PEDOMAN IMPLEMENTASI PSAK 71

Sehubungan dengan adanya pertanyaan terkait PSAK 71. Berikut dibawah ini pedoman implementasi dari PSAK 71 yang merupakan bagian dari eksposure draft PSAK 71 yang diterbitkan oleh IAI. Ikatan Akuntan Indonesia


PEDOMAN IMPLEMENTASI

Pedoman ini melengkapi, namun bukan merupakan bagian dari PSAK 71. Nomor yang digunakan untuk pertanyaan adalah nomor pertanyaan yang digunakan dalam pedoman implementasi yang menyertai PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran

BAGIAN A: RUANG LINGKUP

A.1. Praktik penyelesaian secara neto: kontrak forward untuk membeli komoditas


Entitas XYZ melakukan kontrak forward dengan harga tetap untuk membeli 1 juta kilogram tembaga sesuai dengan persyaratan penggunaan ekspektasian. Kontrak mengizinkan XYZ memperoleh tembaga tersebut secara fisik pada akhir bulan dua belas atau membayar atau menerima penyelesaian secara neto dengan kas, sesuai dengan perubahan nilai wajar tembaga. Apakah kontrak tersebut dapat dicatat sebagai derivatif?

Meskipun kontrak tersebut memenuhi definisi derivatif, tetapi tidak selalu dicatat sebagai derivatif. Kontrak tersebut merupakan instrumen derivatif karena tidak memerlukan investasi awal neto, kontrak tersebut berdasarkan harga tembaga, dan akan diselesaikan pada suatu tanggal di masa depan. Akan tetapi, jika intensi XYZ untuk menyelesaikan kontrak dengan mengambil tembaga dan tidak memiliki pengalaman masa lalu untuk menyelesaikan kontrak serupa secara neto dengan kas atau mengambil tembaga tersebut dan menjualnya dalam jangka waktu dekat setelah pengiriman untuk memperoleh laba dari fluktuasi harga jangka pendek atau marjin dealer, maka kontrak tersebut tidak dicatat sebagai derivatif berdasarkan PSAK 71. Melainkan, dicatat sebagai kontrak eksekutori (kecuali entitas telah secara permanen menetapkan derivatif sebagai diukur pada nilai wajar melalui laba rugi sesuai dengan PSAK 71 paragraf 2.5).

A.2. Opsi untuk menjual aset nonkeuangan

Entitas XYZ memiliki gedung perkantoran. XYZ melakukan kontrak opsi jual dengan investor yang mengizinkan XYZ untuk menjual gedung tersebut pada investor seharga Rp150 juta. Nilai gedung saat ini adalah Rp175 juta1. Opsi kadaluarsa dalam lima tahun. Opsi tersebut, jika dieksekusi, dapat diselesaikan melalui penyerahan secara fisik atau secara neto dengan kas, sesuai pilihan XYZ. Bagaimana XYZ dan investor mencatat opsi tersebut?


Pencatatan oleh XYZ tergantung pada intensi XYZ dan praktik penyelesaian sebelumnya. Walaupun kontrak memenuhi definisi derivatif, XYZ tidak mencatatnya sebagai derivatif jika intensi XYZ untuk menyelesaikan kontrak melalui penyerahan gedung jika XYZ mengeksekusi opsinya dan tidak terdapat praktik penyelesaian secara neto sebelumnya (PSAK 71 paragraf 2.4; tetapi lihat juga PSAK 71 paragraf 2.5).

Akan tetapi, investor tidak dapat menyimpulkan bahwa opsi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembelian, penjualan, atau penggunaan yang diperkirakan oleh investor, karena investor tidak memiliki kemampuan untuk mensyaratkan pilihan penyerahan (PSAK 71 paragraf 2.7). Sebagai tambahan, opsi dapat diselesaikan secara neto dengan kas. Oleh karena itu, investor harus mencatat kontrak tersebut sebagai derivatif. Terlepas dari praktik sebelumnya, intensi investor tidak mempengaruhi apakah penyelesaian dilakukan dalam bentuk penyerahan atau kas. Investor telah menerbitkan opsi, dan written option yang memberikan pilihan bagi pemiliknya berupa penyelesaian secara fisik atau secara neto dengan kas tidak akan pernah memenuhi persyaratan penyerahan normal untuk pengecualikan dari PSAK 71 karena penerbit opsi tidak memiliki kemampuan untuk mensyaratkan pilihan penyerahan.

Akan tetapi, jika kontrak tersebut merupakan kontrak forward dan bukan suatu opsi, dan jika kontrak tersebut mensyaratkan dilakukannya penyerahan fisik dan entitas pelapor tidak memiliki pengalaman masa lalu untuk menyelesaikan secara neto dengan kas atau mengambil alih gedung tersebut lalu segera menjualnya untuk memperoleh laba dari fluktuasi harga jangka pendek atau marjin dealer, maka kontrak tersebut tidak dicatat sebagai derivatif. (Tetapi lihat juga PSAK 71 paragraf 2.5).

1  Dalam pedoman ini, jumlah moneter didenominasikan dalam “rupiah” (Rp).

 BAGIAN B: DEFINISI

B.1. Definisi instrumen keuangan: emas batangan

Apakah emas batangan merupakan instrumen keuangan (seperti kas) atau merupakan komoditas?

Emas batangan adalah komoditas. Walaupun emas batangan sangat likuid, namun tidak terdapat hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya yang melekat pada emas batangan tersebut.

B.2. Definisi derivatif: contoh derivatif dan underlying

 Apakah contoh kontrak derivatif yang lazim dan underlying?

 PSAK 71 mendefinisikan derivatif sebagai berikut:

Derivatif adalah instrumen keuangan atau kontrak lain yang termasuk dalam ruang lingkup Pernyataan ini dengan tiga karakteristik berikut ini:

(a) Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan (sering disebut dengan underlying), antara lain: suku bunga, harga instrumen keuangan, harga komoditas, kurs valuta asing, indeks harga atau indeks suku bunga, peringkat kredit atau indeks kredit, atau variabel lain. Untuk variabel nonkeuangan, variable tersebut tidak spesifik dengan pihak-pihak dalam kontrak.

(b) Tidak mensyaratkan investasi awal neto atau investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang disyaratkan untuk jenis kontrak lain yang diharapkan akan menghasilkan dampak serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar.

(c) Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan.

























Daftar di atas merupakan contoh kontrak yang umumnya memenuhi kualifikasi sebagai derivatif  
berdasarkan PSAK 71. Daftar tersebut bukan merupakan daftar yang komprehensif. Setiap kontrak yang memiliki underlying dapat merupakan derivatif. Selain itu, meskipun suatu instrumen  emenuhi definisi kontrak derivatif, ketentuan khusus mungkin diterapkan, sebagai contoh, derivatif cuaca (lihat PSAK 71 paragraf PP2.1), kontrak untuk membeli atau menjual item nonkeuangan seperti komoditas (lihat PSAK 71 paragraf 2.5–2.7 dan paragraf PPA.2) atau kontrak yang diselesaikan dengan saham milik entitas sendiri (lihat PSAK 50 paragraf 21–24). Oleh karena itu, entitas harus mengevaluasi kontrak tersebut untuk menentukan apakah terdapat karakteristik lain dari derivatif dan
apakah ketentuan khusus diterapkan.

B.3. Definisi derivatif: penyelesaian pada suatu tanggal di masa depan, interest rate swap dengan penyelesaian secara neto atau bruto

Untuk tujuan menentukan apakah interest rate swap merupakan instrumen keuangan derivatif berdasarkan PSAK 71, apakah terdapat perbedaan jika masing-masing pihak saling melakukan pembayaran bunga (penyelesaian secara bruto) atau menyelesaikannya secara neto?

Tidak. Definisi derivatif tidak bergantung pada penyelesaian secara bruto atau
neto.

Sebagai ilustrasi: Entitas ABC melakukan interest rate swap dengan pihak lawan (XYZ) yang mensyaratkan ABC untuk membayar suku bunga tetap 8% dan menerima jumlah variabel berdasarkan LIBOR tiga bulan, yang ditetapkan ulang setiap triwulan. Jumlah tetap dan variabel ditentukan berdasarkan jumlah nosional Rp100 juta. ABC dan XYZ tidak mempertukarkan jumlah nosional tersebut. ABC membayar atau menerima kas secara neto setiap triwulan yang  berdasarkan selisih antara 8% dan LIBOR tiga bulan. Sebagai alternatif, penyelesaian dapat dilakukan secara bruto.

Kontrak tersebut memenuhi definisi derivatif terlepas dari apakah penyelesaiannya dilakukan secara neto atau bruto karena nilai kontrak tersebut berubah sejalan dengan perubahan underlying variable (LIBOR), tanpa investasi awal neto dan penyelesaian terjadi di masa depan.

