Model Indeks Tunggal Untuk Portofolio


Salah satu alasan dipergunakannya model indeks tunggal adalah untuk mengurangi jumlah variabel yang harus ditaksir. Model indeks tunggal akan mampu mengurangi jumlah variabel sekuritas yang perlu ditaksir karena untuk portofolio model indeks tunggal mempunyai karakteristik sebagai berikut
  1. Beta portofolio merupakan rata – rata tertimbang dari beta saham – saham yang membentuk portofolio tersebut.
  2. Risiko tidak bisa dihilangkan kalau kita membentuk portofolio yang terdiri dari sekuritas yang semakin banyak
Menaksir Beta
Penggunaan model indeks tunggal memerlukan penaksiran beta dari saham – saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. Para analis bisa saja menggunakan judgement mereka dalam menentukan beta. Kita juga bisa menggunakan data historis untuk menghitung beta waktu lalu yang dipergunakan sebagai taksiran beta dimasa yang akan datang. Karena itu sering para analis menggunakan beta historis sebelum mereka menggunakan judgement untuk memperkirakan beta di masa yang akan datang.
Beta sekuritas individual cenderung mempunyai koefisien determinasi (yaitu bentuk kuadrat dari koefisien korelasi) yang lebih rendah dari beta portofolio. Semakin besar nilai koefisien determinasi semakin akurat nilai estimade nilai beta tersebut. Beta portofolio umumnya lebih akurat dari beta sekuritas individual karena dua hal
Penggunaan model indeks tunggal memerlukan penaksiran beta dari saham – saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. Para analis bisa saja menggunakan judgement mereka dalam menentukan beta. Kita juga bisa menggunakan data historis untuk menghitung beta waktu lalu yang dipergunakan sebagai taksiran beta dimasa yang akan datang. Karena itu sering para analis menggunakan beta historis sebelum mereka menggunakan judgement untuk memperkirakan beta di masa yang akan datang.
Beta sekuritas individual cenderung mempunyai koefisien determinasi (yaitu bentuk kuadrat dari koefisien korelasi) yang lebih rendah dari beta portofolio. Semakin besar nilai koefisien determinasi semakin akurat nilai estimade nilai beta tersebut. Beta portofolio umumnya lebih akurat dari beta sekuritas individual karena dua hal yaitu:

1.      Beta mungkin berubah dari waktu ke waktu.
Ada sekuritas yang betanya berubah menjadi lebih besar, ada pula yang mengecil. Pembentukan portofolio memungkinkan perubahan tersebut menjadi saling meniadakan, atau paling tidak mengecil.

2 .Penaksiran beta selalu mengandung unsur kesalahan acak.
Pembentukan portofolio memungkinkan kesalahan tersebut diperkecil. Karena itu, semakin banyak sekuritas yang dipergunakan untuk membentuk portofolio, semakin besar nilai koefisien determinasinya.
Dengan demikian maka beta portofolio histories akan merupakan predictor beta masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan beta sekuritas individual.

Menyesuaikan Taksiran Beta Historis
Pada tahun 1971 Blume melakukan pengamatan tentang taksiran beta historis. Blume merumuskan teknik untuk menyesuaikan beta historis yaitu dengan meregresikan ke arah satu. Teknik yang ditemukan oleh Blume ini telah diuji secara empiris, dan hasilnya ternyata memang lebih baik daripada kita menggunakan beta yang tidak disesuaikan. Pengujian dilakukan terhadap kemampuan meramalkan teknik tersebut untuk tiga periode yang setiap periodenya terdiri dari lima tahun, untuk saham individual maupun portofolio yang terdiri dari sepuluh sekuritas.
Dengan demikian penggunaan beta bukan hanya mengurangi jumlah variabel yang harus ditaksir, beta yang disesuaikan juga relatif lebih akurat sebagai penaksir beta di masa yang akan datang dibandingkan dengan beta historis yang tidak disesuaikan dan juga dengan koefisien korelasi historis.
 Beta Fundamental
Penggunaan beta bukan hanya bisa memperkecil jumlah variabel yang harus ditaksir dan penggunaan data (beta) historis (setelah disesuaikan) lebih bisa diandalkan, tetapi penggunaan beta juga memungkinkan kita mengidentifikasi faktor – faktor fundamental yang juga mungkin mempengaruhi beta tersebut.  Faktor – faktor fundamental ini yang tidak bisa diidentifikasi kalau kita menggunakan matriks koefisien korelasi historis.
Beta merupakan ukuran risiko yang berasal dari hubungan antara tingkat keuntungan suatu saham dengan pasar. Risiko ini berasal dari beberapa faktor fundamental perusahaan dan faktor karakteristik pasar tentang saham perusahaan tersebut. Faktor – faktor yang diidentifikasi mempengaruhi nilai beta adalah :

Cyclicality
Faktor ini menunjukkan seberapa jauh suatu saham perusahaan dipengaruhi oleh konjungtur perekonomian. Kita tahu bahwa pada saat kondisi perekonomian membaik, semua perusahaan akan merasakan dampak positifnya. Demikian pula pada saat resesi semua perusahaan akan terkena dampak negatifnya.Yang membedakan adalah intensitasnya. Ada perusahaan yang segera membaik (memburuk) pada saat kondisi perekonomian membaik (memburuk), tetapi ada pula yang hanya sedikit terpengaruh. Perusahaan yang sangat peka terhadap perubahan kondisi ekonomi merupakan perusahaan yang mempunyai beta yang tinggi dan sebaliknya.

Operating Leverage
Operating leverage menunjukkan proporsi biaya perusahaan yang merupakan biaya tetap. Semakin besar proporsi nilai ini semakin besar operating leveragenya. Perusahaan yang mempunyai operating leverage yang tinggi akan cenderung mempunyai beta tinggi dan sebaliknya.

Financial Leverage
Perusahaan yang menggunakan hutang adalah perusahaan yang mempunyai financial leverage. Semakin besar proporsi hutang yang dipergunakan, semakin besar fianancial leveragenya. Kalau kita menaksir beta saham, maka kita menaksir beta equity. Semakin besar proporsi hutang yang dipergunakan oleh perusahaan, pemilik modal sendiri akan menanggung risiko yang semakin besar. Karena itu semakin tinggi financial leverage, semakin tinggi beta equity.
Beberapa peneliti mencoba merumuskan beberapa variabel akuntansi untuk memperkirakan beta. Variabel – variabel tersebut diantaranya :
  1. Dividen Payout
Yaitu perbandingan antara dividen per lembar saham dengan laba per lembar saham.
  1. Pertumbuhan aktiva (Perubahan aktiva per tahun).
  2. Leverage (Rasio antara hutang dengan total aktiva).
  3. Likuiditas (aktiva lancer dibagi dengan hutang lancar)
  4. Asset size (nilai kekayaan total)
  5. Variabilitas keuntungan (deviasi standar dari earning price ratio)
  6. Beta akunting, yaitu beta yang timbul dari regresi time series laba perusahaan terhadap rata – rata keuntungan semua perusahaan
Search Term :

Tidak ada komentar :