perusahaan yang labanya naik perioda tahun 2004 dan pengujian t (t-hitung) di hari-hari perioda peristiwa. AAR yang positif pada perioda peristiwa hanya terjadi pada hari ke -5, -3, +1, dan +4. AAR secara statistik tidak signifikan pada seluruh hari perioda peristiwa.
Sedangkan untuk 11 perusahaan yang labanya turun pada perioda tahun 2004 menunjukkan bahwa selama perioda peristiwa, AAR positif hanya terjadi pada hari -5, -3, -1, +1, +3, +5. AAR yang secara statistik signifikan hanya terjadi di hari +5 signifikan pada tingkat 10%. Hal ini menunjukkan adanya reaksi pasar yang lambat dalam merespon adanya pengumuman laba tersebut. Hal ini menunjukkan pasar belum efisien bentuk setengah kuat secara informasi (Jogiyanto: 2003, 411).
Tabel 5. Nilai AAR dan t-hitung Perusahaan Perioda Tahun 2004.
Hari
Labanya Naik
Labanya Turun
AAR
t-hitung
AAR
t-hitung
-5
0,003933538
0,644317248
0,000507815
0,428789439
-4
-0,000649304
0,243194121
-0,00383248
0,023555168
-3
0,00154401
0,179502757
0,00943579
0,94522116
-2
-0,014410166
-0,974372766
-0,019789887
-0,943803267
-1
-4,92177E-05
0,128571359
0,003617297
0,227116967
0
-0,014887178
-1,287452847
-0,014322189
-1,204874633
1
0,011601995
1,264951907
0,016386548
0,276311654
2
-0,001579938
-0,148772216
-0,000181521
0,039592623
3
-0,000978815
0,057503297
0,00743942
0,341333227
4
0,006195532
0,590012701
-0,005269431
-0,7399038
5
-0,005028696
-0,55679645
0,020566189*
1,33504921
Keterangan:    AAR: Average abnormal returns; *) Signifikan pada level 10%; **) Signifikan
pada level 5%; ***) Signifikan pada level 1%

2 Pengumuman 2005
Dari tabel 6 terlihat bahwa untuk perusahaan yang labanya naik pada perioda tahun 2005 menunjukkan bahwa selama perioda peristiwa, mulai dari hari -5 sampai dengan +5 cenderung memiliki nilai AAR yang negatif. Hanya di hari ke -4, +3, dan +4 yang memiliki AAR yang positif. AAR yang secara statistik signifikan hanya terjadi di hari +4 (signifikan pada tingkat 10%). Hal ini menunjukkan adanya reaksi pasar yang lambat dalam merespon adanya pengumuman laba tersebut. Hal ini menunjukkan pasar belum efisien bentuk setengah kuat secara informasi (Jogiyanto: 2003, 411).
Sedangkan untuk perusahaan yang labanya turun pada perioda tahun 2005 menunjukkan bahwa selama perioda peristiwa hanya di hari -5,-4, 0, +5 yang memiliki AAR positif. AAR yang secara statistik signifikan hanya terjadi di hari +5 (signifikan pada tingkat 1%). Hal ini menunjukkan adanya reaksi pasar yang lambat dalam merespon adanya pengumuman laba tersebut. Hal ini menunjukkan pasar belum efisien bentuk setengah kuat secara informasi (Jogiyanto: 2003, 411).
Tabel 6     Nilai AAR dan t-hitung Perusahaan Perioda Tahun 2005
Hari
Labanya Naik
Labanya Turun
AAR
t-hitung
AAR
t-hitung
-5
-0,001379591
-0,253633322
0,005526637
0,253043928
-4
0,014872362
0,914029779
0,007787623
0,63217228
-3
-0,009658632
-0,817525856
-0,001551196
-0,211604529
-2
-0,013060311
-1,215213037
-0,000779902
0,56079403
-1
-0,004034951
-0,750223323
-0,008897507
-1,135724943
0
-0,013598455
-0,830980237
0,001608059
0,794918939
1
-0,01847172
-1,560808811
-0,003257988
-0,508579921
2
-0,010707518
-0,254458468
-0,018214305
-2,552876784
3
0,012260976
1,247998992
-0,005235253
-0,429727015
4
0,0053747*
1,594542046
-0,011674471
-1,792580543
5
-0,012335231
-1,062984765
0,020069742***
2,513531853
Keterangan:    AAR: Average abnormal returns; *) Signifikan pada level 10%; **) Signifikan pada level 5%; ***) Signifikan pada level 1%

3 Pengumuman 2006
Hasil di tabel 7 menunjukkan bahwa selama perioda peristiwa, mulai hari -5 sampai dengan +5 terjadi rata-rata return tidak normal (AAR) yang cenderung negatif. Pada perusahaaan yang labanya naik, rata-rata return tidak normal secara statistik tidak signifikan. Hal ini berarti kondisi pasar sangat efisien karena informasi yang ada diterima secara merata oleh investor. Hal ini menunjukkan kalau kondisi pasar sudah mengarah ke bentuk setengah kuat secara informasi.