B.4. Definisi derivatif: prepaid interest rate swap (kewajiban pembayaran dengan suku bunga tetap yang dibayar dimuka pada saat dimulainya transaksi atau setelahnya)

Jika suatu pihak membayar dimuka kewajibannya berdasarkan pay-fixed, receive-variable interest rate swap saat dimulainya, apakah swap tersebut merupakan instrumen keuangan derivatif?

Ya. Sebagai ilustrasi: Entitas S menyepakati pay-fixed, receive-variable interest rate swap dengan jumlah nosional Rp100 juta, selama lima tahun dengan pihak lawan C. Suku bunga dari bagian swap yang bersifat variabel ditetapkan ulang setiap triwulan berdasarkan LIBOR tiga bulan. Suku bunga dari bagian swap yang bersifat tetap adalah 10% per tahun. Entitas S membayar dimuka kewajiban
dengan suku bunga tetap sejumlah Rp50 juta (Rp100 juta x 10% x 5 tahun) pada saat dimulainya swap, yang didiskonto menggunakan suku bunga pasar, dan berhak menerima pembayaran bunga atas Rp100 juta yang ditetapkan ulang setiap triwulan berdasarkan LIBOR tiga bulan selama umur swap tersebut.

Investasi awal neto dalam interest rate swap tersebut secara signifikan lebih rendah dari jumlah nosional yang menjadi dasar perhitungan besarnya pembayaran variabel pada variable leg. Kontrak tersebut mensyaratkan investasi awal neto yang lebih rendah dibandingkan jumlah dengan yang disyaratkan pada jenis kontrak lain yang diharapkan akan menghasilkan dampak serupa terhadap
perubahan faktor-faktor pasar, seperti obligasi suku bunga variabel. Oleh karena itu, kontrak tersebut memenuhi ketentuan dalam PSAK 71, yaitu “tidak dibutuhkannya investasi awal neto atau investasi awal neto yang lebih rendah dibandingkan dengan jumlah yang disyaratkan pada jenis kontrak lain yang diharapkan akan memiliki dampak serupa terhadap perubahan faktor-faktor pasar” Meskipun Entitas S tidak memiliki kewajiban di masa depan, namun penyelesaian akhir kontrak tersebut terjadi pada suatu tanggal di masa datang dan nilai kontrak tersebut berubah sejalan dengan perubahan indeks LIBOR.

Sejalan dengan hal tersebut, kontrak ini harus dianggap sebagai kontrak derivatif.


Apakah jawaban yang diberikan akan berubah jika kewajiban pembayaran dengan suku bunga tetap tersebut dibayar dimuka setelah pengakuan awalnya?

Jika fixed leg tersebut dibayar dimuka dalam periode berjalan, maka kejadian ini dianggap sebagai berakhirnya swap yang lama dan diterbitkannya instrumen baru yang dievaluasi berdasarkan PSAK 71.

B.5. Definisi derivatif: prepaid pay-variable, receive-fixed interest rate swap

Jika suatu pihak membayar dimuka kewajibannya berdasarkan pay-variable, receive-fixed interest rate swap saat awal kontrak atau setelahnya, apakah swap tersebut merupakan instrumen keuangan derivatif?

Tidak. Prepaid pay-variable, receive-fixed interest rate swap, bukan merupakan derivatif jika pembayaran dimuka dilakukan saat dimulainya transaksi dan bukan lagi merupakan derivatif jika pembayaran dimuka dilakukan setelah dimulainya transaksi karena akan menghasilkan imbal hasil atas pembayaran dimuka tersebut (diinvestasikan) yang jumlahnya setara dengan tingkat pengembalian dari instrumen utang dengan arus kas tetap. Jumlah pembayaran dimuka tersebut
tidak memenuhi kriteria derivatif, yaitu “tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang disyaratkan pada jenis kontrak lain yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa terhadap perubahan faktor pasar”.

Sebagai ilustrasi: Entitas S menyepakati pay-variable, receive-fixed interest rate swap dengan jumlah nosional Rp100 juta, selama lima tahun dengan pihak lawan C. Variable leg swap ditetapkan ulang setiap triwulan berdasarkan LIBOR tiga bulan. Pembayaran bunga tetap dihitung sebesar 10% dikali jumlah nosional swap, yaitu Rp10 juta per tahun. Entitas S membayar dimuka kewajibannya
dalam variable leg swap pada saat dimulainya transaksi sesuai suku bunga pasar yang berlaku, dan berhak menerima pembayaran bunga tetap sebesar 10% dari Rp100 juta per tahun.

Arus kas masuk dari kontrak tersebut setara dengan arus kas masuk dari instrumen keuangan dengan suku bunga anuitas tetap karena Entitas S mengetahui bahwa ia akan menerima Rp10 juta per tahun selama umur swap tersebut. Oleh karena itu, dengan mengasumsikan bahwa hal lainnya sama,
investasi awal kontrak harus setara dengan investasi awal pada instrumen keuangan lainnya yang memiliki suku bunga anuitas tetap. Dengan demikian, investasi awal neto dari pay-variable, receive-fixed interest rate swap, setara dengan investasi yang disyaratkan dalam kontrak nonderivatif yang
menghasilkan dampak yang serupa terhadap perubahan kondisi-kondisi pasar.

Berdasarkan alasan ini, instrumen ini tidak memenuhi kriteria derivatif berdasarkan PSAK 71 yaitu “tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang disyaratkan untuk jenis kontrak lain yang diharapkan akan
menghasilkan pengaruh yang serupa terhadap perubahan faktor pasar”. Oleh karena itu, kontrak ini tidak dapat dicatat sebagai derivatif dalam PSAK 71. 

Dengan melepas kewajibannya untuk membayar suku bunga variabel, sehingga Entitas S memberikan pinjaman kepada pihak lawan C.

B.6. Definisi derivatif: saling hapus pinjaman

Entitas A memberikan pinjaman berjangka waktu lima tahun dengan suku bunga tetap kepada Entitas B, dimana B pada saat yang sama memberikan pinjaman dengan nilai yang sama kepada A, berjangka waktu lima tahun dengan suku bunga variabel. Tidak terdapat pengalihan jumlah par kontraktual pada saat dimulainya transaksi pinjaman, karena A dan B memiliki perjanjian untuk
menyelesaikan secara neto. Apakah ini merupakan derivatif berdasarkan PSAK 71?

Iya. Hal ini memenuhi definisi derivatif (karena terdapat underlying variable, tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang disyaratkan untuk jenis kontrak lain yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa terhadap perubahan faktor pasar dan penyelesaian di masa depan).

Dampak kontraktual dari kedua pinjaman tersebut setara dengan interest rate  swap tanpa investasi awal neto. Transaksi nonderivatif dikelompokkan dan diperlakukan sebagai derivatif jika transaksi tersebut, secara substansi, menimbulkan derivatif. Indikatornya antara lain meliputi:

 transaksi dilakukan pada saat yang sama dan saling mempertimbangkan (in contemplation) satu dengan lainnya.
 transaksi memiliki pihak lawan yang sama. 
 transaksi terkait pada risiko yang sama.
 tidak terdapat kebutuhan ekonomi atau tujuan usaha substantif yang jelas untuk melakukan strukturisasi transaksi tersebut secara terpisah yang juga tidak mungkin dicapai melalui transaksi tunggal.

Jawaban yang sama juga diterapkan jika Entitas A dan Entitas B tidak memiliki perjanjian untuk menyelesaikan secara neto, karena definisi instrumen derivatif dalam PSAK 71 tidak mensyaratkan penyelesaian secara neto.

B.7. Definisi derivatif: opsi yang diperkirakan tidak akan dieksekusi

Definisi derivatif dalam PSAK 71 mensyaratkan bahwa instrumen “diselesaikan pada suatu tanggal di masa depan”. Apakah kriteria ini terpenuhi bahkan jika suatu opsi diperkirakan tidak akan dieksekusi, sebagai contoh, karena opsi tersebut dalam posisi tidak untung?

Iya. Suatu opsi akan diselesaikan saat dieksekusi atau saat jatuh tempo.

Kadaluarsa opsi saat jatuh tempo merupakan salah satu bentuk penyelesaian sekalipun tidak diperlukan adanya tambahan pertukaran imbalan.

B.8. Definisi derivatif: kontrak dalam valuta asing berdasarkan volume penjualan

Entitas XYZ, yang mata uang fungsionalnya dollar AS, menjual produknya di Perancis yang didenominasi dalam Euro. XYZ melakukan kontrak dengan bank investasi untuk mengkonversi Euro ke dollar AS menggunakan nilai tukar yang telah ditetapkan. Kontrak tersebut mensyaratkan XYZ mengirimkan Euro berdasarkan volume penjualannya di Perancis dan menerima dollar AS pada
nilai tukar yang telah ditetapkan yaitu 6.00. Apakah kontrak tersebut merupakan derivatif?

Iya. Kontrak tersebut memiliki dua underlying variable (kurs valuta asing dan volume penjualan), tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang disyaratkan untuk jenis kontrak lain yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa terhadap perubahan faktor pasar dan persyaratan pembayaran. PSAK 71 tidak mengecualikan derivatif yang didasarkan pada volume penjualan dalam ruang lingkupnya.

B.9. Definisi derivatif: forward dibayar dimuka

 Entitas melakukan kontrak forward untuk membeli sejumlah saham dalam satu tahun pada harga forward. Pada saat dimulainya kontrak entitas membayar dimuka saham tersebut berdasarkan harga yang berlaku saat ini. Apakah kontrak forward tersebut merupakan derivatif?

Tidak. Kontrak forward tersebut tidak memenuhi kriteria derivatif, yaitu “tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang disyaratkan untuk jenis kontrak lain yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa terhadap perubahan faktor pasar”.

Sebagai ilustrasi: Entitas XYZ menyepakati kontrak forward untuk membeli 1 juta lembar saham biasa T dalam satu tahun. Harga pasar saham T saat ini adalah Rp50 per lembar; harga forward satu tahun untuk saham T adalah Rp 55 per lembar. XYZ disyaratkan membayar dimuka pada saat dimulainya kontrak forward tersebut dengan total pembayaran Rp50 juta. Investasi awal sebesar
Rp50 juta dalam kontrak forward tersebut lebih rendah dari jumlah nosional yang diterapkan pada underlying, yaitu 1 juta lembar saham dengan harga forward Rp55 per lembar, atau sama dengan Rp55 juta. Akan tetapi, investasi awal neto tersebut mendekati investasi yang disyaratkan pada jenis kontrak lain yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa terhadap perubahan faktor pasar karena saham T dapat dibeli pada saat dimulainya kontrak dengan harga yang sama, yaitu Rp50. Sejalan dengan hal tersebut, kontrak forward dibayar dimuka tidak memenuhi kriteria investasi awal neto instrumen derivatif.

B.10. Definisi derivatif: investasi awal neto

Beberapa instrumen derivatif, seperti kontrak futures dan written option yang diperdagangkan, mensyaratkan margin account. Apakah margin account ini merupakan bagian dari investasi awal neto?

Tidak. Margin account bukan merupakan bagian dari investasi awal neto dalam instrumen derivatif. Margin account merupakan salah satu bentuk agunan bagi pihak lawan atau clearing house dan dapat berbentuk kas, surat berharga, atau aset spesifik lainnya, umumnya berupa aset yang likuid. Margin account merupakan aset yang dipisahkan dan dicatat secara terpisah.

B.11. Definisi dimiliki untuk diperdagangkan: portofolio dengan pola pengambilan keuntungan jangka pendek baru-baru ini

Definisi aset keuangan atau liabilitas keuangan dimiliki untuk diperdagangkan menyatakan bahwa “aset keuangan atau liabilitas keuangan diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki untuk diperdagangkan jika merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama-sama dan terdapat bukti mengenai pola pengambilan keuntungan jangka pendek barubaru
ini”. Apa yang dimaksud “portofolio” untuk tujuan penerapan definisi ini?

Walaupun istilah “portofolio” tidak secara eksplisit didefinisikan dalam PSAK

71, konteks penggunaannya bahwa portofolio adalah kelompok aset keuangan atau liabilitas keuangan yang dikelola sebagai bagian dari kelompok tersebut  (PSAK 71 Lampiran A). Jika terdapat bukti mengenai pola pengambilan keuntungan jangka pendek baru-baru ini atas instrumen keuangan dalam portofolio tersebut, maka instrumen keuangan tersebut memenuhi kualifikasi dalam kelompok instrumen dimiliki untuk diperdagangkan meskipun terdapat instrumen keuangan individual yang dalam kenyataannya dimiliki untuk periode waktu yang lebih lama.

B.24. Definisi jumlah tercatat bruto: instrumen utang perpetual dengan suku bunga tetap atau suku bunga pasar variabel

Terkadang, entitas membeli atau menerbitkan instrumen utang yang disyaratkan diukur pada biaya perolehan diamortisasi dan dalam hal ini penerbit tidak memiliki kewajiban untuk melunasi jumlah tercatat bruto. Suku bunga dapat dibayarkan berdasarkan suku bunga tetap atau variabel. Apakah selisih antara jumlah awal yang dibayar atau diterima dan nol (jumlah jatuh tempo) harus segera diamortisasi saat pengakuan awal untuk menentukan biaya perolehan diamortisasi jika suku bunganya tetap atau suku bunga pasar variabel?

Tidak. Karena tidak terdapat pelunasan jumlah tercatat bruto, maka tidak ada amortisasi untuk selisih antara jumlah awal dan jumlah jatuh tempo jika suku bunga tetap atau suku bunga pasar variabel. Karena pembayaran bunganya bersifat tetap atau berdasarkan suku bunga pasar dan akan dibayarkan untuk jangka waktu yang tidak terhingga, maka biaya perolehan diamortisasi (nilai kini dari aliran pembayaran kas di masa depan yang didiskonto pada suku bunga efektif) setara dengan jumlah tercatat bruto di setiap periode.

B.25. Definisi jumlah tercatat bruto: instrumen utang perpetual dengan suku bunga menurun

Jika suku bunga yang ditetapkan atas instrumen utang perpetual menurun sepanjang waktu, apakah jumlah tercatat bruto akan setara dengan jumlah par kontraktual di setiap periode?

Tidak. Berdasarkan sudut pandang ekonomi, sebagian atau seluruh pembayaran bunga kontraktual merupakan pelunasan atas jumlah tercatat bruto. Sebagai contoh, suku bunga dapat ditetapkan sebesar 16% untuk 10 tahun pertama dan 0% pada periode berikutnya. Dalam kasus tersebut, jumlah awal diamortisasi hingga nol selama 10 tahun pertama menggunakan metode bunga efektif, karena
sebagian dari bunga kontraktual yang dibayarkan merepresentasikan pelunasan jumlah tercatat bruto. Jumlah tercatat bruto adalah nol setelah tahun kesepuluh, karena nilai kini aliran pembayaran kas masa depan setelah tahun kesepuluh berjumlah nol (tidak ada pembayaran kas kontraktual pada periode berikutnya).

B.26. Contoh penghitungan jumlah tercatat bruto: aset keuangan

Bagaimana menghitung jumlah tercatat bruto untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, sesuai dengan PSAK 71?

Jumlah tercatat bruto dihitung menggunakan metode bunga efektif. Suku bunga efektif dari instrumen keuangan merupakan suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi arus kas yang berasal dari instrumen keuangan sepanjang perkiraan umur instrumen atau, jika tepat, periode yang lebih singkat dengan jumlah tercatat bruto pada pengakuan awal. Perhitungan tersebut mencakup seluruh fee (imbalan) dan komisi yang dibayarkan atau diterima yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suku bunga efektif, biaya transaksi yang secara langsung dapat diatribusikan dan seluruh premium atau diskonto lainnya.

Contoh berikut mengilustrasikan bagaimana jumlah tercatat bruto dihitung menggunakan metode bunga efektif. Entitas A membeli instrumen utang dengan sisa waktu lima tahun sebelum jatuh tempo dengan nilai wajar Rp1.000 (termasuk biaya transaksi). Instrumen ini memiliki jumlah par ontraktual senilai Rp1.250 dan suku bunga tetap sebesar 4,7% yang dibayarkan setiap tahun (Rp1.250 x 4,7% = Rp59 per tahun). Kontrak juga menetapkan bahwa peminjam memiliki opsi untuk membayar dimuka instrumen tersebut pada par tanpa dikenakan penalti. Pada awalnya, entitas memperkirakan bahwa peminjam tidak akan membayar dimuka (dan, oleh karena itu, entitas menetukan bahwa nilai wajar dari fitur percepatan pelunasan tidak signifikan ketika pengakuan awal aset keuangan).

Dapat ditunjukkan bahwa untuk mengalokasikan penerimaan bunga dan diskon awal selama jangka waktu instrumen utang pada tingkat yang konstan atas jumlah tercatat, maka harus dilakukan akrual terhadap keduanya pada tingkat 10% setiap tahunnya. Tabel di bawah ini menyajikan informasi mengenai jumlah tercatat bruto, pendapatan bunga dan arus kas dari instrumen utang pada setiap
periode pelaporan.