Sedangkan pada perusahaan yang labanya turun, rata-rata tidak normal secara statistik signifikan hanya terjadi pada saat diumumkannya peristiwa tersebut yaitu pada hari ke-0. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut mengandung informasi  dan pasar bereaksi cepat untuk menyerap informasi.
Tabel 7     Nilai AAR dan CAAR Perusahaan Naik Perioda Tahun 2006
Hari
Labanya Naik
Labanya Turun
AAR
t-hitung
AAR
t-hitung
-5
-0,005156036
-0,155219416
-0,002410033
-0,40833352775
-4
0,004871898
0,176724063
-0,000057089
0,12471485681
-3
-0,004312399
-0,169359337
0,000976711
-0,08827416149
-2
0,000693416
0,111820817
-0,000556484
-0,28827086938
-1
-0,005036477
-0,298217396
-0,002510573
-0,55060764890
0
-0,000408712
-0,077911454
0,009186592*
1,54567543504
1
0,003287211
0,127225592
-0,004010335
-0,46342946520
2
-0,006873705
-0,264440081
0,000404876
0,37294300966
3
0,00246637
0,166052605
0,004588277
0,45729941042
4
-0,001481917
0,099771935
-0,004161787
-0,67815665080
5
0,000785864
0,003508751
-0,004873226
-0,94433558842
Keterangan:    AAR: Average abnormal returns; *) Signifikan pada level 10%; **) Signifikan
pada level 5%; ***) Signifikan pada level 1%

Dengan demikian penelitian ini memberikan hasil bahwa pasar modal Indonesia belumlah efisien secara informasi dalam bentuk semi kuat (Semi Strong Form) untuk perioda tahun 2004 sampai dengan tahun 2006. Hal ini tidak jauh berbeda dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nursiam dan Puteranto (1998-2000). Walaupun demikian, kondisi pasar modal Indonesia sudah mulai mengarah ke bentuk semi kuat (Semi Strong Form). Hal ini bisa dilihat pada Perioda 2006 (Tabel 6) pasar bereaksi pada saat terjadi peristiwa pengumuman laba perusahaan.
4.7 Analisis dan Temuan
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa: pertama, investor bereaksi terhadap pengumuman laba perusahaaan. Bukti empiris ini mendukung sejumlah hasil studi empiris sebelumnnya (Ball dan Brown, 1968; Beaver, 1968; Beza, 1997; Hanafi, 1997; Purba, 1997; Sadikin, 2000; Lako, 2002a, 2002c) bahwa pengumuman laba membawa kandungan informasi ke pasar modal. Kedua, Perioda 2004 dan 2005, Investor tidak bereaksi positif terhadap pengumuman laba perusahaan yang labanya naik. Investor bereaksi positif terhadap pengumuman laba perusahaan yang labanya turun. Hasil empiris ini adalah kontradiksi dengan sejumlah hasil riset sebelumnya (Ball dan Brown, 1968; Foster, 1977; Hayn, 1995) bahwa pengumuman informasi laba GN (kenaikan laba) direspon lebih positif dibanding pengumuman informasi laba BN (penurunan laba). Namun temuan ini mendukung temuan Lako (2002a, 2002c) bahwa pengumuman penurunan laba  direaksi pasar sebagai GN sedangkan pengumuman kenaikan laba direaksi sebagai BN. Ketiga, Untuk pengumuman laba tahun 2006, tampaknya pasar bereaksi cepat dan tidak berkepanjangan untuk menyerap informasi pengumuman laba pada perusahaan yang labanya turun. Hal ini mendukung temuan Lako (2002a,c) bahwa pengumuman penurunan laba  direaksi pasar sebagai GN sedangkan pengumuman kenaikan laba direaksi sebagai BN.