Pada hari pertama tahun 20X2, entitas merevisi estimasi arus kasnya. Entitas memperkirakan bahwa 50% dari jumlah par kontraktual akan dibayar dimuka pada akhir 20X2 dan sisa 50% pada akhir 20X4. Sesuai PSAK 71 paragraf PP5.4.6, jumlah tercatat bruto instrumen utang tahun 20X2 disesuaikan. Jumlah tercatat bruto dihitung kembali dengan mendiskonto jumlah yang diperkirakan
akan diterima entitas tahun 20x2 dan tahun-tahun berikutnya menggunakan suku bunga efektif awal (10%). Hasilnya adalah jumlah tercatat bruto baru tahun 20x2 sebesar Rp1.138. Penyesuaian sebesar Rp52 (Rp1.138 – Rp1.086) dicatat dalam laba rugi tahun 20x2. Tabel di bawah ini menyajikan informasi mengenai jumlah tercatat bruto, pendapatan bunga dan arus kas setelah disesuaikan dengan
memperhitungkan perubahan estimasi.



B.27. Contoh penghitungan jumlah tercatat bruto: instrumen utang dengan stepped interest payments

Terkadang entitas membeli atau menerbitkan instrumen utang dengan suku bunga yang telah ditentukan sebelumnya yang akan meningkat atau menurun secara progresif (stepped interest) sepanjang umur instrumen utang tersebut. Jika instrumen utang dengan stepped interest dan tidak memiliki derivatif melekat diterbitkan pada Rp1.250 dan memiliki jumlah jatuh tempo sebesar
Rp1.250, apakah nilai tercatat bruto instrumen utang tersebut akan sama dengan Rp1.250 pada setiap periode pelaporan sepanjang umur instrumen utang tersebut?

Tidak. Meskipun tidak terdapat selisih antara jumlah awal dan jumlah jatuh tempo, entitas menggunakan metode bunga efektif untuk mengalokasikan pembayaran bunga sepanjang umur instrumen utang tersebut untuk mendapatkan tingkat konstan atas jumlah tercatat.

Contoh berikut ini mengilustrasikan bagaimana jumlah tercatat bruto dihitung menggunakan metode bunga efektif untuk instrumen dengan suku bunga yang telah ditentukan sebelumnya, yang meningkat atau menurun sepanjang umur instrumen utang tersebut (‘stepped interest’).

Pada 1 Januari 20X0, Entitas A menerbitkan instrumen utang dengan harga Rp1.250. Jumlah par kontraktual adalah Rp1.250 dan instrumen utang tersebut akan dilunasi pada 31 Desember 20X4. Suku bunga dinyatakan dalam perjanjian utang sebagai suatu persentase dari jumlah par kontraktual sebagai berikut: 6% pada tahun 20X0 (Rp75), 8% pada tahun 20X1 (Rp100), 10% pada tahun 20X2
(Rp125), 12% pada tahun 20X3 (Rp150), dan 16,4% pada tahun 20X4 (Rp205).

Dalam kasus ini, suku bunga yang secara tepat mendiskontokan aliran pembayaran kas masa depan hingga jatuh temponya adalah 10%. Oleh karena itu, pembayaran bunga secara kas dialokasikan sepanjang umur instrumen utang untuk menentukan besarnya jumlah tercatat bruto di setiap periode. Pada setiap periode jumlah tercatat bruto di awal periode dikalikan dengan suku bunga efektif sebesar 10% dan ditambahkan pada jumlah tercatat bruto. Setiap pembayaran kas dalam periode tersebut dikurangkan dari hasil perkalian. Sejalan dengan hal tersebut, jumlah tercatat bruto untuk setiap periode adalah sebagai berikut:



B.28. Kontrak reguler: tidak terdapat pasar

Dapatkah kontrak untuk membeli aset keuangan dianggap sebagai kontrak reguler jika tidak terdapat pasar untuk memperdagangkan kontrak tersebut?

Iya. PSAK 71 mengacu pada persyaratan yang mensyaratkan penyerahan aset dalam kerangka waktu yang umumnya ditetapkan oleh regulasi atau konvensi yang berlaku di pasar. Istilah pasar yang digunakan tidak terbatas pada bursa saham resmi atau pasar over the counter yang terorganisir. Namun, istilah ini lebih dimaksudkan untuk mewakili suatu lingkungan dimana aset keuangan
biasanya dipertukarkan. Kerangka waktu yang dapat diterima adalah periode yang wajar dan umumnya disyaratkan oleh pihak-pihak yang terlibat untuk menyelesaikan transaksi serta menyiapkan dan melaksanakan penutupan dokumen transaksi.

Sebagai contoh, pasar untuk instrumen keuangan yang diterbitkan secara terbatas (private issue) dapat disebut sebagai pasar.



B.29. Kontrak reguler: kontrak forward

Entitas ABC melakukan kontrak forward untuk membeli 1 juta saham biasa M dalam dua bulan dengan harga Rp10 per lembar. Kontrak tersebut dilakukan dengan individu dan bukan merupakan kontrak yang diperdagangkan. Kontrak tersebut mensyaratkan ABC untuk menerima saham secara fisik dan membayar kas pada pihak lawan sejumlah Rp10 juta. Saham M rata-rata diperdagangkan
di pasar yang aktif sebanyak 100.000 lembar per hari. Penyerahan reguler dilakukan dalam tiga hari. Apakah kontrak forward tersebut merupakan kontrak reguler?

Tidak. Kontrak tersebut harus dicatat sebagai derivatif karena tidak diselesaikan sesuai dengan peraturan atau konvensi yang berlaku di pasar.

B.30. Kontrak reguler: ketentuan penyelesaian mana yang diterapkan?

Jika instrumen keuangan milik entitas diperdagangkan di lebih dari satu pasar aktif dengan ketentuan penyelesaian yang berbeda-bedadalam berbagai pasar aktif, ketentuan manakah yang diterapkan untuk menilai apakah kontrak untuk membeli instrumen keuangan tersebut merupakan kontrak reguler?

Ketentuan yang diterapkan adalah ketentuan yang berlaku di pasar tempat pembelian instrumen tersebut.

Sebagai ilustrasi: Entitas XYZ membeli 1 juta lembar saham Entitas ABC di bursa saham Amerika, sebagai contoh, melalui perantara efek. Tanggal penyelesaian kontrak adalah enam hari kerja berikutnya. Perdagangan saham di bursa Amerika biasanya diselesaikan dalam tiga hari kerja. Karena kontrak tersebut akan diselesaikan dalam enam hari kerja, maka kontrak tersebut bukan merupakan perdagangan reguler.

Akan tetapi, jika XYZ melakukan transaksi yang sama dalam valuta asing, dimana kontrak biasanya diselesaikan dalam enam hari kerja, maka kontrak tersebut merupakan perdagangan reguler.

B.31. Kontrak reguler: pembelian saham menggunakan opsi beli

Entitas A membeli opsi beli di bursa yang mengizinkan untuk membeli 100 lembar saham Entitas XYZ setiap saat dalam kurun waktu tiga bulan ke depan dengan harga Rp100 per lembar. Jika Entitas A mengeksekusi opsinya, maka entitas A memiliki waktu selama 14 hari untuk menyelesaikan transaksinya

sesuai dengan peraturan atau konvensi yang berlaku di pasar opsi. Saham XYZ diperdagangkan di pasar aktif yang mensyaratkan waktu penyelesaian dalam tiga hari kerja. Apakah pembelian saham dengan mengeksekusi opsi tersebut merupakan pembelian saham reguler?

Iya. Penyelesaian opsi diatur menggunakan peraturan atau konvensi yang berlaku di pasar opsi, dan oleh karena itu, pada saat opsi tersebut dieksekusi, opsi tidak lagi dicatat sebagai derivatif karena penyelesaian dalam bentuk penyerahan saham dalam kurun waktu 14 hari merupakan transaksi reguler.

B.32. Pengakuan dan penghentian pengakuan liabilitas keuangan menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian

PSAK 71 memiliki aturan khusus mengenai pengakuan dan penghentian pengakuan aset keuangan menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian. Apakah aturan ini juga diterapkan untuk transaksi instrumen keuangan yang diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan, seperti transaksi dalam depost liabilities dan trading liabilities?

Tidak. PSAK 71 tidak mengandung persyaratan khusus mengenai akuntansi tanggal perdagangan dan akuntansi tanggal penyelesaian untuk kasus transaksi instrumen keuangan yang diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan. Oleh karena itu, ketentuan umum mengenai pengakuan dan penghentian pengakuan dalam PSAK 71 paragraf 3.1.1 dan PSAK 71 paragraf 3.3.1 diterapkan. PSAK 71 paragraf 3.1.1 menetapkan bahwa liabilitas keuangan diakui pada tanggal dimana entitas “menjadi salah satu pihak dalam ketentuan kontraktual instrumen”. Kontrak tersebut umumnya tidak diakui kecuali jika salah satu pihak telah melaksanakan isi kontrak atau jika kontrak tersebut merupakan kontrak derivatif yang tidak dikecualikan dari ruang lingkup PSAK 71. PSAK 71 paragraf 3.3.1 menetapkan bahwa liabilitas keuangan akan dihentikan pengakuannya hanya jika kewajiban tersebut tidak ada lagi, yaitu ketika kewajiban yang dinyatakan dalam kontrak dihentikan atau dibatalkan atau
kadaluarsa.

 BAGIAN C: DERIVATIF MELEKAT

C.1. Derivatif melekat: pemisahan instrumen utang utama

Jika derivatif melekat nonopsi disyaratkan untuk dipisahkan dari instrumen utang utamanya, bagaimana cara mengidentifikasi persyaratan instrumen utang utama dan derivatif melekat tersebut? Sebagai contoh, apakah instrumen utang utama merupakan instrumen dengan suku bunga tetap, instrumen dengan suku bunga variabel, atau instrumen tanpa pembayaran kupon?

Persyaratan instrumen utang utama mencerminkan persyaratan substantif yang eksplisit atau implisit dimiliki oleh kontrak hibrida. Jika persyaratan implisit atau eksplisit tersebut tidak tersedia, maka entitas membuat pertimbangan sendiri mengenai persyaratan tersebut. Akan tetapi, entitas mungkin tidak bisa mengidentifikasi komponen yang tidak dinyatakan atau mungkin tidak dapat  menetapkan persyaratan instrumen utang utama dalam suatu cara yang akan menghasilkan pemisahan derivatif melekat yang tidak secara nyata terdapat dalam kontrak hibrida tersebut, dengan kata lain, entitas tidak dapat menciptakan arus kas yang sebenarnya tidak ada. Sebagai contoh, jika instrumen utang dengan jangka waktu lima tahun memiliki pembayaran bunga tetap sebesar Rp40.000 per tahun dan pembayaran kontraktual saat jatuh tempo sebesar Rp1.000.000 dikalikan dengan perubahan indeks harga ekuitas, maka tidak tepat untuk mengidentifikasi kontrak utama dengan suku bunga mengambang dan embedded equity swap yang memiliki floating rate leg yang saling hapus sebagai pengganti untuk mengidentifikasi kontrak utama dengan suku bunga tetap tersebut. Pada contoh di atas, kontrak utama merupakan instrumen utang berbunga tetap sebesar Rp40.000 per tahun karena kontrak hibrida tersebut tidak memiliki arus kas dari suku bunga mengambang.

Sebagai tambahan, persyaratan yang dimiliki derivatif melekat nonopsi, seperti forward atau swap, harus ditentukan sedemikian rupa sehingga menghasilkan derivatif melekat yang memiliki nilai wajar nol pada saat dimulainya kontrak hibrida. Jika entitas diizinkan memisahkan derivatif melekat nonopsi berdasarkan persyaratan lainnya, maka kontrak hibrida dapat dipisahkan menjadi
instrumen utang utama dan derivatif melekat dalam kombinasi yang tidak terhingga jumlahnya, sebagai contoh, pemisahan derivatif melekat dengan persyaratan yang menciptakan leverage, asimetri, atau beberapa eksposur risiko lainnya, yang sebelumnya tidak dimiliki kontrak hibrida tersebut. Oleh karena itu, adalah tidak tepat untuk memisahkan derivatif melekat nonopsi dengan
persyaratan yang akan menghasilkan nilai wajar selain nol pada saat dimulainya kontrak hibrida. Penetapan persyaratan derivatif melekat didasarkan pada kondisi yang ada ketika instrumen keuangan diterbitkan.

C.2. Derivatif melekat: pemisahan opsi melekat

Jawaban atas pertanyaan C.1 menyatakan bahwa persyaratan yang dimiliki derivatif melekat nonopsi harus ditentukan sedemikian rupa agar menghasilkan derivatif melekat yang nilai wajarnya nol saat pengakuan awal kontrak hibrida. Ketika derivatif berbasis opsi melekat (embedded option-based derivative)

dipisahkan, apakah persyaratan dari opsi melekat tersebut harus ditentukan sedemikian rupa sehingga derivatif melekat tersebut memiliki nilai wajar nol atau memiliki nilai intrinsik nol (yaitu, dalam posisi impas) pada saat dimulainya kontrak hibrida?

Tidak. Perilaku ekonomi kontrak hibrida dengan derivatif melekat berbasis opsi sangat bergantung pada strike price (atau strike rate) yang ditetapkan untuk fitur opsi dalam kontrak hibrida tersebut, sebagaimana diskusikan di bawah ini. Oleh karena itu, pemisahan derivatif melekat berbasis opsi (termasuk fitur seperti put, call, cap, floor, caption, floortion, atau swaption yang melekat pada kontrak hibrida) harus didasarkan pada persyaratan yang dinyatakan dalam fitur opsi tersebut yang didokumentasikan dalam kontrak hibrida. Sebagai akibatnya, derivatif melekat tidak selalu memiliki nilai wajar atau nilai intrinsik setara dengan nol saat pengakuan awal kontrak hibrida.

Jika entitas disyaratkan untuk mengidentifikasi persyaratan derivatif berbasis opsi melekat untuk menghasilkan nilai wajar derivatif melekat sama dengan nol, maka strike price (atau strike rate) umumnya harus ditentukan sedemikian rupa sehingga opsi tersebut selamanya berada dalam keadaan posisi tidak untung. Hal ini mengimplikasikan bahwa probabilitas fitur opsi yang akan dieksekusi sama dengan nol. Akan tetapi, karena probabilitas digunakannya fitur opsi yang ada dalam kontrak hibrida umumnya tidak sama dengan nol, maka mengasumsikan nilai wajar awal fitur opsi sama dengan nol tidaklah konsisten dengan perilaku ekonomi kontrak hibrida. Serupa dengan hal tersebut, jika entitas diharuskan mengidentifikasi persyaratan bagi derivatif berbasis opsi melekat sehingga nilai intrinsik derivatif melekat tersebut sama dengan nol, maka strike price (atau strike rate) harus diasumsikan setara dengan harga (atau suku bunga) underlying variable saat pengakuan awal kontrak hibrida. Dalam hal ini, nilai wajar opsi tersebut hanya terdiri atas nilai waktu. Akan tetapi, asumsi tersebut tidak sejalan dengan perilaku ekonomi kontrak hibrida yang mungkin terjadi, termasuk probabilitas bahwa fitur opsi tersebut akan dieksekusi, kecuali jika strike price yang disepakati benar benar setara dengan harga (atau suku bunga) underlying saat pengakuan awal kontrak hibrida.

Karakteristik ekonomi derivatif melekat berbasis opsi secara fundamental berbeda dari karakteristik ekonomi derivatif melekat berbasis forward (termasuk forward dan swap), karena persyaratan forward mengharuskan pembayaran didasarkan pada selisih antara harga dari underlying dan harga forward yang akan terjadi pada tanggal yang telah ditentukan, sementara persyaratan opsi  
mengharuskan pembayaran didasarkan pada selisih antara harga underlying dan strike price opsi yang mungkin terjadi atau tidak, tergantung pada hubungan antara strike price yang disepakati dan harga underlying pada tanggal tertentu atau tanggal yang telah ditentukan di masa depan. Penyesuaian strike price derivatif melekat berbasis opsi akan mengubah karakteristik kontrak hibrida. Di lain pihak, jika persyaratan derivatif melekat nonopsi dalam instrumen utang utama telah ditentukan sedemikian rupa sehingga nilai wajar derivatif melekat tersebut tidak sama dengan nol pada saat dimulainya kontrak hibrida, maka jumlah tersebut pada hakikatnya merupakan pinjaman yang diterima atau diberikan. Sejalan dengan hal tersebut, sebagaimana dibahas dalam jawaban atas
pertanyaan C.1, adalah tidak tepat untuk memisahkan derivatif melekat nonopsi dalam instrumen utang utama berdasarkan persyaratan yang akan menghasilkan nilai wajar yang tidak sama dengan nol pada pengakuan awal kontrak hibrida.