Walaupun demikian, secara umum investor bereaksi lamban untuk menyerap informasi dari perusahaan yang mempublikasi labanya. Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor. (1) Kondisi Makro ekonomi yang terjadi sepanjang Perioda pengumuman laba 2004-2006. Sebagai contoh: pada Perioda 2006, perhatian investor banyak terfokus pada kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dimana menerapkan kebijakan penurunan suku bunga secara terukur dan berhati-hati. Kebijakan moneter yang ditempuh direspon positif oleh pasar keuangan. Di pasar keuangan, respon positif pelaku pasar keuangan tercermin dari peningkatan aktivitas perdagangan di pasar saham dan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan. Perkembangan indeks yang membaik didukung oleh faktor domestik dan faktor eksternal yang kondusif (Sumber: BI, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa Investor lebih tertarik pada perkembangan makro ekonomi dibandingkan informasi pengumuman laba. (2) Peristiwa gonjang ganjing politik terkait dengan Pemerintahan yang baru terbentuk, sosial, politik dan keamanan dalam negeri. (3) Ada indikasi Informasi laba yang diterima oleh Bapepam-LK menjadi tidak valid karena ada kemungkinan informasi laba tersebut sudah bocor terlebih dahulu sebelum diterima oleh Bapepam-LK. Sehingga pada saat pengumuman laba, investor dan pelaku pasar lainnya tidak merespon dengan cepat disekitar tanggal pengumuman laba. Investor menganggap informasi laba tersebut “basi“. Sebagai contoh: (1) PT Bakrie & Brothers terlebih dahulu mempublikasikan kinerja perusahaan dan laba bersih tahun 2005 sebelum audit pada tanggal 6 Februari 2006. Artinya, Pasar telah bereaksi terlebih dahulu terhadap informasi kinerja perusahaan jauh sebelum pengumuman laba tersebut dipublikasikan pada tanggal 29 Maret 2006 (Sumber: Bisnis Indonesia, 6 Februari 2006). (2) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk memaparkan rencana dan kinerja perusahaan untuk tahun 2005 pada tanggal 7 Februari. Artinya, pasar telah bereaksi terlebih dahulu terhadap informasi kinerja perusahaan jauh sebelum pengumuman laba tersebut dipublikasikan pada tanggal 2 Mei 2006 (Sumber: Bisnis Indonesia, 7 Februari 2006). (3) PT Kalbe Farma Tbk memaparkan kinerja perusahaan pada tanggal 2 Maret 2006 dan informasi laba bersih sebelum audit perusahaan tahun 2005 pada tanggal 10 Maret 2006. Artinya, pasar telah bereaksi terlebih dahulu terhadap informasi kinerja perusahaan jauh sebelum pengumuman laba tersebut dipublikasikan pada tanggal 29 Maret 2006 (Sumber: Bisnis Indonesia, 2 Maret dan 10 Maret 2006). (4) PT Indosat Tbk memaparkan informasi kinerja keuangan perusahaan untuk tahun 2005 pada tanggal 24 Maret 2006. Artinya, pasar telah bereaksi terlebih dahulu terhadap informasi kinerja perusahaan jauh sebelum pengumuman laba tersebut dipublikasikan pada tanggal 28 Maret 2006. (Sumber: Bisnis Indonesia, 24 Maret 2006). Hal ini menunjukkan bahwa pasar BEI belum efisien bentuk setengah kuat secara informasi maupun secara keputusan (Jogiyanto: 2003, 411).