C.4. Derivatif melekat: equity kicker

Di sejumlah kasus, entitas modal ventura yang meneydiakan pinjaman subordinasi setuju bahwa jika dan ketika pihak peminjam mencatatkan sahamnya di bursa, maka entitas modal ventura tersebut berhak menerima saham entitas peminjam secara cuma-cuma atau dengan harga yang sangat
rendah (“equity kicker”) sebagai tambahan pembayaran kontraktual. Sebagai akibat dari adanya fitur equity kicker, suku bunga pinjaman subordinasi tersebut lebih rendah dari yang seharusnya. Dengan mengasumsikan bahwa pinjaman subordinasi tersebut tidak diukur pada nilai wajar dengan perubahan nilai wajar diakui dalam laba rugi (PSAK 71 paragraf 4.3.3(c)), apakah fitur equity kicker ini memenuhi definisi derivatif melekat meskipun keberadaannya bersifat kontinjen terhadap pencatatan saham pihak peminjam di masa depan?

Iya. Karakteristik ekonomi dan risiko imbal hasil ekuitas tidak berkaitan erat dengan karakteristik ekonomi dan risiko instrumen utang utama (PSAK 71 paragraf 4.3.3(a)). Equity kicker memenuhi definisi derivatif karena memiliki nilai yang berubah sejalan dengan perubahan harga saham pihak peminjam, equity kicker tidak mensyaratkan investasi awal neto atau memerlukan investasi
awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan untuk jenis kontrak lain yang diperkirakan akan memiliki dampak serupa terhadap perubahan faktor pasar, dan equity kicker diselesaikan pada suatu tanggal di masa depan (PSAK 71 paragraf 4.3.3(b)) dan Lampiran A). Fitur equity kicker memenuhi definisi derivatif meskipun hak untuk menerima saham
tersebut bersifat kontinjen terhadap pencatatan saham pihak peminjam di masa depan. PSAK 71 Paragraf PPA.1 menyatakan bahwa derivatif dapat mensyaratkan pembayaran sebagai akibat terjadinya peristiwa di masa depan yang tidak berkaitan dengan jumlah nosional. Fitur equity kicker serupa dengan derivatif tersebut kecuali fitur equity kicker tidak memberi hak untuk menerima
pembayaran tetap, namun memberi hak opsi, jika peristiwa di masa depan terjadi.


C.6. Derivatif melekat: instrumen sintetis

Entitas A menerbitkan instrumen utang berjangka waktu lima tahun dengan suku bunga mengambang. Pada saat yang sama, Entitas A menyepakati pay-fixed, receive-variable interest rate swap selama lima tahun dengan Entitas B. Entitas A menganggap kombinasi instrumen utang dan swap tersebut sebagai instrumen sintetis dengan suku bunga tetap. Entitas A mengganggap bahwa pemisahan pencatatan untuk swap tidak tepat karena PSAK 71 paragraf PP4.3.8(a) mensyaratkan derivatif melekat diklasifikasikan bersama dengan instrumen utamanya apabila derivatif tersebut dikaitkan pada suku bunga yang dapat mengubah jumlah bunga kontraktual yang seharusnya dibayarkan atau diterima atas kontrak utang utamanya. Apakah analisis Entitas A benar?

Tidak. Instrumen derivatif melekat merupakan persyaratan dan ketentuan yang termasuk dalam kontrak utama nonderivatif. Umumnya tidak tepat untuk memperlakukan dua atau lebih instrumen keuangan yang terpisah sebagai satu instrumen gabungan (pencatatan "instrumen sintetis") untuk tujuan penerapan PSAK 71. Setiap instrumen keuangan memiliki persyaratan dan ketentuan
masing-masing, dan dapat dialihkan atau diselesaikan secara terpisah. Oleh karena itu, instrumen utang dan swap diklasifikasikan secara terpisah. Transaksi yang dijelaskan di sini berbeda dari transaksi yang dibahas pada Pertanyaan B.6, dimana substansinya sama dengan interest rate swap.

C.7. Derivatif melekat: kontrak pembelian dan penjualan dalam instrumen
valuta asing

Kontrak penyediaan menyediakan pembayaran dalam mata uang selain: (a) mata uang fungsional dari pihak yang terkait dengan kontrak; (b) mata uang dimana produk secara rutin didenominasikan dalam transaksi-transaksi  perdagangan di seluruh dunia; dan (c) mata uang yang umumnya digunakan
dalam kontrak untuk membeli atau menjual item nonkeuangan di lingkungan ekonomi dimana transaksi tersebut terjadi. Adakah derivatif melekat yang harus dipisahkan berdasarkan PSAK 71?

Iya. Sebagai ilustrasi: suatu entitas di Norwegia setuju untuk menjual minyak pada suatu entitas di Perancis. Kontrak minyak tersebut didenominasi dalam Swiss Francs, sekalipun kontrak minyak secara rutin didenominasikan dalam dollar AS dalam transaksi perdagangan di seluruh dunia, dan Norwegian Krone biasanya digunakan dalam kontrak untuk membeli atau menjual item
nonkeuangan di Norwegia. Tidak satupun dari kedua entitas tersebut memiliki aktivitas yang signifikan dalam Swiss Francs. Dalam kasus ini, entitas di Norwegia memperlakukan kontrak penyediaan tersebut sebagai kontrak utama  dengan forward valuta asing melekat untuk membeli Swiss Francs. Entitas di Perancis memperlakukan kontrak penyediaan tersebut sebagai kontrak utama
dengan forward valuta asing melekat untuk menjual Swiss Francs. Setiap entitas mencakupkan perubahan nilai wajar forward mata uang tersebut dalam laba rugi, kecuali entitas pelapor menetapkan forward mata uang tersebut sebagai instrumen lindung nilai atas arus kas, jika sesuai.

C.8. Derivatif melekat valuta asing: ketentuan mengenai valuta asing yang tidak
berkaitan

 Entitas A, yang mengukur item dalam laporan keuangannya menggunakan Euro (mata uang fungsionalnya) melakukan kontrak dengan Entitas B, dimana mata uang fungsionalnya Norwegian Krone, untuk membeli minyak dalam enam bulan senilai 1.000 dollar AS. Kontrak minyak utama tidak termasuk ruang lingkup PSAK 71 karena kontrak tersebut dilakukan dan terus dimiliki dalam
rangka penyerahan item nonkeuangan sesuai dengan kebutuhan pembelian, penjualan, atau penggunaan yang diperkirakan oleh entitas (PSAK 71 paragraf 2.4 dan PPA.2) dan entitas belum menetapakan secara permanen untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi sesuai dengan PSAK 71 paragraf 2.5. Kontrak minyak tersebut mengandung ketentuan leveraged foreign exchange yang menyatakan bahwa kedua pihak, disamping menyediakan dan membayar minyak, akan mempertukarkan suatu jumlah yang setara dengan fluktuasi nilai tukar dollar AS terhadap Norwegian Krone yang diterapkan untuk jumlah nosional 100.000 dollar AS. Berdasarkan PSAK 71 paragraf 4.3.3, apakah derivatif melekat tersebut (ketentuan leveraged foreign exchange) diperlakukan sebagai berkaitan erat dengan kontrak minyak utama?

Tidak. Ketentuan leveraged foreign exchange dipisahkan dari kontrak minyak utama karena keduanya tidak saling berkaitan erat (PSAK 71 paragraf PP4.3.8(d)).

Ketentuan pembayaran dalam kontrak utama minyak sebesar 1.000 dollar AS tersebut dapat dilihat sebagai derivatif valuta asing karena dollar AS bukan merupakan mata uang fungsional Entitas A maupun Entitas B. Derivatif valuta  asing ini tidak akan dipisahkan karena PSAK 71 paragraf PP4.3.8(d) menyatakan bahwa kontrak minyak mentah yang mensyaratkan pembayaran dalam dollar AS tidak diperlakukan sebagai kontrak utama dengan derivatif valuta asing.

Ketentuan leveraged foreign exchange yang menyatakan bahwa kedua pihak akan mempertukarkan suatu jumlah yang setara dengan fluktuasi nilai tukar dollar AS terhadap Norwegian Krone yang diterapkan untuk jumlah nosional 100.000 dollar AS adalah sebagai tambahan atas pembayaran yang disyaratkan untuk transaksi minyak tersebut. Hal ini tidak berkaitan dengan kontrak utama
minyak dan oleh karena itu dipisahkan dari kontrak utama minyak dan dicatat sebagai derivatif melekat berdasarkan PSAK 71 paragraf 4.3.3.

C.9. Derivatif melekat valuta asing: mata uang dalam perdagangan internasional

PSAK 71 paragraf PP4.3.8(d) mengacu pada mata uang dimana harga barang atau jasa secara rutin didenominasikan dalam transaksi perdagangan di seluruh dunia. Dapatkah mata uang tersebut merupakan mata uang yang digunakan dalam transaksi perdagangan barang atau jasa tertentu di wilayah salah satu pihak utama (substansial) dalam kontrak?

Tidak. Mata uang dimana harga barang dan jasa secara rutin didenominasikan dalam transaksi perdagangan di seluruh dunia adalah hanya mata uang yang digunakan untuk transaksi serupa di dunia adalah mata uang yang digunakan untuk transaksi serupa di seluruh dunia, tidak hanya di satu wilayah saja. Sebagai contoh, jika transaksi lintas batas untuk gas alam di Amerika Utara secara rutin
didenominasikan dollar AS dan transaksi tersebut secara rutin didenominasikan dalam euro di Eropa, maka baik dollar AS maupun euro bukan merupakan mata uang dimana barang dan jasa secara rutin didenominasikan dalam transaksi perdagangan di seluruh dunia.

C.10. Derivatif melekat: pemilik diizinkan, tapi tidak disyaratkan, untuk menyelesaikan tanpa memperoleh kembali secara substansial seluruh investasi yang diakuinya

Jika persyaratan instrumen gabungan mengizinkan, tapi tidak mensyaratkan, pemiliknya untuk menyelesaikan kontrak gabungan dengan cara yang menyebabkan pemegangnya secara substansial tidak dapat memperoleh kembali seluruh investasi yang diakuinya dan pihak penerbit tidak memiliki hak tersebut (sebagai contoh, instrumen utang yang dapat dijual kembali), apakah kontrak tersebut memenuhi ketentuan dalam PSAK 71 paragraf PP4.3.8(a) dimana pemilik secara substansial tidak akan memperoleh kembali investasi yang diakuinya?

Tidak. Kondisi bahwa “pemilik secara substansial tidak akan memperoleh kembali seluruh investasi yang diakuinya” tidak terpenuhi jika persyaratan yang dimiliki instrumen gabungan (combined instrument) mengizinkan, tapi tidak mensyaratkan investor untuk menyelesaikan instrumen gabungan tersebut dengan cara yang menyebabkan pemegang secara substansial tidak dapat memperoleh kembali seluruh investasi yang diakuinya, dan pihak penerbit tidak memiliki hak tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, kontrak utama dengan suku bunga yang memiliki derivatif suku bunga melekat dengan persyaratan tersebut diperlakukan sebagai yang berkaitan erat dengan kontrak utama. Kondisi yang menyatakan bahwa “pemilik secara substansial tidak akan memperoleh kembali seluruh investasi yang diakuinya” diterapkan pada situasi dimana pemilik dapat dipaksa untuk menerima penyelesaian pada suatu jumlah yang menyebabkan pemilik tidak dapat secara substansial memperoleh kembali seluruh investasi yang diakuinya.

 BAGIAN D: PENGAKUAN DAN PENGHENTIAN PENGAKUAN

D.1. Pengakuan Awal

D.1.1. Pengakuan: agunan tunai

Entitas B mengalihkan kas ke Entitas A sebagai agunan untuk transaksi lainnya dengan Entitas A (contoh, transaksi peminjaman efek). Kas tersebut secara hukum tidak dapat dipisahkan dari aset Entitas A. Haruskah Entitas A mengakui agunan berbentuk kas yang diterimanya tersebut sebagai aset?

Iya. Realisasi akhir dari aset keuangan adalah konversinya menjadi kas dan, karenanya, tidak ada lagi transformasi lebih lanjut yang disyaratkan sebelum manfaat ekonomi dari kas yang dialihkan Entitas B dapat direalisasi oleh Entitas A. Oleh karena itu, Entitas A mengakui kas yang diterimanya sebagai aset dan utang pada Entitas B, sementara Entitas B menghentikan pengakuan kas tersebut dan mengakui timbulnya piutang dari Entitas A.

D.2. Pembelian atau penjualan reguler aset keuangan

D.2.1. Tanggal perdagangan vs tanggal penyelesaian: jumlah yang dicatat untuk pembelian

Bagaimana prinsip akuntansi tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian dalam PSAK 71 diterapkan pada pembelian aset keuangan?

Contoh berikut mengilustrasikan penerapan prinsip akuntansi tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian dalam Psak 71 pada pembelian aset keuangan. Pada 29 Desember 20x1, entitas berkomitmen untuk membeli aset keuangan senilai Rp1.000, yang merupakan nilai wajar pada tanggal komitmen (tanggal perdagangan). Biaya transaksi tidak material. Pada 31 Desember 20x1
(akhir tahun buku) dan pada 4 Januari 20x2 (tanggal penyelesaian), nilai wajar aset tersebut masing-masing menjadi Rp1.002 dan Rp1.003. Nilai yang dicatat untuk aset ini tergantung pada bagaimana aset tersebut diklasifikasikan dan apakah menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau tanggal penyelesaian, sebagaimana yang ditunjukkan pada dua tabel di bawah ini:































D.2.2. Tanggal perdagangan vs tanggal penyelesaian: jumlah yang dicatat untuk
penjualan

Bagaimana prinsip akuntansi tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian dalam PSAK 71 diterapkan pada penjualan aset keuangan?

Contoh berikut mengilustrasikan penerapan prinsip akuntansi tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian dalam PSAK 71 pada penjualan aset keuangan. Pada 29 Desember 20X2 (tanggal perdagangan) entitas melakukan
kontrak untuk menjual aset keuangan pada nilai wajar yang berlaku senilai Rp1.010. Aset tersebut diperoleh setahun sebelumnya dengan harga Rp1.000 dan jumlah tercatat bruto sebesar Rp1.000. Pada 31 Desember 20X2 (akhir tahun buku), nilai wajar aset tersebut adalah Rp1.012. Pada 4 Januari 20X3 (tanggal penyelesaian), nilai wajarnya adalah Rp1.013. Jumlah yang dicatat tergantung
bagaimana aset tersebut diklasifikasikan dan apakah menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau tanggal penyelesaian, sebagaimana yang ditunjukkan pada dua tabel di bawah ini (penyisihan kerugian atau pendapatan bunga atas aset keuangan diabaikan untuk tujuan contoh ini )

Perubahan nilai wajar aset keuangan yang dijual dengan cara yang reguler tidak dicatat dalam laporan keuangan antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian bahkan jika entitas menerapkan akuntansi tanggal penyelesaian karena hak penjual atas perubahan nilai wajar berakhir pada tanggal
perdagangan.







































D.2.3. Akuntansi tanggal penyelesaian: pertukaran aset keuangan nonkas

Jika entitas mengakui penjualan aset keuangan menggunakan akuntansi tanggal penyelesaian, apakah perubahan nilai wajar aset keuangan yang akan diterima sebagai pengganti aset keuangan nonkas yang dijual diakui sesuai PSAK 71 paragraf 5.7.4?

Hal ini tergantung apakah entitas menggunakan akuntansi tanggal penyelesaian atau akuntansi tanggal perdagangan. Setiap perubahan nilai wajar aset keuangan yang akan diterima akan diperlakukan sesuai PSAK 71 paragraf 5.7.4 jika entitas menerapkan akuntansi tanggal penyelesaian untuk kategori aset keuangan tersebut. Akan tetapi, jika entitas mengklasifikasikan aset keuangan yang akan diterima tersebut dengan menggunakan akuntansi tanggal perdagangan, maka 
aset tersebut harus diakui pada tanggal perdagangan sebagaimana yang dijabarkan dalam PSAK 71 paragraf PP3.1.5. Dalam kasus tersebut, entitas mengakui timbulnya liabilitas setara dengan jumlah tercatat aset keuangan yang akan diserahkan pada tanggal penyelesaian.

Sebagai ilustrasi: pada 29 Desember 20X2 (tanggal perdagangan) Entitas A melakukan kontrak untuk menjual wesel tagih (note receivable) A yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi dan memperoleh Obligasi B, yang memenuhi definisi dimiliki untuk diperdagangkan dan diukur pada nilai wajar. Kedua aset tersebut memiliki nilai wajar sebesar Rp1.010 pada 29 Desember, sementara
biaya perolehan diamortisasi Wesel Tagih A adalah Rp1.000. Entitas A menggunakan akuntansi tanggal penyelesaian untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dan akuntansi tanggal perdagangan untuk aset yang memenuhi definisi dimiliki untuk diperdagangkan. Pada 31 Desember 20X2 (akhir tahun buku), nilai wajar Wesel Tagih A adalah Rp1.012 dan nilai
wajar Obligasi B adalah Rp1.009. Pada 4 Januari 20X3, nilai wajar Wesel Tagih A adalah Rp1.013 dan nilai wajar Obligasi B adalah Rp1.007. Jurnal transaksi di atas adalah sebagai berikut:


 29 Desember 20X2

Dr Obligasi Rp1.010
 Cr Utang Rp1.010

 31 Desember 20X2

Dr Kerugian Perdagangan Rp1
 Cr Obligasi B Rp1

 4 Januari 20X3

Dr Utang Rp1.010
Dr Kerugian Perdagangan Rp2
 Cr Wesel Tagih A Rp1.000
 Cr Obligasi B Rp2
 Cr Keuntungan yang Direalisasikan Rp10


BAGIAN E: PENGUKURAN

E.1. Pengukuran awal aset keuangan dan liabilitas keuangan

E.1.1. Pengukuran awal: biaya transaksi

Biaya transaksi termasuk dalam pengukuran awal aset keuangan dan liabilitas keuangan kecuali aset keuangan dan liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi. Bagaimana persyaratan ini diterapkan dalam praktik?