5. SIMPULAN, SERTA KETERBATASAN DAN SARAN
Dari hasil pengujian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa: Pertama, pasar modal Indonesia belumlah efisien secara informasi dalam bentuk semi kuat (Semi Strong Form) untuk perioda tahun 2004 sampai dengan tahun 2006. Hal ini tidak jauh berbeda dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nursiam dan Lastiyono D Puteranto untuk tahun 1998-2000. Walaupun demikian, kondisi pasar modal Indonesia sudah mulai mengarah ke bentuk semi kuat (Semi Strong Form). Hal ini bisa dilihat pada perioda tahun 2006 karena pasar bereaksi cepat pada saat terjadi peristiwa pengumuman laba perusahaan. Kedua, investor bereaksi terhadap pengumuman laba perusahaan. Bukti empiris ini mendukung sejumlah hasil studi empiris sebelumnya (Ball dan Brown, 1968; Beaver, 1968; Lako, 2002a,c) bahwa pengumuman laba membawa kandungan informasi ke pasar modal. Ketiga, secara keseluruhan untuk perioda 2004-2006 investor bereaksi lamban untuk menyerap informasi dari perusahaan yang mempublikasi labanya. Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor. (1) Kondisi makro ekonomi yang terjadi sepanjang perioda pengumuman laba 2004-2006. (2) Peristiwa gonjang ganjing politik terkait dengan Pemerintahan yang baru terbentuk, sosial, politik dan keamanan dalam negeri. (3) Ada indikasi informasi laba yang diterima oleh Bapepam-LK menjadi tidak valid karena ada kemungkinan informasi laba tersebut sudah bocor terlebih dahulu sebelum diterima oleh Bapepam-LK. Sehingga pada saat pengumuman laba, investor dan pelaku pasar lainnya tidak merespon dengan cepat disekitar tanggal pengumuman laba. investor menganggap informasi laba tersebut ’basi’
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah: Pertama, pemilihan sampelnya hanya terbatas pada perusahaan-perusahaan emiten kelompok LQ45. Pemilihan tersebut kurang mewakili keseluruhan emiten yang terdaftar di BEI yang berjumlah kurang lebih 330an emiten. Karena itu, sampel untuk penelitian selanjutnya disarankan mencakup keseluruhan emiten di BEJ sehingga kesimpulan tentang reaksi investor terhadap pengumuman laba lebih komprehensif. Kedua, hanya memfokuskan pada reaksi pasar terhadap pengumuman laba untuk perusahaan LQ45 yang labanya naik dan perusahaan yang labanya turun untuk perioda tahun 2004 sampai dengan tahun 2006. Penelitian selanjutnya sebaiknya perlu mempertimbangkan penggunaan sampel dari seluruh perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dan perioda pengamatan yang lebih panjang.



DAFTAR PUSTAKA
Ball, R.J., and P. Brown. 1968. An Empirical Evaluation of Accouting Income Numbers. Journal of Accounting Research 7. pp. 300-323
Beaver, W. H. 1968. The Information Content of Annual Earning Announcements. Journal of Accounting Research. Vol. 6. No. 2. 67-1000
Beza, B. 1997. The Information Content of Annual Earning Announcement: A Trading Volume Approach. Tesis S2. Pascasarjana Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Foster, G., 1977. Accounting Earnings and Stock Prices of Insurances Companies. The Accounting Review. October. 686-698
______, 1986. Financial statement Analysis. 2nd Edition. Prentice-Hall. Englewood Cliffs. New Jersey
H. Farid., dan S. Sudomo. 1998. Perangkat dan Teknik Analisis Investasi. PT Bursa Efek Jakarta. Jakarta.
Hanafi, M. 1997. Informasi Laporan Keuangan: Studi Kasus Pada Emiten BEJ. KELOLA. No. 16. 75-100
Hartono, J. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kedua. BPFE. Yogyakarta
Hayn, C 1995. The Information Content of Losses. Journal of Accounting and Economics. Vol. LIX. October. 574-603
Husnan, S. 1996. Manajemen Keuangan. Teori dan Penerapan Keputusan Jangka Panjang. Edisi 4. BPFE. Yogyakarta
Jogiyanto, H.M. 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi 3. BPFE. Yogyakarta.
______, 2005. Pasar Efisien Secara Keputusan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka utama
Jurnal Pasar Modal Indonesia. 1997. Indeks LQ 45 dan Tantangan Bagi Emiten. No. 2/VIII. Februari. 10-13
Lako,A 2002a. Reaksi Pasar terhadap Publikasi Laba Emiten. Bank dan Manajemen. No. 64. (Januari-Februari). 45-51
______, 2002c. Telaah atas Reaksi Pasar terhadap Pengumuman Laba dan Kontribusi “Market Based Research“ Kandungan Informasi Pengumuman Laba. KOMPAK. (Mei). 200-220 STIE “YO“ Yogyakarta
______, 2006. Relevansi Informasi Akuntansi Untuk Pasar Saham Indonesia: Teori dan Bukti Empiris. Amara Books. Yogyakarta
Nursiam dan Lastiyono, D., P. 2004. Analisis Efisiensi Pasar Modal Indonesia Periode 1998-2000 (Studi pada PT Bursa Efek Jakarta). Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Volume 3. Hal. 1-23.
Purba, E. M. 1997. Return Harga Saham di Sekitar Pengumuman Laporan Keuangan. Tesis S-2. Tidak Diterbitkan. Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Sadikin, D. S. (2000). Pengaruh Publikasi Laporan Keuangan Terhadap Harga dan Volume Perdagangan Saham di BEJ Tahun 1997. TesisS2. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Scott, W.R. 2000. Financial Accounting Theory. Second Ed., Prentice-Hall International, Inc
Sunariyah. 2004. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi Keempat. UPP AMP YKPN. Yogyakarta.


Search Term :

Tidak ada komentar :