Untuk aset keuangan yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, biaya transaksi ditambahkan ke nilai wajar saat pengakuan awal. Untuk liabilitas keuangan, biaya transaksi dikurangkan dari nilai wajar saat pengakuan awal.

Untuk instrumen keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi, biaya transaksi selanjutnya termasuk dalam perhitungan biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode bunga efektif dan, sehingga, diamortisasi melalui laba rugi sepanjang umur instrumen tersebut.

Untuk instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain sesuai dengan PSAK 71 paragraf 4.1.2A dan 5.7.10 atau paragraf 4.1.4 dan 5.7.5, biaya transaksi diakui dalam penghasilan komprehensif lain sebagai bagian dari perubahan nilai wajar pada penilaian kembali berikutnya. Jika aset keuangan diukur berdasarkan PSAK 71 paragraf 4.1.2A dan 5.7.10, biaya transaksi tersebut diamortisasi ke laba rugi menggunakan metode bunga efektif dan, sehingga, diamortisasi melalui laba rugi sepanjang umur instrumen tersebut.

Biaya transaksi yang diperkirakan terjadi atas transfer atau pelepasan instrumen keuangan tidak termasuk dalam pengukuran instrumen keuangan tersebut.

E.3. Keuntungan dan kerugian

E.3.2. PSAK 71 dan PSAK 10—aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain: pemisahan komponen mata uang

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain sesuai dengan PSAK 71 paragraf 4.1.2A diperlakukan sebagai item moneter. Oleh karena itu, entitas mengakui perubahan jumlah tercatat yang terkait dengan perubahan kurs valuta asing dalam laba rugi sesuai dengan PSAK 10 paragraf 23(a) dan 28 dan mengakui perubahan lain jumlah tercatat  dalam penghasilan komprehensif lain sesuai dengan PSAK 71. Bagaimana cara menentukan keuntungan atau kerugian kumulatif yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain?

Keuntungan atau kerugian kumulatif yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain merupakan selisih antara biaya perolehan diamortisasi aset keuangan2  dan nilai wajar aset keuangan dalam mata uang fungsional entitas pelapor. Untuk tujuan penerapan PSAK 10 paragraf 28, aset diperlakukan
sebagai aset yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dalam valuta asing.

Sebagai ilustrasi: pada 31 Desember 20X1 Entitas A memperoleh obligasi yang didenominasikan dalam valuta asing ($) dengan nilai wajarnya $1.000. Obligasi tersebut memiliki sisa jatuh tempo lima tahun dan jumlah par kontraktual $1.250, dengan suku bunga tetap 4,7% yang dibayarkan per tahun ($1.250 x 4,7% = $59 per tahun), serta suku bunga efektif sebesar 10%. Entitas A mengklasifikasikan obligasi sebagai yang setelah pengakuan awal diukur pada nilai wajar melalui
penghasilan komprehensif lain sesuai PSAK 71 paragraf 4.1.2A, dan dengan demikian mengakui keuntungan dan kerugian dalam penghasilan komprehensif lain. Mata uang fungsional entitas adalah mata uang lokal (Rp). Nilai tukar yang berlaku adalah $1 untuk Rp1,5 dan jumlah tercatat obligasi tersebut adalah Rp1.500 ($1.000 x 1,5).

Dr Obligasi Rp1.500
 Cr Kas Rp1.500

Pada 31 Desember 20X2, valuta asing mengalami apresiasi dan nilai tukar adalah $1 untuk Rp2. Nilai wajar obligasi adalah $1.060 sehingga jumlah tercatatnya adalah Rp2.120 (=$1.060 x 2). Biaya perolehan diamortisasi adalah $1.041 (=Rp2.082). Dalam kasus ini, keuntungan atau kerugian kumulatif yang akan diakui dalam pendapatan komprehensif lain dan terakumlasi dalam ekuitas
adalah selisih antara nilai wajar dan biaya perolehan diamortisasi pada 31 Desember 2002, yaitu Rp38 (=Rp2.120 – Rp2.082).

Bunga yang diterima atas obligasi pada 31 Desember 20X2 adalah $59 (=Rp118). Pendapatan bunga yang ditentukan sesuai dengan metode bunga efektif adalah $100 (=$1.000 x 10%). Nilai tukar rata-rata selama tahun berjalan adalah $1 untuk Rp1,75. Untuk tujuan pertanyaan ini, diasumsikan bahwa
penggunaan nilai tukar rata-rata memberikan perkiraan yang andal mengenai kurs spot yang dapat diterapkan untuk akrual pendapatan bunga selama tahun berjalan (lihat PSAK 10 paragraf 22). Dengan demikian, pendapatan bunga yang dilaporkan adalah Rp175 (=$100 x 1,75) termasuk peningkatan diskon awal sebesar Rp72 (=[$100 – $59] x 1,75). Sejalan dengan hal tersebut, perbedaan  nilai tukar pada obligasi yang diakui dalam laba rugi adalah Rp510 (=Rp2.082 – 
Rp1.500 – Rp72). Terdapat juga keuntungan selisih nilai tukar atas piutang bunga tahun berjalan sebesar Rp15 (=$59 x [2,00 – 1,75]).

Dr Obligasi Rp620
Dr Kas Rp118
 Cr Pendapatan bunga Rp175
 Cr Keuntungan selisih nilai tukar Rp525
 Cr Perubahan nilai wajar dalam pendapatan komprehensif lain Rp38

Pada 31 Desember 20X3, valuta asing mengalami apresiasi dan nilai tukar yang berlaku adalah $1 untuk Rp2,5. Nilai wajar obligasi adalah $1.070 dan dengan demikian jumlah tercatatnya adalah Rp2.675 (=$1.070 x 2,5). Biaya perolehan diamortisasi adalah $1.086 (=Rp2.715). Keuntungan atau kerugian kumulatif yang akan diakumulasi dalam penghasilan komprehensif lain merupakan selisih
antara nilai wajar dan biaya perolehan diamortisasi pada 31 Desember 20X3, yaitu negatif Rp40 (=Rp2.675 – Rp2.715). Dengan demikian, jumlah yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain setara dengan perubahan dalam selisih nilai wajar selama 20X3 sebesar Rp78 (=Rp40 + Rp38).

Bunga yang diterima atas obligasi pada 31 Desember 20X3 adalah $59 (=Rp148). Pendapatan bunga yang ditentukan sesuai dengan metode bunga efektif adalah $104 (=$1.041 x 10%). Nilai tukar rata-rata selama tahun berjalan adalah $1 untuk Rp2,25. Untuk tujuan pertanyaan ini, diasumsikan bahwa
penggunaan nilai tukar rata-rata memberikan perkiraan yang andal mengenai kurs spot yang diterapkan untuk akrual pendapatan bunga selama tahun berjalan (lihat PSAK 10 paragraf 22). Dengan demikian, pendapatan bunga yang diakui adalah Rp234 (=$104 x 2,25) termasuk peningkatan diskon awal sebesar Rp101 (= [$104 – $59] x 2,25). Sejalan dengan hal tersebut, perbedaan nilai tukar atas obligasi yang diakui dalam laba rugi adalah Rp532 (=Rp2.715 – Rp2.082 –
Rp101). Terdapat juga keuntungan selisih nilai tukar atas piutang bunga tahun berjalan sebesar Rp15 (=$59 x [2,50 – 2,25]).

2  Tujuan dari contoh ini adalah mengilustrasikan pemisahan komponen mata uang dari aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain sesuai dengan PSAK 71 paragraf 4.1.2A. Sebagai konsekuensinya, untuk penyederhanaan, contoh ini tidak mencerminkan dampak dari persyaratan penurunan nilai di PSAK 71 Bagian 5.5.

Dr Obligasi Rp555
Dr Kas Rp148
Dr Perubahan nilai wajar dalam penghasilan komprehensif lain  Rp78
 Cr Pendapatan bunga Rp234
 Cr Keuntungan selisih nilai tukar Rp574
Search Term :

Tidak ada komentar :